Malamnya, aku duduk di meja kecil kamar tamu. Laptop terbuka pada naskah yang sudah kukirim. Bab terakhir masih kosong, sementara catatan Emily menunggu tanggapan. Aku mencoba menulis akhir alternatif, tetapi kalimatnya terdengar seperti dibuat untuk memuaskan pembaca, bukan untuk jujur pada tokohnya.
Ningning mengetuk pintu dan masuk setelah aku mempersilakannya. Ia membawa dua cangkir teh.
'Kau masih memikirkan Ethan?' tanyanya.
Aku mengangguk. 'Aku mencoba menulis, tapi semua akhir yang kubuat terasa seperti tentang kami.'
'Mungkin karena memang begitu.'
Aku menatap layar. 'Aku tidak pernah berencana menulis surat cinta. Aku hanya ingin menyelesaikan pekerjaan.'
'Tapi sekarang kau tahu isi ceritanya lebih dalam dari yang kau kira.'
Aku menarik napas. 'Naskah ini jadi surat cinta untuk Ethan. Bukan surat yang sengaja kutulis untuk diberikan kepadanya, tapi semua perasaanku ada di sana.'
Mengatakan itu keras-keras terasa menakutkan. Aku menunduk, lalu air mataku kembali menggenang.
**
Ningning duduk di sampingku. 'Kau ingin dia membacanya?'
'Aku ingin dia memahami bahwa aku tidak mempermainkannya. Tapi aku juga takut kalau dia melihat semuanya dan tetap tidak percaya.'
'Kau tidak bisa mengendalikan bagaimana ia menanggapinya. Kau hanya bisa menyampaikan kebenaranmu.'
'Aku tahu.'
'Dan kau tidak harus melakukannya malam ini.'
Aku mengangguk. Aku menyimpan dokumen dan menutup laptop. Aku belum siap datang ke Cross & Co. atau membacakan cerita itu di depan Ethan. Itu akan datang nanti, jika aku merasa cukup tenang dan ia bersedia mendengar.
Jayden mengirim pesan dari ruang tengah bahwa teh mereka mulai dingin. Ningning tertawa dan mengajakku keluar. Kami duduk bertiga, berbicara tentang kuliah dan rencana akhir pekan. Aku masih sedih, tetapi tidak merasa sendirian.
Aku sempat membuka percakapan dengan Ethan sebelum melanjutkan membicarakan naskah. Belum ada balasan. Aku menatap layar sejenak, lalu meletakkan ponsel. Aku tidak akan memaksanya menjawab sebelum siap. Besok aku akan bangun, memeriksa tanggapan Emily, dan mencoba menulis lagi. Bab penutup itu masih kosong, tetapi kini aku tahu mengapa aku tidak bisa mengisinya: aku belum mengatakan seluruh kebenaran kepada orang yang menjadi sumber perasaan di baliknya.
**
Malam itu aku meminta Ningning membaca satu paragraf pembuka naskah. Ia menerima laptopku dan membaca dengan tenang. Aku memperhatikan ekspresinya, menunggu apakah ia akan mengenali hal-hal yang kubawa dari apartemen Ethan.
'Tokohnya terasa hidup,' katanya setelah selesai. 'Dia keras kepala, tapi tidak sempurna.'
'Aku takut dia terlalu mirip seseorang.'
'Orang memang sering menjadi inspirasi. Yang penting kau tidak memakai kisah pribadi seseorang dengan cara yang menyakitinya. Kau bisa memikirkan batasnya dan membicarakannya.'
Aku mengangguk. 'Aku ingin menjelaskan semuanya kepada Ethan kalau dia siap. Aku tidak ingin menyelipkan naskah itu di bawah pintunya atau memaksanya membaca.'
'Itu terdengar lebih baik daripada berharap dia menebak maksudmu.'
Kami menutup laptop. Aku tahu menulis tentang seseorang tanpa membicarakannya bisa menimbulkan salah paham, sekalipun niatku tidak buruk. Aku harus belajar menyampaikan batas dan mendengar batas orang lain.
**
Setelah Ningning keluar, aku membuka catatan pribadi dan menulis surat yang tidak akan kukirim malam ini. Aku menulis bahwa aku menyukai cara Ethan memperhatikan hal-hal kecil, bahkan ketika ia berusaha menyembunyikannya di balik aturan. Aku menulis bahwa aku marah karena ia menyuruhku pergi, tetapi juga mengerti bahwa ia merasa dilanggar.
Aku tidak menyebutnya naskah atau riset. Aku menulis apa adanya. Surat itu membuatku menangis lagi, tetapi kali ini tangisnya lebih tenang.
Aku melipat halaman catatan dan menyimpannya di dalam buku, bukan di dalam naskah untuk Emily. Aku tidak ingin mengaburkan pekerjaan dengan pesan yang belum siap kukirim. Besok aku akan memeriksa email Emily dan mulai merevisi bagian yang ia komentari nanti. Untuk saat ini, bab terakhir tetap kosong.
Ningning kembali ke kamar dengan teko. Ia melihat halaman yang baru kulipat, lalu menuangkan teh dan bertanya, 'Apa kau akan menyimpan surat itu?'
'Iya. Aku belum tahu apakah akan kuberikan kepada Ethan.'
'Kau tidak harus memutuskan sekarang.'
'Aku tahu. Untuk saat ini, cukup aku mengakui bahwa aku menulisnya karena mencintai seseorang.'
Ia meremas tanganku sebentar. 'Itu sudah keberanian.'
Jayden mengetuk pintu dan bertanya apakah aku ingin ikut menonton film bersama mereka. Aku mengiyakan. Aku keluar kamar, meninggalkan laptop tertutup di meja. Kami duduk bertiga di sofa, berbagi selimut dan camilan. Cerita di layar lucu, dan aku tertawa beberapa kali sungguh-sungguh.
Sebelum tidur, aku melihat ponsel sekali lagi. Tidak ada pesan baru dari Ethan. Aku meletakkannya tanpa mengirim pesan tambahan. Aku tidak akan menarik kembali pengakuanku kepada Ningning atau berpura-pura perasaanku kecil. Aku juga tidak akan memaksa Ethan menerima surat cinta yang belum pernah ia minta.
Aku mematikan lampu dan berbaring. Besok mungkin masih terasa sulit, tetapi aku sudah melakukan satu hal yang lama kuhindari: mengatakan kebenaran kepada seseorang yang kupercaya. Sisanya perlu menunggu percakapan yang hanya bisa terjadi ketika Ethan juga siap mendengar.
Pagi berikutnya, aku menerima email otomatis dari penerbit yang mencatat naskah masuk antrean baca. Pesan administrasi itu datang terpisah dari catatan awal Emily. Aku menyimpan pemberitahuan itu dan tidak mencoba membuka dokumen untuk mengisi bab akhir. Aku belum menemukan kata-kata yang tidak terasa seperti pesan terselubung kepada Ethan.
Aku menulis di buku catatan tentang batas yang kuinginkan: ketika aku menulis dari pengalaman nyata, aku perlu membedakan inspirasi umum dari detail pribadi yang sensitif. Aku juga perlu bicara lebih awal jika orang yang dekat denganku mungkin mengenali dirinya. Catatan itu bukan hukuman bagi diriku. Itu pelajaran yang bisa kubawa untuk tulisan berikutnya.
Ningning mengajakku sarapan. Di meja, ia bertanya apakah aku ingin pulang ke apartemen untuk mengambil barang lain.
'Belum hari ini,' jawabku. 'Aku sudah membawa yang kubutuhkan.'
'Baik. Kalau berubah pikiran, bilang saja.'
Jayden menawarkan mengantarku ke kampus nanti. Aku menerimanya. Mereka tidak bertanya apakah Ethan sudah membalas. Aku pun tidak membuka ponsel untuk memeriksanya setiap beberapa menit.
Selena menelepon setelah sarapan. Pencocokan yang kuhadiri sebelum tenggat Emily sudah menghasilkan penetapan pengembalian sebagian. Ia memintaku membaca pemberitahuan melalui saluran yang biasa kami gunakan, memastikan rekening yang tercantum benar, lalu menyimpan salinannya. Aku tidak diminta membayar biaya tambahan kepada siapa pun.
Aku membaca pemberitahuan itu sampai akhir. Dana yang bisa dikembalikan lebih kecil daripada kerugianku; sisanya tidak dijanjikan akan segera ditemukan. Selena menjelaskan bahwa pemeriksaan terhadap Daniel tetap berjalan terpisah dari pengembalian ini. Aku mengonfirmasi rekening yang pernah kuserahkan dan meminta salinan pemberitahuan untuk berkas pribadi. Sesudah panggilan berakhir, kusimpan dokumennya bersama tanda terima. Untuk pertama kalinya, ada hasil yang bisa kubaca tanpa harus menafsirkan janji Daniel.
Siang itu aku menghabiskan waktu membaca catatan Emily dan menandai bagian yang mungkin perlu direvisi. Aku tidak menulis ulang kisahnya. Aku hanya membuat daftar perbaikan agar pekerjaan itu tetap bergerak. Bab terakhir masih kosong, tapi kini aku bisa melihatnya sebagai pekerjaan yang tertunda, bukan bukti bahwa hidupku gagal.
Sore hari, aku berjalan sebentar bersama Ningning. Kami membicarakan kemungkinan aku tinggal di tempat mereka beberapa hari lagi, tanpa menetapkan tanggal pulang. Aku ingin bicara dengan Ethan ketika ia siap, tetapi aku tidak mau menjadikan kepulangan sebagai cara meminta maaf. Aku perlu menjelaskan niatku dan mendengar rasa tidak nyamannya, lalu kami bisa memutuskan langkah berikutnya bersama.