Pagi itu aku terbangun setelah tidur yang tidak nyenyak. Tas kecil masih terbuka di lantai, menunggu keputusan yang semalam kutunda. Dari dapur terdengar bunyi cangkir. Ethan sudah bangun, tetapi pintu kamarnya tertutup. Aku mandi, mengenakan pakaian, lalu memasukkan beberapa potong baju ke tas.
Aku tidak berniat pergi selamanya. Aku hanya ingin beberapa hari untuk menenangkan diri dan memberi Ethan ruang. Namun, setiap pakaian yang kumasukkan terasa seperti pengakuan bahwa kami tidak bisa kembali ke keadaan sebelum ia membaca naskahku.
Saat keluar kamar, Ethan sedang duduk di meja makan. Di kulkas, beberapa memo lama sudah kembali menempel: jadwal bersih-bersih, batas penggunaan meja, serta aturan memberi kabar jika pulang terlambat. Aku berhenti di dekat pintu dapur.
'Kau memasangnya lagi?' tanyaku.
Ia menatap memo-memo itu. 'Aku perlu sesuatu yang terasa jelas sekarang.'
'Aku mengerti.'
Ia tidak meminta maaf atau menjelaskan lebih jauh. Aku membuat kopi sendiri dan berdiri di seberang meja.
'Aku akan tinggal sementara di tempat Ningning dan Jayden,' kataku. 'Aku tidak ingin kita terus berhadapan ketika kau masih butuh ruang.'
Ethan mengangguk pelan. 'Baik.'
'Aku juga harus menyelesaikan tenggat Emily. Aku akan mengabari soal kontrak setelah kita sama-sama lebih tenang.'
'Lakukan yang menurutmu perlu.'
Jawabannya terdengar datar. Aku tahu ia sedang terluka, tetapi tetap saja rasanya seperti berbicara kepada orang yang jauh lebih asing daripada beberapa hari lalu.
**
Aku mengemas laptop, pengisi daya, dokumen Daniel, dan beberapa buku. Aku tidak membawa semua barang karena hanya berencana pergi beberapa malam. Ketika melewati ruang tengah, aku melihat satu buku catatan tertinggal di meja.
'Buku ini milikmu,' kata Ethan.
Ia mengulurkannya tanpa menyentuh tanganku. Aku mengambilnya dan berterima kasih. Kami berdiri berhadapan, masing-masing menunggu sesuatu yang tidak datang.
'Aku tidak ingin pergi dalam keadaan seperti ini,' kataku akhirnya.
'Aku juga tidak ingin semuanya seperti ini. Tapi aku belum tahu bagaimana mempercayai apa yang kubaca.'
'Aku tidak meminta kau langsung percaya. Aku hanya berharap nanti kita bisa membicarakannya lagi.'
Ia menatap lantai. 'Aku belum bisa menjanjikan kapan.'
Aku mengangguk. 'Aku tahu.'
Aku mengirim pesan kepada Ningning bahwa aku akan datang siang ini. Ia menjawab cepat dan menyuruhku tidak membawa apa pun selain diriku sendiri. Aku tahu Jayden juga ada di sana, dan mereka tidak akan membuatku merasa seperti beban.
Sebelum pergi, aku memeriksa dokumen Daniel dan memastikan kunciku masuk ke tas. Ethan tetap di dekat meja. Aku ingin memeluknya, tetapi tidak tahu apakah sentuhan itu akan membuat keadaan lebih baik atau justru membuatnya merasa terdesak. Jadi aku hanya berkata, 'Aku akan pergi sekarang.'
'Hati-hati.'
Aku keluar dengan tas di bahu dan koper kecil di tangan. Pintu tertutup pelan di belakangku. Aku tidak menangis di lorong. Aku menunggu sampai lift bergerak turun, lalu mengembuskan napas panjang. Pergi beberapa hari bukan berarti aku berhenti peduli. Itu hanya cara untuk memberi ruang ketika kata-kata kami belum cukup aman.
**
Perjalanan ke tempat Ningning terasa lebih lama dari biasanya. Aku menatap jalan dari jendela kendaraan dan mencoba menerima bahwa untuk beberapa hari, aku tidak akan melihat Ethan membuat kopi di dapur atau memeriksa oven sebelum tidur. Aku tidak tahu apakah ia juga memperhatikan kekosongan yang kutinggalkan. Aku harus berhenti menebak.
Di halte, setelah mengirim pesan bahwa aku sedang menuju rumah Ningning, aku menerima balasan singkat dari Ethan: 'Terima kasih sudah memberi kabar. Semoga kau bisa beristirahat.' Aku menatap pesan itu lama. Tidak ada kemarahan di sana, tetapi juga tidak ada ajakan untuk pulang. Aku membalas, 'Aku juga berharap kau bisa beristirahat.' Setelah itu aku menyimpan ponsel.
Aku tidak ingin menjadikan pesan pendek sebagai ukuran apakah ia masih menyayangiku. Mungkin ia memang sedang menjaga jarak seperti yang ia minta. Aku harus melakukan hal yang sama, meski rasanya sulit.
Sebelum naik ke apartemen Ningning, aku mengirim pesan kepada Selena bahwa nomor teleponku tetap aktif meskipun aku tinggal sementara di tempat sahabat. Ia membalas bahwa berkas aman dan aku tidak perlu buru-buru menyelesaikan semuanya. Aku mengucapkan terima kasih, lalu memasukkan ponsel ke saku. Setidaknya urusan itu tetap berjalan meski tempat tinggalku berubah sementara.
Sesampainya di rumah mereka, Jayden membantu membawa koper ke kamar tamu. Ia tidak bertanya kenapa aku hanya membawa satu tas kecil.
'Kalau butuh lemari tambahan, bilang saja,' katanya. 'Ningning punya banyak barang, jadi kita sudah ahli mencari ruang.'
'Aku cuma beberapa hari,' kataku.
'Tentu,' jawab Ningning. 'Tapi kalau lebih lama, kita tetap bisa mengatur.'
Aku tersenyum. Mereka tidak menuntutku menentukan berapa lama aku akan tinggal. Aku menyimpan laptop dan map, lalu duduk di tepi ranjang. Kamar itu sederhana, dengan seprai bersih dan sebuah lampu kecil di meja.
Ningning membuatkan makan malam. Kami bertiga duduk di meja makan dan membicarakan hal-hal ringan. Jayden menceritakan pelanggan yang pernah memesan minuman tanpa es, lalu mengeluh karena minumannya terlalu dingin. Ningning menertawakannya. Aku ikut tertawa, meski sesekali pikiranku kembali ke apartemen.
Setelah makan, Ningning menemaniku mengatur barang. Aku mengeluarkan buku catatan dan beberapa pakaian, tetapi membiarkan sebagian besar tetap di koper.
'Kau boleh tinggal tanpa harus terus meminta maaf,' katanya.
'Aku tidak mau merepotkan kalian.'
'Kau bukan tamu yang harus kami layani setiap detik. Kau teman yang sedang butuh ruang. Ada bedanya.'
Aku mengangguk. Kalimat itu membuatku merasa diterima tanpa harus menjelaskan semuanya lagi.
Sebelum tidur, aku meletakkan ponsel di meja dan membaca kembali balasan Ethan dari perjalanan tadi. Ia sudah tahu aku sampai dengan selamat; pesan kedua kukirim setelah Ningning membukakan pintu, tanpa meminta ia menjawab lagi. Kini tidak ada pesan baru. Aku ingin menanyakan apakah ia sudah makan, tetapi takut percakapan itu menjadi cara lain untuk menagih kedekatan yang sedang ia minta jedanya. Aku mematikan layar dan membiarkan percakapan singkat tadi tetap seperti adanya. Ningning dan Jayden memberiku waktu untuk menaruh barang tanpa harus menceritakan setiap kalimat yang terucap di apartemen. Untuk malam pertama ini, aku memilih menerima tempat istirahat yang mereka sediakan.
Jayden menghampiri pintu kamar sebelum aku masuk. 'Kalau ada barang lain yang tertinggal di apartemen, aku bisa menemanimu mengambilnya.'
'Terima kasih. Untuk sekarang, aku cukup membawa yang ini.'
Ningning menambahkan, 'Kau tidak perlu memutuskan malam ini kapan akan pulang.'
'Aku tahu. Aku akan memberi kabar setelah bicara lagi dengan Ethan.'
'Baik. Kami di sini kalau kau butuh apa pun.'