Pagi berikutnya, Ethan mengirim pesan bahwa ia ingin bertemu setelah toko tutup. Ia bertanya apakah aku bersedia datang ke apartemen. Aku membaca pesannya berulang kali sebelum membalas iya.
Ningning melihatku meletakkan ponsel. 'Dia mau bicara?'
'Iya. Katanya ingin menjelaskan tentang mantan istrinya.'
'Kau siap mendengar?'
'Aku tidak tahu. Tapi aku akan mencoba tanpa menganggap diriku harus memperbaiki semuanya.'
Ningning mengangguk. 'Itu batas yang bagus.'
Sepanjang hari aku mengerjakan revisi kecil dari naskah yang sudah kukirim. Emily membalas bahwa ia akan memberi komentar setelah membaca beberapa bab. Aku berterima kasih dan berusaha fokus. Bagian akhir masih kosong, tetapi kini aku merasa bisa menunggu sampai ada percakapan yang jujur.
Malamnya, aku pergi ke apartemen. Ethan membuka pintu. Memo-memo lama masih menempel di kulkas. Ia melihatku meliriknya.
'Aku belum siap melepasnya lagi,' katanya. 'Tapi aku tahu kertas-kertas itu bukan jawaban.'
'Kita tidak harus memutuskan soal memo malam ini.'
Ia mengangguk dan mengajakku duduk di ruang tengah. Kami tidak langsung bicara. Ia mengambil napas beberapa kali sebelum akhirnya mulai.
**
'Di balkon kompetisi aku sudah bilang mantan istriku pergi karena aku memilih toko dan aturanku,' katanya. 'Aku bilang semua itu untuk masa depan kami, tapi aku terus membuatnya menunggu. Kalau dia ingin makan malam, aku masih mengurus pesanan. Kalau dia ingin membicarakan sesuatu, aku bilang nanti setelah jadwal selesai. Nanti itu terus mundur.'
Aku mendengarkan tanpa menyela.
'Aku membuat daftar untuk semua hal,' lanjutnya. 'Aku pikir kalau semuanya teratur, kami akan aman. Tapi dia bilang ia merasa sendirian meskipun tinggal bersamaku. Aku tidak tahu bagaimana menjawabnya. Aku langsung menjelaskan berapa banyak yang sudah kukorbankan untuk toko, seolah itu membuktikan aku mencintainya.'
'Tapi dia membutuhkan kehadiranmu, bukan daftar pengorbananmu,' kataku.
'Iya. Aku baru memahaminya setelah ia pergi. Aku tidak menyalahkannya. Aku yang membuatnya merasa tidak punya tempat di hidupku.'
Ia memandang tangannya. 'Setelah itu aku membuat aturan lebih ketat. Aku bilang pada diriku sendiri bahwa aku hanya perlu menghindari kesalahan yang sama. Tapi sebenarnya aku menghindari kedekatan.'
Aku merasa iba, tetapi tidak ingin menghapus tanggung jawabnya atau mengambil peran sebagai penyelamat.
'Aku mengerti sekarang kenapa kau takut,' kataku. 'Tapi aku bukan dia, dan aku juga bukan obat untuk rasa bersalahmu.'
'Aku tahu. Aku tidak ingin menjadikanmu penawar. Aku hanya ingin jujur bahwa aku takut kehilanganmu sebelum sempat belajar melakukan ini dengan benar.'
Aku menahan napas. 'Kau takut kehilangan aku?'
'Iya. Ketika kau pergi, aku ingin memanggilmu kembali. Tapi aku tahu aku tidak bisa memintamu tinggal hanya karena aku takut sendirian.'
'Aku masih menyukaimu,' kataku. 'Tapi aku perlu tahu kita bisa membicarakan masalah tanpa memakai kontrak atau diam sebagai hukuman.'
'Aku setuju. Aku minta maaf sudah mengatakan kau boleh pergi dengan cara yang dingin. Aku memang butuh ruang, tapi aku seharusnya menyampaikan itu tanpa membuatmu merasa dibuang.'
Ia melihat tanganku di atas meja. 'Dan soal laptop, halaman pertama memang terlihat ketika aku hendak menutupnya. Tetapi aku terus membaca beberapa bagian sesudah menyadari itu tulisanmu. Aku seharusnya berhenti atau membangunkanmu, bukan meneruskan lalu menuntut penjelasan.'
'Aku meninggalkan layar terbuka, tetapi aku tidak mengizinkanmu membaca seluruh yang terlihat di situ,' kataku.
'Aku mengerti sekarang. Aku minta maaf.'
Aku mengangguk. Aku akan menjaga dokumenku lebih baik, tetapi kali ini ia juga mengakui bagiannya. Aku tidak perlu menghapus pekerjaanku untuk mendapatkan kembali hak atas ruang pribadi.
Aku bertanya mengapa ia memilih menceritakan semuanya sekarang.
'Karena saat kau pergi, aku sadar aku sedang mengulang hal yang sama,' katanya. 'Aku terlalu sibuk melindungi diriku dari rasa sakit sampai membuat orang yang kusayangi merasa tidak punya tempat di hidupku. Aku tidak mau mengulanginya denganmu.'
'Kau tidak bisa menjamin tidak akan pernah takut lagi,' kataku. 'Tapi kau bisa bicara denganku saat rasa takut itu muncul.'
'Aku akan berusaha. Dan aku ingin mendengar ketakutanmu juga, bukan baru mengetahuinya ketika kau sudah pergi.'
Aku mengangguk. 'Aku seharusnya memberitahumu tentang naskah sebelum kau menemukannya. Aku tidak bermaksud menyembunyikanmu, tapi aku tetap membuatmu merasa tidak punya pilihan untuk tahu.'
'Aku paham sekarang bahwa kau tidak menulisnya untuk mempermainkanku. Aku masih perlu waktu untuk benar-benar nyaman, tapi aku tidak ingin membuang apa yang kita punya hanya karena aku terluka.'
'Aku juga tidak ingin kehilangan hubungan ini. Tapi aku ingin kita melangkah karena memilih, bukan karena takut tinggal sendirian.'
'Itu yang kuinginkan juga. Aku tidak akan meminta jawaban malam ini. Aku hanya ingin jujur bahwa aku ingin mencoba, kalau kau juga bersedia.'
'Aku bersedia mencoba. Pelan-pelan, dan tetap bicara meski percakapannya tidak nyaman.'
Ia mengangguk. 'Setuju. Kita tidak perlu menyelesaikan semuanya dalam satu malam.'
**
Aku mengulurkan tangan di atas meja, tetapi berhenti sebelum menyentuhnya. Ethan melihat gerakanku dan bertanya, 'Boleh aku menggenggam tanganmu?'
Aku mengangguk. Ia menggenggam tanganku dengan lembut.
'Menceritakan semua ini belum berarti aku selalu bisa melakukannya dengan benar,' katanya. 'Tapi aku ingin mencoba membangun sesuatu denganmu. Tanpa aturan untuk mengendalikan perasaanmu.'
'Aku juga ingin mencoba. Tapi kita harus bergerak pelan dan jujur.'
'Setuju.'
Kami duduk beberapa lama. Tidak ada ciuman yang tergesa, tidak ada janji besar. Hanya tangan yang saling menggenggam dan pengakuan yang terlambat, tetapi akhirnya disampaikan.
Ethan bertanya apakah aku mau kembali ke apartemen esok hari untuk mengambil barang-barangku dan membicarakan apa yang akan terjadi setelah kontrak. Ia tidak memintaku kembali malam ini.
'Aku mau datang besok,' jawabku. 'Tapi aku ingin keputusan soal tempat tinggal dibicarakan terpisah dari rasa takut kita.'
'Kita bicarakan dengan jujur.'
Aku pamit setelah itu. Di depan pintu, Ethan berkata ia senang aku datang. Aku membalas bahwa aku senang ia mau bercerita. Perjalanan pulang terasa lebih ringan. Kami belum menyelesaikan semuanya, tapi rasa takut yang selama ini tersembunyi kini punya nama dan bisa dibicarakan.
Di rumah Ningning, aku memberi tahu bahwa Ethan sudah menjelaskan masa lalunya dan kami sepakat mencoba lagi perlahan. Ningning memelukku. Aku tidak menyebutnya akhir yang bahagia. Itu baru awal dari percakapan yang seharusnya terjadi sejak lama.
Ningning bertanya apakah aku akan kembali ke apartemen besok.
'Iya. Kami sepakat membicarakan tempat tinggal dan langkah berikutnya. Aku belum tahu apakah akan membawa semua barang.'
'Kau tidak harus memutuskan sebelum bicara dengannya.'
'Aku tahu. Aku ingin kembali karena memilih untuk melanjutkan percakapan, bukan karena takut kehilangan tempat tinggal.'
Ningning memelukku sekali lagi. 'Kalau begitu, lakukan pelan-pelan.'
Aku mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan apartemen, kata pulang tidak hanya berarti alamat. Itu berarti kesempatan untuk berbicara dengan jujur, sambil tetap menjaga pilihanku sendiri.