Keesokan paginya, Ningning mengetuk pintu kamar tamu. Aku sudah bangun, tetapi masih duduk di samping koper yang semalam tidak kubongkar seluruhnya. Ketika kubuka pintu, ia mengangkat dua cangkir kosong dan bertanya apakah aku ingin teh atau kopi.
'Teh saja,' jawabku.
'Jayden sedang membuatnya, meski aku tidak menjamin rasanya.'
'Aku dengar itu,' sahut Jayden dari dapur. 'Aku membuat teh yang sangat layak.'
Aku menyusul Ningning ke meja. Di sana ada piring sarapan dan daftar bahan belanja. Mereka bertanya apa yang biasa kumakan pagi hari. Aku memilih roti yang sudah tersedia, lalu mengatakan aku akan membeli sebagian kebutuhan rumah siang nanti. Jayden menggeser daftar itu agar aku dapat menambahkan sabun yang lupa kubawa.
Kami makan tanpa terburu-buru. Berbeda dengan semalam, hari ini aku tidak perlu segera tidur setelah perjalanan. Aku mulai bisa menyusun ceritaku dari awal tanpa merasa harus menjelaskan semuanya di ambang pintu.
Setelah makan, aku menceritakan bahwa Ethan membaca naskahku yang terbuka dan merasa dirinya dijadikan bahan riset. Aku menjelaskan bahwa aku memang mengambil beberapa sifat dan pengalaman serumah sebagai inspirasi, tetapi tokohnya fiksi. Ningning mendengarkan, sementara Jayden menahan komentar sampai aku selesai.
'Kau sudah bilang perasaanmu nyata?' tanya Ningning.
'Sudah. Tapi dia belum bisa mempercayainya sekarang.'
'Itu menyakitkan,' kata Jayden. 'Tapi mungkin dia perlu waktu untuk mencerna.'
'Aku tahu. Aku juga harus mengakui bahwa aku seharusnya bicara lebih awal tentang naskah itu.'
Ningning duduk di sampingku. 'Kau bisa bertanggung jawab atas bagianmu tanpa menerima seluruh kesalahan. Menulis dari pengalaman bukan otomatis salah. Tapi penting untuk mendengar bagaimana hal itu terasa bagi Ethan.'
Aku mengangguk. Aku tidak ingin mereka memilih pihak. Aku hanya perlu mengurai apa yang terjadi.
**
Menjelang siang, aku keluar sebentar membeli sabun dan beberapa bahan makanan. Saat kembali, aku menemukan pesan dari Daren. Ia bertanya apakah aku sudah sampai dengan aman. Aku menjawab iya dan bertanya bagaimana keadaan toko.
Daren membalas bahwa pekerjaan berjalan biasa. Ia menambahkan bahwa ia sempat mencoba berbicara dengan Ethan setelah aku pergi, tetapi Ethan menutup diri. Sebelum Daren pulang, ia melihat memo lama sudah terpasang kembali di kulkas apartemen.
Aku membaca pesan itu dua kali. Aku membayangkan Ethan berdiri di depan kulkas, merapikan kertas-kertas yang pernah mulai ia lepaskan. Aku tidak tahu apakah itu cara dia mengembalikan kendali atau sekadar berpegang pada kebiasaan yang ia pahami. Aku tidak mengirim pesan tentang memo itu. Itu bukan sesuatu yang bisa kuubah dari tempat lain.
Aku membalas Daren bahwa aku berharap Ethan punya waktu untuk memproses semuanya. Daren mengatakan ia akan memberi ruang, tetapi siap bicara ketika Ethan bersedia. Aku berterima kasih karena ia tidak memaksakan diri menjadi penengah.
**
Setelah kembali dari belanja, aku membuka laptop untuk menyelesaikan naskah. Aku mengatur meja kecil di kamar tamu, memastikan file tersimpan, lalu membuka bab terakhir. Halamannya kosong. Aku mengetik satu kalimat, menghapusnya, lalu mencoba lagi.
Tokoh perempuan harus membuat keputusan. Ia bisa pergi, tinggal, atau meminta satu percakapan terakhir. Aku tahu apa yang seharusnya ia lakukan, tetapi aku tidak tahu bagaimana menulisnya dengan jujur ketika hidupku sendiri terasa belum selesai.
Ningning mengetuk pintu dan membawa sepiring buah.
'Kau butuh istirahat?'
'Aku perlu menulis penutup. Tapi tidak ada kata yang terasa benar.'
'Mungkin kau tidak perlu menyelesaikannya hari ini.'
'Emily menunggu naskah penuh.'
'Kirim yang sudah kau punya. Jangan memaksakan akhir palsu hanya supaya berkasnya terlihat lengkap.'
Aku menyimpan file dan menutup laptop. Saran itu membuatku sedikit lega. Tenggat tetap ada, tapi aku tak harus berpura-pura memiliki jawaban yang belum kupahami.
Jayden bertanya apakah malam nanti aku ingin ikut menonton acara komedi. Aku mengatakan mungkin, setelah mencoba menyelesaikan satu bagian. Pikiranku sesekali kembali ke apartemen Ethan. Aku berharap ia baik-baik saja, dan berharap ia tidak menganggap kepergianku sebagai hukuman.
**
Menjelang sore, aku masih mencoba menulis di kamar tamu. Aku membuka bab terakhir, lalu menatap halaman kosong. Aku menulis beberapa kemungkinan: tokoh perempuan pergi, tokoh pria menyusul, atau mereka berhenti sebelum saling melukai lebih jauh. Tidak satu pun terasa benar.
Ningning mengetuk pintu dan bertanya apakah aku ingin berjalan sebentar.
'Aku mungkin harus menulis,' jawabku.
'Kau sudah duduk di depan layar dua jam. Jalan kaki tidak akan menghapus naskahmu.'
Aku tertawa kecil dan mengikuti mereka ke taman dekat rumah. Jayden berjalan di depan, sementara Ningning menemani di sampingku. Kami berbicara tentang jadwal kelas dan tugasnya. Aku mencoba mendengarkan sungguh-sungguh, bukan hanya menunggu kesempatan untuk kembali memikirkan Ethan.
'Kau tidak harus menulis akhir yang bahagia hanya karena itu novel romantis,' kata Ningning saat Jayden berhenti membeli minuman. 'Yang penting akhir itu terasa jujur bagi tokohnya.'
'Aku bahkan belum tahu apa yang terasa jujur bagiku.'
'Kalau begitu, mungkin tokohmu juga belum tahu.'
Kami melanjutkan jalan. Udaranya sejuk, dan untuk beberapa saat aku bisa bernapas tanpa dada terasa sesak. Sesampainya di rumah, aku membantu Jayden menyiram tanaman. Aku tidak menulis lagi malam itu. Aku memilih tidur lebih awal, karena tubuhku juga perlu istirahat.
Sebelum tidur, Jayden bertanya apakah aku ingin menonton sesuatu atau membaca saja. Aku memilih menonton komedi bersama mereka. Kami duduk di sofa, dan Ningning meletakkan selimut di pangkuanku.
'Kalian tidak perlu membuatku merasa harus menghibur diri,' kataku.
'Kami tidak sedang menghiburmu,' jawab Jayden. 'Kami memang mau menonton film ini. Kau hanya kebetulan ikut.'
'Filmnya buruk sekali,' kata Ningning.
'Kau yang memilihnya,' balas Jayden.
'Aku memilih berdasarkan poster. Poster itu menipu.'
Aku tertawa. Selama film berlangsung, pikiranku beberapa kali melayang ke apartemen, tetapi suasana di ruang tamu membuatku kembali hadir. Ketika film selesai, aku mengucapkan terima kasih karena mereka membiarkanku tinggal tanpa membuatnya terasa seperti belas kasihan.
Ningning memelukku singkat. 'Kau tidak harus membayar kami dengan rasa terima kasih setiap malam. Besok kita pikirkan sarapan.'
Aku masuk kamar dengan sedikit rasa tenang. Untuk malam itu, rumah sementara terasa cukup aman untuk tidur.
Saat lampu ruang tengah dipadamkan, aku mengucapkan selamat malam kepada mereka. 'Terima kasih sudah membuat rumah ini terasa nyaman,' kataku.
'Tidurlah dulu,' jawab Ningning. 'Besok kita mulai lagi dari sarapan.'