Pagi berikutnya, aku membaca catatan yang kutulis malam sebelumnya. Kalimat-kalimat itu tampak terlalu rapi, seperti pernyataan yang sudah dihafalkan. Aku merobek halaman tersebut dan menulis ulang dengan bahasa yang lebih sederhana.
Ningning menemukan aku di meja makan.
'Kau mau menemui Ethan?' tanyanya.
'Aku ingin bicara. Tapi aku masih takut kalau dia menyuruhku pergi lagi.'
'Kau bisa bertanya dulu apakah dia bersedia bicara. Kalau tidak, kau pulang.'
'Aku tahu. Aku hanya tidak ingin datang seolah-olah aku membawa tuntutan.'
'Kalau begitu, jangan bawa tuntutan. Bawa kebenaranmu.'
Aku menyimpan catatan ke dalam tas, meski aku tidak yakin akan membacanya. Aku ingin bicara langsung, bukan membacakan pidato.
Siang hari aku pergi ke kampus. Di antara kelas, aku mencoba fokus dan mencatat materi. Ponselku tetap diam. Aku tidak tahu apakah Ethan sudah membaca pesanku tentang naskah. Aku memutuskan tidak memeriksa berulang-ulang.
**
Setelah kelas, aku duduk di perpustakaan kampus dan membuka naskah cetak. Aku menandai bagian yang ingin kubacakan, tetapi tidak membawa semua halaman yang sudah selesai. Aku memilih dua kutipan pendek: satu tentang kebiasaan tokoh pria menempelkan memo, satu lagi tentang perasaan tokoh perempuan yang tumbuh diam-diam.
Aku membaca keduanya dan menanyakan pada diriku apakah ada percakapan yang terlalu pribadi. Dialognya sudah kuubah, begitu juga peristiwanya. Namun, motif emosinya masih dekat dengan hidup kami. Aku membuat catatan di pinggir halaman bahwa bagian itu fiksi, bukan rekaman kejadian.
Ningning mengirim pesan menanyakan apakah aku sudah memutuskan. Aku menjawab bahwa aku akan pergi setelah toko tutup, tetapi hanya jika Ethan bersedia mendengarkan. Ia mengirimkan emoji jempol dan mengingatkanku untuk pulang bersama Daren jika malam terlalu larut.
Di luar perpustakaan, aku bertemu Jayden yang baru selesai dari kelasnya. Ia melihat map di tanganku.
'Kau akan bicara dengan Ethan?' tanyanya.
'Iya. Aku ingin menjelaskan naskahku.'
'Bagus. Tapi jangan bawa semua beban sendirian. Dia juga harus menjelaskan kenapa langsung menyuruhmu pergi.'
Aku terdiam. Aku terlalu fokus meminta maaf sampai lupa bahwa ada bagian dari ucapan Ethan yang juga menyakitiku. 'Aku akan membicarakan itu kalau suasananya memungkinkan.'
'Kau tidak perlu menyembunyikan rasa sakitmu supaya dia nyaman.'
Aku berterima kasih. Jayden tidak mencoba mengarahkan pertemuan itu. Ia hanya mengingatkan bahwa hubungan sehat membutuhkan dua orang yang jujur, bukan satu orang yang terus membuktikan dirinya.
**
Sore hari, aku berjalan melewati Cross & Co. dalam perjalanan pulang. Lampu toko menyala dan dari jendela kulihat Ethan sedang mengatur roti di rak. Aku berhenti sebentar di seberang jalan. Aku bisa masuk dan berbicara sekarang, tetapi ada pelanggan di dalam. Aku tidak ingin menjadikan mereka penonton percakapan kami.
Aku mengirim pesan singkat kepada Daren: 'Apa Ethan tahu aku mungkin datang setelah toko tutup?'
Daren menjawab, 'Aku bilang kau ingin bicara, tapi dia belum memberi jawaban. Kalau kau datang, tanyakan langsung.'
Aku menyimpan ponsel. Aku tidak akan datang sebagai kejutan. Aku menunggu sampai toko tutup, dan jika Ethan tidak bersedia, aku akan menghormatinya.
Malamnya aku makan bersama Ningning dan Jayden. Mereka bertanya bagaimana hariku. Aku menceritakan bahwa aku mungkin akan pergi ke Cross & Co. setelah tutup.
'Kau yakin?' tanya Jayden.
'Tidak sepenuhnya. Tapi aku tidak mau terus menulis surat yang tidak kukirim.'
Ningning tersenyum. 'Pergilah kalau kau merasa siap. Ingat, kau boleh berhenti kapan saja.'
Aku mengangguk. Aku tidak berjanji akan membaca seluruh naskah. Aku hanya ingin memberi Ethan kesempatan memahami maksudku dan meminta izin sebelum membagikan tulisan.
Sesudah makan, aku mengganti baju dan memasukkan catatan ke tas. Aku juga mengambil naskah cetak yang sempat kusiapkan untuk koreksi. Bab terakhirnya masih kosong. Aku tidak tahu apakah akan membawanya masuk, tetapi aku memutuskan menyertakannya agar Ethan bisa melihat bahwa aku tidak menyembunyikan bagian yang belum selesai.
**
Aku memeriksa tas kecil yang sudah kusiapkan dan memastikan naskahnya tidak terlipat. Aku tidak membawa semua barang dari rumah Ningning. Aku hanya akan pergi ke toko, berbicara, lalu kembali. Kalau Ethan belum siap, aku akan pulang tanpa memaksa.
Ningning mengantarku sampai pintu.
'Kalau dia meminta waktu lagi?' tanyanya.
'Aku akan menghormatinya. Tapi aku juga akan meminta kami menentukan waktu untuk bicara lagi, supaya tidak menggantung tanpa batas.'
'Itu terdengar adil.'
Aku menarik napas dalam-dalam dan berhenti di dekat pintu untuk memeriksa ponsel sebelum berangkat. Aku belum tahu apa yang akan terjadi setelah toko tutup. Namun, kali ini aku datang untuk menyampaikan kebenaran dan mendengarkan, bukan untuk memohon agar keadaan kembali seperti dulu.
**
Sebelum berangkat, aku kembali sebentar ke meja makan tempat Ningning dan Jayden duduk. Mereka bertanya apa yang ingin kubawa ketika pergi ke Cross & Co. Aku menunjukkan dua halaman yang sudah kutandai.
'Apa kau akan membaca seluruh naskah?' tanya Jayden.
'Tidak. Aku ingin meminta izinnya dulu, lalu membacakan bagian yang menjelaskan maksudku.'
'Bagus,' kata Ningning. 'Kau tidak perlu menjadikan pertemuan itu ujian untuk membuktikan cintamu.'
'Aku tahu. Aku ingin jujur, bukan membuatnya merasa harus menjawab.'
Jayden menuangkan air. 'Dan kalau dia belum siap, kau tetap boleh pulang. Jangan berdiri di depan toko sampai pagi.'
Aku tertawa. 'Aku tidak akan melakukan itu.'
Mereka tidak menertawakan kegugupanku. Setelah percakapan itu, aku memasukkan salinan naskah ke map dan menaruhnya dekat tas. Aku memeriksa jadwal toko melalui pesan Daren, lalu mematikan ponsel agar tidak terus-menerus melihat layar.
Sebelum keluar rumah, aku mencoba mengingat apa yang ingin kukatakan tanpa menghafal. Aku tidak ingin percakapan itu terdengar seperti pembelaan di pengadilan. Aku ingin Ethan tahu bahwa aku mengerti mengapa ia merasa terluka, sekaligus menjelaskan bahwa aku tidak akan menghapus seluruh diriku sebagai penulis demi membuatnya nyaman.
Di dekat pintu, Ningning bertanya apakah aku sudah berubah pikiran. Aku mengatakan tidak. Aku masih takut, tetapi siap menerima kemungkinan bahwa Ethan belum mau bicara. Aku memastikan map sudah di dalam tas, mengucapkan selamat malam, lalu berangkat ke Cross & Co.