Pagi berikutnya di rumah Ningning dan Jayden, aku bangun sebelum mereka. Aku membuat kopi, membuka laptop, dan membaca ulang naskah dari awal. Beberapa adegan membuatku tersenyum. Ada tokoh perempuan yang gugup saat pertama kali masuk ke rumah baru, ada tokoh pria yang memasang aturan agar tak ada yang berubah tanpa izin, dan ada dua orang yang pelan-pelan belajar bekerja sama.
Aku mengubah beberapa detail lagi supaya tak ada percakapan pribadi yang mudah dikenali. Aku memeriksa nama tokoh, urutan adegan, dan konsistensi waktu. Namun, saat mencapai bab penutup, aku berhenti.
Halaman itu tetap kosong.
Ponselku bergetar. Emily menanyakan apakah naskah sudah siap dikirim. Aku menulis balasan, menghapusnya, lalu mencoba lagi. Akhirnya kukatakan bahwa naskah utama selesai, tetapi bagian penutup masih belum bisa kutulis dengan jujur. Aku akan mengirim versi yang ada sebelum tenggat.
Emily membalas bahwa ia bisa membaca naskahnya terlebih dahulu dan memberi masukan. Ia mengingatkan bahwa bab terakhir dapat menyusul setelah aku menemukan akhir yang tepat.
Aku menarik napas lega. Aku menata dokumen dan memastikan bagian kosong itu tidak tertutup halaman lain. Aku menambahkan catatan singkat di berkas terpisah untuk menjelaskan bahwa penutup masih dalam proses, lalu menyimpannya dalam folder pengiriman untuk Emily.
**
Setelah berkas siap kukirim, aku merasa dadaku kosong sekaligus ringan. Aku menyelesaikan sebagian besar pekerjaan, tetapi tidak bisa menulis satu adegan yang paling penting. Aku tahu mengapa: tokoh pria itu memang fiksi, tetapi hubungan yang mengilhami perasaannya berasal dari Ethan. Aku tidak sanggup menentukan akhir mereka tanpa tahu apakah Ethan akan kembali bicara denganku.
Ningning masuk membawa sarapan.
'Sudah siap dikirim?'
'Sudah siap. Bab terakhirnya kosong.'
'Kau bisa menulisnya nanti.'
'Aku tahu. Tapi aku merasa seperti gagal.'
'Kau menyelesaikan seluruh bagian lain di tengah masalah yang berat. Itu bukan gagal.'
Aku mengangguk, mencoba mempercayainya. Kami makan bersama. Ningning bercerita tentang jadwal kuliah, sementara Jayden mengeluh ia harus mengganti lampu ruang tengah. Mereka sengaja membicarakan hal biasa agar aku tidak merasa seluruh hidupku harus berputar pada Ethan.
Aku meletakkan ponsel dan kembali membuka catatan. Aku menulis satu kalimat untuk bab terakhir, lalu menghapusnya lagi. Setidaknya aku sudah berhenti berpura-pura bahwa penutup itu bisa selesai tanpa menghadapi perasaanku sendiri.
**
Menjelang siang, Emily menelepon. Ia tidak memarahiku karena naskah belum terkirim. Ia hanya ingin tahu apakah formatnya siap dan apakah aku membutuhkan waktu tambahan.
'Aku bisa mengirim naskah utama hari ini,' kataku. 'Tapi bab penutupnya masih kosong. Aku belum menemukan akhir yang jujur.'
Emily diam sejenak. 'Kirim bagian yang sudah ada. Aku lebih suka membaca keseluruhan cerita dan memberi catatan daripada kau memaksakan penutup yang tidak kau percaya.'
'Apa tenggatnya bisa sedikit fleksibel untuk bab terakhir?'
'Aku bisa menunggu revisi penutup, tapi kirim naskah utama sebelum batas awal. Kita evaluasi sisanya setelah aku membaca.'
Aku mengucapkan terima kasih. Setelah telepon ditutup, aku merapikan file, memeriksa nomor bab, dan memastikan tidak ada versi lama yang tertukar. Aku membubuhkan halaman kosong berjudul bab penutup, tanpa isi, agar Emily tahu bagian itu belum selesai.
Aku juga menulis catatan terpisah tentang perubahan yang masih ingin kuperiksa. Aku tidak menuliskan nama Ethan atau menjelaskan dari mana semua inspirasi datang. Itu akan kubicarakan dengannya jika ia bersedia mendengarkan, bukan lewat dokumen pekerjaan.
Ningning datang membawa laptopnya sendiri dan duduk di meja ruang tengah. Ia bekerja sambil menemaniku memeriksa naskah. Sesekali kami saling bertanya soal ejaan atau format. Kehadirannya membuat pekerjaan terasa tidak terlalu berat.
**
Aku mengirim naskah kepada Emily beberapa menit sebelum sore. Begitu tanda terkirim muncul, aku menyandarkan punggung di kursi. Rasanya seperti mengangkat beban besar, tetapi juga seperti meninggalkan bagian paling penting dalam keadaan belum selesai.
Ningning mengulurkan segelas air. 'Kau sudah melakukan bagian yang bisa dilakukan hari ini.'
'Bab terakhirnya masih kosong.'
'Kau jujur soal itu. Itu lebih baik daripada menulis akhir yang tidak kau yakini.'
Sesudah mengirim naskah sore itu, aku mengirim pesan kepada Ethan bahwa berkasnya sudah kukirim ke Emily dan bagian akhir masih kosong. Aku menambahkan bahwa aku tidak mengharapkan jawaban sekarang, hanya ingin ia tahu. Pesan itu terkirim, tetapi tidak langsung dibaca.
Aku membuka email balasan dari Emily. Ia mengonfirmasi file sudah diterima dan mengatakan akan mengirim catatan setelah membaca. Aku berterima kasih, lalu menutup email.
Sore itu aku membaca ulang bab pembuka dan menemukan beberapa hal yang perlu diperbaiki. Aku membuat daftar revisi, bukan langsung mengubah semuanya. Naskah ini masih milikku, dan aku ingin menanganinya dengan kepala dingin.
Malamnya, aku memasak bersama Ningning dan Jayden. Kami membicarakan hal-hal sederhana. Aku merasa sedikit lebih stabil, meski pertanyaan tentang Ethan tetap mengikutiku. Aku tidak mengirim pesan lagi. Aku sudah memberitahunya bahwa naskah terkirim; sekarang aku harus memberinya ruang untuk memilih kapan akan menjawab.
Sesudah makan malam, aku masih memeriksa email dua kali untuk memastikan file yang kukirim sore tadi benar-benar terlampir. Ningning melihatku membuka kotak terkirim.
'Kau sudah mengirimnya,' katanya. 'Tidak perlu memeriksa lagi.'
'Aku takut file-nya tidak terbuka.'
'Emily sudah mengonfirmasi.'
'Aku tahu. Aku hanya gugup.'
Jayden lewat membawa piring. 'Kalau terus diperiksa, filenya tidak akan berubah jadi lebih lengkap.'
'Kau benar,' kataku. 'Aku akan berhenti.'
Aku menutup laptop dan membantu mereka membersihkan meja. Setelah itu, aku membalas Emily sekali lagi, berterima kasih karena bersedia menunggu bab penutup. Ia membalas singkat bahwa ia akan membaca naskah utamanya dulu. Aku mencoba menerima bahwa bagian itu belum selesai dan tidak harus dipaksa malam ini.
Aku kembali ke dokumen catatan, bukan naskah. Aku menulis hal-hal yang perlu kubicarakan dengan Ethan jika kesempatan itu datang: bagian mana yang terinspirasi, bagian mana yang fiksi, dan bagaimana aku akan menjaga hal pribadi agar tidak terbawa tanpa persetujuan. Menulis daftar itu membantuku merapikan pikiranku, tetapi aku tahu percakapan nyata tidak akan berjalan seperti daftar.
Jayden mengintip dari dapur. 'Kalau sudah terkirim, boleh aku ambil laptop untuk mencari resep?'
'Tunggu lima menit,' kataku. 'Aku mau memastikan folder revisinya tersimpan.'
'Lima menit sungguhan atau lima menit penulis?'
'Lima menit sungguhan.'
Ningning tertawa. 'Aku akan mengawasi jamnya.'
Aku menyimpan catatan, menutup laptop, lalu menyerahkannya kepada Jayden. 'Silakan. Aku berhenti sekarang.'
'Hebat,' katanya. 'Akhirnya tenggat tidak menang melawan waktu istirahatmu.'
'Jangan berlebihan. Besok aku mungkin kembali panik.'