Hari pertama setelah aku menangis di kampus, bel pintu rumah Ningning berbunyi menjelang sore. Jayden membukakan pintu, lalu memanggilku dari ruang tengah.
'Shopia, ada Daren.'
Aku terkejut. Daren berdiri di luar sambil membawa kantong kertas dari toko. Ia tidak masuk sebelum Ningning mempersilakannya.
'Aku tidak ingin mengganggu,' katanya. 'Aku hanya ingin memastikan keadaanmu.'
'Aku baik-baik saja. Masuklah.'
Ningning menawarkan teh, lalu duduk tidak jauh dari kami. Jayden kembali ke dapur, memberi kami ruang tanpa membuat kunjungan itu terasa seperti rahasia.
Daren menaruh kantong di meja. 'Ethan belum mau bicara banyak. Tapi aku ingin meluruskan satu hal: dia tidak membenci naskahmu. Dia takut.'
Aku menunduk. 'Takut aku hanya menjadikannya bahan riset?'
'Iya. Dia membaca dirinya di sana dan merasa hal-hal yang ia ceritakan bisa berubah jadi sesuatu yang tidak ia kendalikan. Dia juga masih membawa luka lama soal merasa gagal sebagai suami. Semua itu membuat reaksinya lebih tajam.'
'Aku tidak pernah ingin mengekspos dia.'
'Aku tahu. Tapi Ethan belum bisa melihat niatmu dengan jelas. Dia perlu waktu, dan kau juga perlu kesempatan menjelaskan tanpa membela diri terus-menerus.'
Aku memegang cangkir. 'Aku takut mendatanginya akan terasa seperti memaksanya.'
'Kalau kau datang setelah toko tutup dan bertanya apakah ia bersedia mendengar, keputusan tetap ada padanya. Kau tidak harus membacakan apa pun kalau ia menolak.'
Aku mengangguk. Itu terdengar lebih baik daripada mengirim pesan panjang yang mungkin salah dipahami.
**
Daren tidak langsung pergi. Ia bertanya bagaimana kabar naskah dan apakah Emily menerima berkasnya. Aku menjelaskan bahwa naskah utama sudah terkirim, tetapi penutup masih kosong.
'Kau belum bisa menulis akhirnya karena belum tahu apa yang akan terjadi dengan Ethan?' tanyanya.
'Mungkin. Aku juga tidak ingin memaksakan akhir yang bahagia hanya agar sesuai harapanku.'
'Itu masuk akal. Tapi jangan biarkan ketakutan menentukan semuanya sebelum kalian bicara.'
Ningning ikut menimpali, 'Shopia harus memberi dirinya ruang juga. Dia tidak bisa memikul rasa takut Ethan dan rasa takutnya sendiri sekaligus.'
'Aku tidak menyuruhnya menunggu tanpa batas,' kata Daren. 'Aku hanya ingin dia punya kesempatan bicara jujur.'
Aku menghargai bahwa Daren tidak mencoba membuat dirinya pusat dari masalah ini. Ia sudah menerima penolakanku sebelumnya dan kini datang sebagai teman.
'Terima kasih sudah menyampaikan ini,' kataku. 'Aku akan mempertimbangkan datang ke toko. Tapi aku tidak akan memaksa kalau Ethan belum siap.'
Daren mengangguk. 'Itu yang bisa kau lakukan. Sisanya keputusan kalian berdua.'
Sebelum pulang, Daren mengatakan ia tidak akan menyampaikan pesan apa pun kepada Ethan atas namaku.
'Aku tidak mau dia merasa kau datang melalui perantara,' katanya.
'Aku juga tidak mau itu. Terima kasih sudah bicara denganku langsung.'
'Kalian harus menyelesaikannya sendiri. Aku hanya ingin kalian tidak membiarkan takut menggantikan fakta.'
Aku menyimpan kata-kata itu. Daren tidak memberi tahu kapan Ethan akan siap atau apa yang akan ia pilih. Ia hanya menunjukkan bahwa mungkin masih ada ruang untuk percakapan, selama aku tidak memaksakannya. Aku mengucapkan terima kasih sekali lagi. Daren membalas dengan senyum kecil dan mengambil kantong kosongnya dari meja. Aku tahu percakapan itu bukan penyelesaian, tetapi setidaknya sekarang aku mengerti ketakutan Ethan tidak sama dengan kebencian. Perbedaan itu memberiku keberanian untuk mempersiapkan kata-kataku dengan lebih jujur.
Saat ia pamit, ia menyampaikan bahwa Ethan biasanya menutup toko sekitar pukul sembilan. Aku tidak menganggap itu sebagai undangan. Aku hanya menyimpan informasinya.
Setelah pintu tertutup, Ningning bertanya apakah aku ingin pergi malam ini. Aku menjawab belum. Aku perlu memikirkan apa yang benar-benar ingin kusampaikan, bukan hanya bereaksi karena merindukannya.
Setelah Daren pulang, aku membuka buku catatan dan menulis tiga hal: aku minta maaf karena tidak membicarakan inspirasi lebih awal; aku tidak menyalin rahasia atau percakapan pribadi; perasaanku kepada Ethan nyata. Aku menutup buku setelah itu. Untuk pertama kalinya, aku memiliki kata-kata yang ingin kuucapkan tanpa menyembunyikan diri di balik tokoh fiksi.
**
Setelah Daren pergi, aku tetap duduk di meja makan. Ningning menuangkan air hangat untukku dan tidak menanyakan apakah aku akan langsung pergi menemui Ethan. Aku memandangi halaman catatan yang kubuat, lalu menyadari bahwa aku tidak ingin menjadikan kunjungan Daren sebagai dorongan untuk bertindak sebelum siap.
'Kau percaya Ethan tidak membenci naskahmu?' tanya Ningning.
'Aku percaya Daren tidak mengarang. Tapi rasa takut Ethan tetap ada.'
'Kau juga punya hak untuk menjelaskan apa yang terjadi dari sisimu.'
'Aku tahu. Aku hanya tidak mau datang dan meminta dia segera memaafkan.'
Ningning mengangguk. 'Minta didengar saja dulu. Memaafkan bukan sesuatu yang bisa kau jadwalkan.'
Aku tersenyum mendengar kalimat itu. 'Kau benar.'
Aku membuka lagi catatan tiga poin yang baru kutulis. Kali ini aku mengganti kalimat-kalimat formal dengan kata yang akan benar-benar kuucapkan. Aku menulis bahwa aku tidak menyadari betapa jelas tokoh itu menyerupai Ethan; bahwa aku seharusnya berbicara sebelum ia menemukan naskah; dan bahwa aku tidak menganggap perasaanku sebagai riset.
Ningning membaca dari samping tanpa menyentuh kertas. 'Kau mau membawa ini?'
'Mungkin. Tapi kalau aku terlalu gugup, aku tidak ingin membacanya seperti pengumuman.'
'Bawa saja sebagai pengingat, bukan naskah pidato.'
Sore itu aku berjalan sebentar sendiri. Aku memikirkan kata-kata Daren tentang rasa takut Ethan. Aku tidak bisa menyelesaikan ketakutannya untuknya. Aku juga tidak ingin menjanjikan bahwa aku tidak akan pernah mengambil inspirasi dari orang-orang yang kukenal. Sebagai penulis, aku selalu mengamati. Yang bisa kulakukan adalah memperlakukan orang lain dengan hormat, mengubah detail, dan berbicara jika tulisan itu menyentuh sesuatu yang pribadi.
Saat kembali, Daren mengirim pesan bahwa Ethan tutup toko sekitar pukul sembilan. Ia menambahkan agar aku tidak datang jika hanya karena merasa bersalah. Aku membalas bahwa aku ingin bicara karena ada hal yang perlu dijelaskan, bukan untuk memaksa hasil tertentu.
Pesan itu terasa seperti janji kepada diri sendiri. Aku ingin memperbaiki bagian yang memang salah, sambil tetap mengakui bahwa menulis adalah bagian penting dari hidupku. Hubungan kami tidak akan sehat jika aku harus memilih antara jujur pada Ethan dan jujur pada diriku sendiri.
**