Sehari setelah naskah kukirim kepada Emily, aku berangkat ke kampus dengan laptop dan buku yang semalam sudah kusiapkan. Ningning berjalan di sampingku sampai gedung kelas. Ia menanyakan apakah aku ingin makan siang bersamanya nanti. Aku mengangguk dan mengatakan akan mengirim pesan setelah kelas pertama selesai.
Aku sengaja menyimpan ponsel di dalam tas. Selama perjalanan, aku sudah memeriksa percakapan dengan Ethan dua kali. Ia belum membalas pesan tentang naskah yang kukirim kemarin. Aku tahu satu layar tidak akan berubah hanya karena kubuka berulang-ulang, tetapi tanganku masih mencari ritsleting tas ketika kami berhenti di depan pintu.
'Aku ke ruangan sebelah dulu,' kata Ningning. 'Nanti ketemu.'
Aku membalas lambaian tangannya, lalu memilih tempat duduk dekat lorong. Buku kubuka pada halaman kosong. Ketika penjelasan dimulai, aku mencatat kata kunci dan mencoba mengikuti contoh yang diberikan. Selama beberapa menit aku berhasil. Sesudahnya, pikiranku mulai menyusun kalimat yang ingin kukatakan kepada Ethan jika ia menghubungi.
Seorang teman di sampingku menunjuk catatanku ketika kami diminta membandingkan jawaban. Aku baru menyadari aku menyalin pertanyaan dua kali dan belum menuliskan jawaban. Aku meminta waktu sebentar, membaca bahan yang dibagikan, lalu mencoba menyelesaikannya.
'Yang ini belum selesai,' kataku sambil menunjukkan ruang kosong di halaman.
Ia menggeser bukunya agar aku bisa membandingkan langkah yang sudah ia kerjakan. Aku tidak menyalin jawabannya. Aku mencari bagian yang kulewatkan dan menggarisbawahi kalimat pada bahan bacaan. Menjelang kelas berakhir, setidaknya aku memiliki sesuatu untuk dibawa pulang selain catatan yang tak kupahami.
Saat kursi-kursi mulai bergeser, aku tetap duduk untuk merapikan kertas. Aku memasukkan bahan kuliah ke map berbeda dari salinan naskah. Halaman cerita yang masih kubawa terselip di bagian belakang tas. Aku hampir membukanya di meja, lalu mengurungkan niat. Ada kelas berikutnya yang harus kuhadiri; cerita itu bisa menunggu waktu istirahat.
**
Di bangku dekat taman kampus, aku mengirim pesan kepada Ningning bahwa kelas pertama sudah selesai. Sambil menunggu, aku mengeluarkan laptop. Dokumen yang terbuka masih versi naskah yang dikirim kepada Emily. Aku membaca paragraf pembuka tentang seorang perempuan yang datang ke tempat tinggal baru dan mengira ia hanya akan singgah.
Aku menutup laptop sebelum mencapai halaman berikutnya. Aku bisa membedakan tokoh itu dari diriku dalam banyak hal, tetapi saat ini aku hanya teringat pintu apartemen yang kutinggalkan. Ethan mengatakan ia memerlukan ruang, dan aku berusaha memberikannya. Tetap saja, aku takut diam itu akan bertahan sampai aku tak lagi tahu cara memulai percakapan.
Air mataku jatuh ketika Ningning datang membawa dua minuman. Ia meletakkan keduanya di bangku dan duduk tanpa segera bertanya. Aku berusaha mengusap pipi sebelum ia melihat, tetapi suara yang keluar ketika kusapa namanya justru pecah.
'Aku pikir pergi beberapa hari akan membuatku lebih mudah berpikir,' kataku. 'Sekarang aku cuma takut dia tidak ingin mendengar penjelasanku lagi.'
Ningning mengambil tisu dari tasnya. Ia menyerahkannya dan menunggu sampai aku bisa menarik napas lebih panjang. Aku menangis tanpa berusaha memberi alasan yang lebih rapi. Ada Ethan yang terluka, penutup yang belum selesai, dan rasa malu karena aku terus menghubungkan keduanya.
'Aku benar-benar menyukainya,' kataku. 'Aku tidak membuat semua perhatian itu untuk menyelesaikan tugas Emily.'
'Aku percaya.'
'Tapi dia melihat naskahnya, lalu merasa aku melakukan itu. Aku ingin membuktikan bahwa bukan begitu, sampai lupa bahwa aku sendiri marah karena dia menyuruhku pergi dengan dingin.'
Ningning menunggu aku menghabiskan kalimat itu. Lalu ia bertanya apa yang ingin kusampaikan jika Ethan bersedia bicara.
Aku menatap laptop yang sudah tertutup. 'Bahwa aku harus lebih hati-hati dengan detail pribadi. Bahwa aku tidak akan menulis rahasianya tanpa izin. Dan aku ingin dia mengakui bahwa tempat tinggal tidak bisa dipakai untuk menghentikan percakapan yang sulit.'
'Itu yang perlu kalian bicarakan. Bukan apakah kau bisa menulis penutup yang membuat dia kembali.'
Aku mengangguk, lalu mengusap pipi lagi. Aku sudah berkali-kali mengatakan naskah itu fiksi. Namun sebagian perasaanku memang lebih berani muncul di halaman daripada ketika aku berhadapan langsung dengan Ethan.
'Naskah itu jadi seperti surat cinta yang tidak pernah sengaja kutulis,' kataku. 'Aku tidak ingin mengirimkannya sebagai tuntutan agar dia membalas.'
Ningning menggenggam tanganku sebentar. Ia tidak menyuruhku segera datang ke toko atau menelepon Ethan atas namaku. Ketika ia menanyakan apakah aku ingin pulang, aku melihat jam dan menggeleng. Masih ada satu kelas. Aku ingin mencoba mengikutinya, meskipun mataku belum berhenti terasa panas.
Kami berjalan ke tempat cuci muka sebelum kembali ke gedung. Ningning menungguku di luar. Aku membasuh wajah, melipat tisu yang basah, dan memeriksa jadwal di ponsel. Kali ini aku membuka jadwal sungguhan, bukan percakapan Ethan.
Di kelas berikutnya, aku duduk dekat Ningning. Aku tidak mendadak mampu melupakan semuanya. Ketika pikiranku kembali ke apartemen, aku menuliskan satu tanda kecil di tepi halaman dan kembali melihat bahan di depan. Setelah penjelasan selesai, aku meminta Ningning menunjukkan bagian yang terlewat. Kami berjanji membacanya bersama di rumah, sesudah makan.
Dalam perjalanan pulang, ia bertanya apakah aku ingin ia menghubungi Ethan. Aku mengatakan belum. Kalau nanti ada percakapan, aku ingin menanyakan kesediaannya sendiri, dengan kata-kataku, tanpa menjadikan sahabatku pembawa pesan. Ningning menerima jawabanku dan mengambil sebagian buku dari tas yang berat. Aku membiarkannya membantu membawa buku; untuk sekali ini, bantuan yang kuterima tidak harus menyelesaikan seluruh masalahku. Sesampainya di rumah, kami menaruh bahan kuliah pada meja yang berbeda dari laptopku. Jayden memindahkan mangkuk agar kertasnya tidak terkena air. Setelah makan, Ningning membacakan pertanyaan yang tadi belum kupahami dan aku mencoba menjawabnya dengan catatan sendiri. Jawabanku masih perlu diperbaiki, tetapi akhirnya aku tahu bagian mana yang harus kubaca. Kami berhenti sebelum malam terlalu larut. Aku menyimpan halaman tugas itu di tas untuk esok, lalu menaruh naskah ceritaku di folder terpisah.