Aku tiba di apartemen menjelang siang dengan dua tas di tangan dan jantung yang berdegup seolah aku sedang datang ke tempat asing. Padahal aku hafal letak keset, bunyi lift, bahkan goresan kecil di dekat gagang pintu. Yang berbeda adalah alasan kedatanganku. Kali ini aku tidak datang untuk mengambil barang lalu pergi. Aku datang karena sudah memilih melanjutkan percakapan dengan Ethan.
Pintu terbuka sebelum aku sempat mengetuk untuk kedua kali. Ethan berdiri di sana mengenakan kaus abu-abu dan celana rumah. Matanya turun pada tas-tas yang kubawa, lalu kembali ke wajahku.
'Kau datang.'
'Aku bilang akan datang.'
'Aku tahu. Aku tetap lega melihatmu.' Ia mundur memberi ruang. 'Boleh kubantu?'
Aku menyerahkan satu tas, tetapi tetap memegang yang lain. 'Yang ini bisa kubawa sendiri.'
'Baik.' Ia tidak memaksa. 'Kau mau teh?'
'Setelah kita bicara. Aku ingin tahu dulu, kita akan mulai dari mana.'
Ethan meletakkan tasnya di dekat sofa. 'Dari hal yang paling sederhana. Kau boleh kembali ke kamar dan mengambil ruangmu lagi. Kita tidak harus memutuskan hari ini apakah kau tinggal sampai kontrak selesai atau setelahnya.'
'Aku juga tidak mau kepulanganku dianggap sebagai jawaban atas semuanya.'
'Tidak akan.' Ia mengusap tengkuk. 'Aku tahu kita sepakat mencoba lagi, tapi mencoba bukan berarti kau kehilangan hak untuk mengubah pikiran.'
Kalimat itu membuat bahuku sedikit turun. Aku menaruh tas di dekat sofa, lalu memandang dapur. Di sana, memo-memo lama kembali menempel pada lemari es. Ada aturan jam makan, daftar tugas, dan catatan kecil tentang barang yang harus dikembalikan ke tempatnya. Melihatnya membuat ingatan tentang hari aku pergi menyeruak, tetapi kali ini aku tidak merasa harus menelannya sendirian.
'Kau menempelkannya lagi?' tanyaku.
Ethan mengikuti arah pandangku. 'Iya. Saat itu aku tidak tahu harus melakukan apa dengan marah dan takutku. Aku kembali pada hal yang kukenal.'
'Daftar aturan.'
'Ya.' Ia berdiri di sampingku, menjaga jarak. 'Aku tidak ingin memo itu menjadi cara mengaturmu lagi.'
'Kalau begitu, apa yang ingin kau lakukan?'
Ethan mulai melepas memo-memo lama dari pintu kulkas. Ia menurunkan daftar jam makan, daftar tugas, dan catatan tentang barang-barang. Setiap lembar ia lipat dan sisihkan. Ketika tinggal satu memo terakhir, ia berhenti. Kertas itu terlipat di sudut, bekas ditempel dan dicabut berkali-kali. Ia membacanya sekilas, seolah baru menyadari betapa dingin bunyinya, lalu merobeknya menjadi potongan kecil. Semua aturan lama kini sudah terlepas dari kulkas.
'Aku tidak bisa membatalkan cara aku membuatmu merasa diusir,' katanya. 'Tapi aku bisa berhenti memakai kertas untuk menyampaikan sesuatu yang seharusnya kukatakan langsung.'
'Bagus. Karena aku tidak mau menebak-nebak isi kepalamu dari kulkas.'
Senyum tipis muncul di bibirnya. 'Aku juga tidak ingin kau harus menebak.'
Ia mengambil selembar kertas kosong dari laci, mencari pena, lalu menulis satu kata. Tulisan tangannya sedikit miring. Ia menempelkannya di pintu kulkas, lalu menyingkir agar aku bisa membacanya.
Pulanglah.
Aku menatap kata itu lama. 'Untuk siapa?'
'Untukmu, kalau kau memang ingin pulang. Bukan perintah. Bukan kewajiban.'
'Kalau aku berubah pikiran?'
'Pintu tetap milikmu untuk dibuka dan ditutup.'
'Aku ingin tinggal malam ini,' kataku akhirnya. 'Besok kita bicara soal barang-barang dan kontrak.'
'Baik.' Ia menahan senyum, seolah takut membuatku merasa sedang ditagih untuk bahagia. 'Aku akan bantu memindahkan tasmu ke kamar?'
'Boleh. Tapi jangan menyentuh barang di dalamnya.'
'Dimengerti.'
Kami membawa tas ke kamarku. Tidak ada pelukan dramatis atau ucapan bahwa semuanya kembali seperti dahulu. Ethan menaruh tas di lantai, lalu menunggu sampai aku memberi izin sebelum membukakan pintu lemari yang sedikit tersangkut. Aku mengeluarkan pakaian satu per satu dan menggantungnya sendiri. Ia berdiri di ambang pintu, sesekali bertanya apakah aku ingin ia mengambil sesuatu.
Saat selesai, ia menunjuk meja kecil di sudut. 'Aku membersihkan tempat itu. Kalau kau ingin menulis di sini, mejanya kosong.'
'Terima kasih. Tapi aku belum tahu apakah aku bisa menulis di apartemen ini lagi.'
'Kau tidak harus memutuskan sekarang.'
Aku memandangnya. 'Kita sedang belajar mengulang kalimat itu, ya?'
'Sepertinya kita memang perlu banyak latihan.'
Sore itu kami duduk di ruang tengah dengan teh yang mulai dingin. Kami membicarakan hal-hal praktis: kunci cadangan, waktu bekerja, dan ruang yang kubutuhkan ketika menulis. Ethan tidak meminta aku menghapus naskah atau menjanjikan bahwa semua akan terasa mudah. Aku pun tidak meminta ia melupakan lukanya hanya karena sudah mendengar penjelasanku.
Sebelum makan malam, aku membuka kulkas untuk mencari susu. Memo baru itu masih menempel lurus, tidak dihiasi tanggal atau tanda tangan. Aku menyentuh sudut kertasnya. 'Kalau suatu saat kata itu terasa terlalu berat, aku ingin kau bilang,' ujar Ethan dari belakangku, tetap menjaga jarak. 'Aku bisa bilang. Tapi kau juga harus menerima kalau aku pulang ke kamarku dan menutup pintu.'
'Tentu.'
'Dan kalau kau ingin bicara, ketuk dulu.'
'Aku akan mengetuk.' Aku menutup kulkas. 'Bagus. Kita baru saja menyepakati aturan tanpa menulisnya di memo.'
'Kesepakatan yang bisa berubah ketika salah satu dari kita membutuhkannya.' Aku menoleh. 'Itulah bedanya.' Kami makan sup sederhana yang ia siapkan. Ethan bertanya apakah aku ingin ia duduk di seberang atau di sampingku. Aku memilih seberang, sebab aku ingin melihat wajahnya ketika berbicara. Ia tidak menafsirkan pilihanku sebagai jarak atau penolakan. Kami membicarakan barang yang tertinggal di rumah Ningning, jadwal kerja, dan ruang yang kubutuhkan untuk menulis. 'Kalau kau perlu mengambil barang lain, aku bisa mengantar,' katanya. 'Aku bisa mengurusnya sendiri. Tapi mungkin nanti aku akan meminta bantuan.'
'Baik. Kau yang menentukan.' Setelah makan, aku mencuci mangkukku sendiri. Ia tidak mengambilnya dari tanganku, dan aku tidak merasa harus membereskan semuanya. Kami membagi tugas secara alami. Hal sederhana itu membuat malam pertamaku kembali terasa bukan seperti sidang untuk membuktikan siapa yang berubah lebih banyak.
**
Saat hendak masuk kamar, aku berhenti sebentar di dapur untuk mengambil air. Ethan sedang merapikan cangkir teh di dapur. 'Besok kita perlu membicarakan kontrak,' kataku. 'Setuju. Kita bisa membahasnya saat kau siap.'
'Kalau terasa berat, kita boleh berhenti.'
'Tentu. Kita tidak harus menyelesaikan semuanya dalam satu percakapan.' Aku mengisi gelas. 'Baik. Itu awal yang cukup.' Dari lorong kulihat satu kata masih menempel di kulkas: pulanglah. Kali ini kata itu terasa seperti undangan yang bisa kuterima atau kutolak. Aku memilih berada di sini malam ini, dan esok tetap bisa membuat pilihanku sendiri.
Ketika ia mengantarku ke kamar, ia berhenti di ambang pintu.
'Selamat datang kembali, Shopia.'
'Aku kembali untuk mencoba,' jawabku. 'Jangan ubah itu menjadi janji yang lebih besar.'
'Aku tidak akan.'
Malamnya, sebelum menutup pintu kamar, aku melihat memo itu dari lorong. Satu kata kecil menempel di kulkas, tetapi untuk pertama kalinya kata itu tidak terasa seperti tuntutan. Aku kembali bukan karena tak punya tempat lain. Aku memilih berada di sini, dan besok pilihanku tetap bisa kubicarakan.