Malam berikutnya, setelah toko tutup, aku kembali ke Cross & Co. Ethan menungguku di meja belakang. Kemarin aku telah membacakan bagian tentang memo; malam ini kami sepakat melanjutkan percakapan.
Halaman yang kubuka berisi adegan sederhana: tokoh perempuan duduk di dapur, melihat tokoh pria tertawa untuk pertama kalinya, lalu menyadari ia ingin mendengar suara itu lagi. Aku membacanya dengan suara pelan. Tidak ada nama Ethan, tetapi setiap detail perasaan itu milikku.
Saat selesai, aku tidak langsung mengangkat wajah.
'Aku tidak menulis bagian itu untuk menjebakmu,' kataku. 'Aku menulisnya karena memang begitu perasaanku. Aku menyukaimu.'
Ethan diam. Toko terasa sunyi. Dari luar terdengar kendaraan melintas, lalu suara itu menghilang.
'Jadi tokoh perempuan itu adalah kau?' tanyanya.
'Sebagian dirinya. Aku mengubah banyak hal, tapi perasaan itu nyata.'
'Dan tokoh pria itu aku?'
Aku menatapnya. 'Ia mengambil beberapa hal darimu. Tapi ia bukan salinanmu. Aku ingin dia memiliki pilihan sendiri, termasuk kesalahan yang bukan milikmu.'
Ethan mengusap tepi cangkir. 'Aku melihat adegan memo dan merasa semua yang pernah terjadi di rumah ini sudah menjadi bahan. Aku takut kalau aku mengatakan sesuatu, kau akan menyimpannya untuk naskah berikutnya.'
'Aku mengerti kenapa kau takut. Aku seharusnya menjelaskan batasnya sebelum kau menemukannya sendiri. Aku tidak akan menulis hal-hal yang kau ceritakan dengan susah payah sebagai rahasia tanpa persetujuanmu.'
'Aku tidak tahu apakah itu cukup untuk membuatku tenang sekarang.'
'Aku tidak meminta kau langsung merasa tenang. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku tidak mempermainkanmu.'
**
Aku membacakan satu bagian lagi tentang tokoh perempuan yang takut ditinggalkan, tetapi memilih tidak memohon agar seseorang tinggal. Aku berhenti di tengah halaman.
'Kenapa berhenti?' tanya Ethan.
'Karena aku tidak ingin menjadikan malam ini seperti pembacaan penuh. Aku datang untuk jujur, bukan memaksamu menyelesaikan naskahku.'
Ia mengangguk. 'Terima kasih.'
Aku menutup berkas. 'Aku minta maaf karena tidak memberitahumu lebih awal. Aku juga minta maaf karena membuatmu merasa hidupmu bukan milikmu sendiri.'
'Aku perlu waktu untuk percaya bahwa kau bisa memisahkan inspirasi dari hal pribadi. Tapi sekarang aku mengerti bahwa perasaanmu bukan bagian yang kau karang.'
Mataku terasa panas. 'Iya. Perasaanku nyata. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kita, tapi aku tidak mau berbohong tentang itu.'
Ethan menatapku. Ada kelembutan di sana, tetapi juga sesuatu yang tertahan. 'Aku juga punya hal yang perlu kuceritakan. Tentang rasa takut yang belum selesai kujelaskan di balkon kompetisi. Kau sudah tahu mengapa pernikahanku berakhir, tetapi aku perlu bicara tentang tindakanku sekarang.'
'Kau tidak perlu menceritakannya malam ini kalau belum siap.'
'Aku ingin mencoba. Tapi bukan di toko. Bisa kita bicara besok?'
Aku mengangguk. 'Bisa.'
Ethan bangkit untuk mengambil air sebelum kami meneruskan percakapan. Aku belum memasukkan naskah ke tas. Ia meletakkan gelas di dekat tanganku, kemudian kembali duduk. Aku mengatakan ingin menunjukkan satu bagian lain agar perbedaan antara peristiwa dan perasaan tidak hanya menjadi penjelasan lisan. Ethan mengangguk, dan aku mencari penanda pada halaman berikutnya.
Aku membuka halaman lain, kali ini bagian ketika tokoh perempuan menyadari bahwa ia lebih memperhatikan suara langkah tokoh pria daripada yang seharusnya. Aku membacanya tanpa menyebut bahwa adegan itu terinspirasi dari malam-malam di apartemen.
'Bagian ini bukan kejadian yang sama persis,' kataku. 'Aku meminjam perasaan menunggu seseorang pulang, bukan sebuah percakapan atau rahasia tertentu.'
Ethan mengusap dagunya. 'Aku mengerti perbedaannya secara logika. Aku hanya masih merasa aneh melihatnya tertulis.'
'Kau boleh merasa aneh. Aku tidak akan bilang kau salah.'
'Dan kau tetap ingin menulisnya?'
'Iya. Tapi aku bisa mengubah detail kalau ada bagian yang terlalu dekat dan membuatmu merasa terekspos. Aku ingin membicarakan batas itu, bukan menebaknya sendiri.'
Ia mengangguk kecil. Untuk beberapa menit kami membahas kalimat mana yang terasa terlalu mirip dan mana yang sudah sepenuhnya berubah menjadi fiksi. Aku tidak menghapus apa pun malam itu. Kami hanya menandai halaman untuk dibicarakan lagi setelah ia punya waktu.
Di bagian bawah halaman, tokoh perempuan berkata bahwa ia tidak mengharapkan jawaban, hanya ingin perasaannya diketahui. Aku berhenti sebelum membacakan dialog itu.
'Bagian itu yang paling sulit?' tanya Ethan.
'Iya. Karena itu paling jujur.'
'Kau boleh membacakannya kalau mau.'
Aku menggeleng pelan. 'Aku ingin mengatakannya dengan kata-kataku sendiri.'
Aku menutup naskah. 'Aku menyukaimu, Ethan. Itu bukan sesuatu yang kutulis supaya tokohku punya motivasi. Aku menyukaimu saat kau tertawa, saat kau membantuku tanpa membuatku merasa berutang, dan bahkan saat kau membuat aturan yang terlalu rinci. Tapi aku tetap butuh hubungan yang memberi ruang untuk diriku.'
Ia menatapku lama. 'Aku mendengar itu.'
'Kau tidak perlu menjawab malam ini.'
'Aku ingin meneruskan cerita yang sudah kusebut tadi, tentang kenapa aku begitu takut saat kau pergi. Tapi aku perlu malam ini untuk mengumpulkan keberanian.'
Aku mengangguk. 'Kita bisa bicara besok.'
Aku memasukkan naskah ke tas. Ethan mengantarku ke pintu, lalu berhenti. 'Terima kasih sudah tidak memaksaku membaca semuanya.'
'Terima kasih sudah mendengarkan bagian yang kubagikan.'
**
Perjalanan pulang terasa lebih sepi daripada saat aku datang. Aku membawa naskah di dalam tas dan memikirkan bagaimana rasanya membacakan kalimat-kalimat yang selama ini kusimpan. Aku belum mengatakan seluruh isi hatiku, tetapi Ethan sudah tahu tokoh itu mengambil beberapa sifatnya dan bahwa perasaanku bukan karangan.
Ningning menungguku di ruang tengah. 'Bagaimana?'
'Dia bersedia mendengarkan. Aku membacakan beberapa bagian, lalu dia bilang ada sesuatu tentang masa lalunya yang ingin diceritakan.'
'Kau merasa siap mendengar?'
'Aku akan mencoba. Tapi aku tidak bisa menyelesaikan semua lukanya untuk dia.'
'Bagus. Dengarkan sebagai Shopia, bukan sebagai tokoh yang harus menyelamatkannya.'
Aku mengangguk. Jayden muncul dari dapur dan menyodorkan air. Ia tidak bertanya tentang detail percakapan, hanya memastikan aku sudah makan. Aku berterima kasih dan duduk bersama mereka sebentar.
Sebelum tidur, aku mengirim pesan singkat kepada Ethan untuk mengonfirmasi bahwa aku bersedia bicara besok setelah toko tutup. Ia membalas, 'Terima kasih. Aku akan menunggu.' Aku meletakkan ponsel dan memejamkan mata. Ada rasa takut, tetapi juga rasa hormat karena ia memilih menceritakan sesuatu yang selama ini ia simpan.