Malam itu, aku tiba di Cross & Co. beberapa menit sebelum toko tutup. Aku tidak langsung masuk. Dari jendela, aku melihat Ethan membersihkan meja dan mematikan lampu depan. Daren keluar lebih dulu, mengunci pintu samping, lalu melihatku berdiri di trotoar.
'Kau datang,' katanya.
'Aku ingin bertanya langsung apakah Ethan bersedia bicara.'
Daren mengangguk dan mengetuk pintu. Ethan muncul beberapa saat kemudian. Wajahnya terlihat terkejut, tetapi ia tidak menyuruhku pergi.
'Shopia ingin bicara,' kata Daren. 'Aku akan pulang.'
Ethan melirikku. 'Kau mau masuk?'
'Kalau kau bersedia. Kalau tidak, aku bisa pergi.'
Ia membuka pintu lebih lebar. 'Masuklah.'
Aku melangkah ke dalam. Bau roti yang baru matang memenuhi toko. Aku tidak tahu harus mulai dari mana.
'Aku ingin menjelaskan naskahku,' kataku. 'Tapi aku tidak akan membacakan apa pun kalau kau tidak nyaman.'
'Aku belum tahu apakah aku nyaman. Aku mau mendengar dulu.'
Aku mengeluarkan salinan naskah dari tas dan meletakkannya di meja, tidak mendorongnya ke arah Ethan.
'Aku memang terinspirasi dari beberapa kebiasaanmu,' kataku. 'Memo, caramu mengatur rumah, dan beberapa perasaan yang muncul selama kita tinggal bersama. Tapi tokoh itu punya cerita dan pilihan sendiri. Aku tidak menyalin rahasiamu atau percakapan pribadi kita.'
Ethan tidak menyentuh naskah. 'Kenapa kau tidak bilang dari awal?'
'Aku takut kau akan mengira semua yang kulakukan hanya untuk bahan tulisan. Aku juga takut membagikan draf yang belum selesai. Itu bukan alasan yang baik. Aku seharusnya bicara lebih awal.'
**
Kami pindah ke meja kecil di belakang toko. Ethan membuat teh, tetapi tidak meminumnya. Aku mengeluarkan halaman yang sudah kuberi tanda dan menunjukkan jumlah bagian yang kupilih, belum membacakan isinya. Aku tidak ingin membuktikan bahwa ia salah merasa terganggu. Aku ingin menunjukkan bahwa aku mendengar kekhawatirannya.
'Apa kau mau membaca beberapa bagian?' tanyaku.
Ia menatapku. 'Kau bersedia membacakannya?'
'Iya. Kalau kau siap.'
'Bacakan.'
Aku membuka naskah pada bab awal. Tanganku sedikit gemetar. Sebelum mulai membaca, aku menjelaskan pilihan tokoh yang ingin kutunjukkan. Tokoh pria itu memang menyerupai Ethan: ia membuat aturan untuk menjaga rumah tetap teratur, menghindari percakapan sulit, dan menyembunyikan rasa takut di balik sikap tenang. Aku berhenti sebelum bagian yang terlalu dekat dengan kejadian pribadi.
Ethan mendengarkan tanpa memotong. Saat penjelasanku selesai, ia bertanya, 'Kau benar-benar melihatku seperti itu?'
'Aku melihat sebagian dirimu seperti itu. Tapi aku juga melihat kebaikanmu, humor keringmu, dan caramu memperhatikan orang tanpa membuatnya merasa berutang. Tokoh itu bukan keseluruhan dirimu.'
Aku menahan halaman agar tidak terbalik sebelum sempat kubaca. 'Ada bagian lain yang ingin kubacakan, tapi aku ingin tahu dulu apakah kau masih bersedia mendengar.'
Ethan memandang naskah itu lama. 'Aku bersedia. Tapi aku mungkin akan berhenti kalau terlalu berat.'
'Tentu.'
Aku mengambil napas. Bagian berikutnya berisi adegan ketika tokoh perempuan menyadari ia mulai menyukai pria yang tinggal bersamanya. Aku belum tahu apakah sanggup membacanya. Ethan menunggu, tidak mendesak. Aku menyelipkan penanda pada halaman itu, lalu kembali ke bagian memo yang perlu kami bicarakan lebih dahulu.
**
Aku menggeser naskah lebih dekat dan membuka halaman yang akan kubaca. Ethan tetap di seberang, menjaga jarak. Aku memilih bagian yang menjelaskan tokoh pria lewat tindakan, bukan lewat penjelasan panjang. Aku membaca tentang memo di kulkas, lalu tokoh itu berusaha menulis aturan baru untuk menghindari kesalahan. Beberapa orang mungkin melihatnya sebagai sikap kaku, tetapi tokoh perempuan mulai memahami bahwa ia takut pada kekacauan yang pernah menyakitinya.
Aku berhenti di akhir paragraf.
'Aku tidak bermaksud membuatnya tampak buruk,' kataku.
'Aku tidak menganggapnya buruk. Aku hanya tidak tahu kau memperhatikan semua hal itu.'
'Aku memperhatikan banyak hal. Tapi itu tidak berarti aku memakai semuanya. Aku juga mengubah kejadian, supaya tokohnya punya hidup yang berbeda.'
Ethan melihat halaman yang kubuka. 'Kau mengubah namanya, tapi apakah orang yang mengenal kita akan tahu?'
'Tidak ada nama atau tempat yang sama. Tapi aku paham kenapa kau khawatir. Aku seharusnya membicarakannya sebelum membagikan naskah ke penerbit.'
'Emily tahu tokohnya terinspirasi dari seseorang?'
'Aku tidak pernah menyebut namamu. Aku juga belum mengirim bagian yang paling dekat dengan perasaanku sampai naskah utama.'
Ia menyandarkan punggung. 'Aku tidak ingin menghalangimu menulis. Aku hanya ingin tahu apakah hal yang kuucapkan padamu akan tetap menjadi milik kita.'
'Aku bisa berjanji tidak menulis rahasia pribadi atau percakapan sensitifmu tanpa izin. Tapi aku tidak bisa berjanji tidak akan pernah terinspirasi dari orang yang kukenal. Aku ingin jujur tentang itu.'
Ethan menunduk. 'Itu jawaban yang lebih jujur daripada yang kuharapkan.'
Aku merasa lega karena ia tidak meminta janji yang tidak bisa kutepati. Aku juga menyadari bahwa ia belum siap memaafkan atau membaca lebih banyak. Aku bertanya lagi apakah ia ingin berhenti. Ia menjawab belum, lalu memintaku melanjutkan.
**
Setelah membacakan bagian memo yang kutandai, aku menjelaskan lebih jauh bagaimana aku memilih detail. Aku mengamati kebiasaan seseorang, lalu mengubahnya agar tokoh tidak menjadi salinan. Aku juga menjelaskan bahwa naskah itu tidak menyebut Cross & Co., apartemen, atau nama asli Ethan.
'Kau sudah mengirimnya ke Emily?' tanyanya.
'Iya. Dia tahu bab penutup masih kosong.'
Ethan mengerutkan dahi. 'Bagian akhirnya belum selesai?'
'Aku tidak bisa menulis akhir yang jujur karena tokoh perempuannya masih menghadapi perasaannya. Aku tidak ingin menulis bahwa semuanya beres sebelum ia tahu apa yang ia inginkan.'
'Apa itu juga tentang kita?'
Aku berhenti sejenak. 'Sebagian. Tapi bukan berarti naskah itu menentukan apa yang harus terjadi pada kita.'
Ia menerima jawabanku tanpa meminta rincian. Aku merasa lega karena kami bisa membahas batas tulisan tanpa langsung mengubahnya menjadi keputusan tentang hubungan.
Aku menunjuk satu bagian lain yang sudah kuganti. Sebelumnya tokoh pria melakukan sesuatu yang mirip dengan tindakan Ethan di rumah; kini aku mengubah situasinya menjadi keputusan yang ia ambil di tempat kerja. Aku tidak menghapus sifat baik atau buruknya, tetapi memberinya alasan dan konsekuensi yang berbeda.
'Aku tidak akan meminta kau mengubah semua yang sudah ditulis,' katanya. 'Aku hanya ingin tahu bahwa aku tidak sedang dibicarakan diam-diam sebagai orang nyata.'
'Aku mendengar itu. Aku bisa memberi tahu jika ada bagian baru yang dekat dengan pengalaman kita, dan aku tidak akan memakai cerita pribadimu tanpa persetujuan.'
Ia menatapku. 'Aku belum tahu apakah aku bisa langsung mempercayai janji itu.'
'Aku tidak mengharapkan kepercayaan kembali dalam satu malam.'
Ethan mendorong cangkirnya sedikit. 'Aku ingin mendengar bagian berikutnya, tapi hari ini panjang. Bisa kita lanjutkan besok setelah toko tutup?'
'Bisa,' jawabku. 'Aku akan datang lagi.'