Pagi itu, kami kembali duduk di meja yang sama. Ethan terlihat kurang tidur, dan aku tahu wajahku mungkin tidak jauh berbeda. Pertanyaan dari malam sebelumnya masih menunggu jawaban. Ia berusaha menjaga suaranya agar tidak meninggi.
'Aku mengerti kau belum siap membicarakan naskah itu,' katanya. 'Tapi aku perlu tahu apakah aku hanya bahan untuk cerita yang harus selesai.'
'Tidak. Kau bukan hanya bahan. Aku menyukaimu. Perasaanku nyata. Tapi aku juga penulis, dan aku sering mengambil inspirasi dari hal-hal yang kulihat. Aku mengubahnya menjadi fiksi.'
'Kau pernah menulis adegan dari kejadian di rumah ini?'
Aku menarik napas. 'Iya. Ada beberapa yang terinspirasi dari pengalaman kita. Tapi aku mengubah konteks dan dialognya. Aku tidak menyalin percakapan pribadi kita kata demi kata.'
'Kenapa kau tidak memberitahuku?'
'Karena aku takut kau akan menganggapnya sebagai pengkhianatan. Aku juga takut kau membaca draf sebelum aku selesai dan menilai sesuatu yang masih mentah.'
Ia mengusap wajah. 'Aku tidak tahu harus merasa apa. Aku melihat diriku dalam tokoh itu, dan beberapa adegan seperti mengubah hidup kita menjadi sesuatu yang bisa dijual.'
'Aku tidak pernah bermaksud begitu. Emily menugaskanku menulis novel, dan aku memakai pengalaman serta emosi yang kukenal. Tapi aku tidak menulis untuk mempermainkanmu.'
Ia menatapku, matanya lelah dan tertutup. 'Aku pernah bilang aku takut ditinggalkan setelah membuka diri. Lalu percakapan kita soal kontrak terus tertunda, dan sekarang aku melihat diriku di naskahmu. Aku merasa semua yang kubagikan bisa dipakai tanpa sepengetahuanku.'
'Aku minta maaf karena tidak menjelaskannya lebih awal. Aku seharusnya bicara tentang batas antara inspirasi dan hal pribadi.'
**
Ethan berjalan ke dapur, lalu kembali dengan cangkir yang tidak ia minum. Ia meletakkannya di atas meja.
'Aku tidak sanggup membahas ini sekarang,' katanya. 'Aku perlu waktu untuk memikirkan apa yang kurasakan.'
Kata-katanya terasa dingin. Aku menatapnya, berusaha memahami apakah ia benar-benar memintaku pergi atau sedang bicara dari rasa terluka.
'Kau ingin aku pergi?' tanyaku.
'Aku ingin ruang untuk berpikir. Kontrak serumah kita hampir selesai; kau boleh pergi setelah masa kontrak berakhir. Aku tidak mau tinggal serumah sambil merasa setiap percakapan kita mungkin masuk ke naskahmu.'
'Aku bisa menjelaskan semuanya. Aku bisa menunjukkan perubahan yang kubuat dan menghapus bagian yang membuatmu tidak nyaman.'
'Aku tidak meminta kau mengubah naskah sekarang. Aku hanya tidak tahu lagi bagian mana dari hubungan kita yang pribadi dan bagian mana yang sudah menjadi cerita.'
Aku menggenggam tepi meja. 'Aku seharusnya memberi tahumu. Tapi perasaanku padamu bukan fiksi.'
'Aku tidak bisa menerima itu begitu saja saat ini.'
Ia berjalan ke kamarnya dan menutup pintu perlahan. Tidak ada bantingan, tetapi bunyi klik itu tetap membuat dadaku sakit. Aku berdiri di ruang tengah dengan laptop tertutup dan naskah yang belum selesai.
Emily masih menunggu. Kontrakku hampir selesai. Ethan merasa dikhianati, dan aku tidak tahu bagaimana membuatnya percaya bahwa aku tidak pernah bermaksud menjadikannya sekadar bahan. Aku duduk, membuka laptop, lalu menatap halaman penutup yang kosong. Kata-kata tidak muncul.
Sore itu aku mengirim pesan kepada Emily bahwa aku membutuhkan satu hari tambahan. Setelah itu, aku mulai memilih pakaian yang akan kubawa dalam tas kecil. Aku belum memutuskan akan pergi atau tidak. Aku hanya perlu menyiapkan pilihan, sebagaimana Ethan memintaku. Dari kamar sebelah tidak terdengar suara apa pun. Aku menyadari bahwa keheningan kali ini bukan ruang yang nyaman. Itu jarak yang baru saja tumbuh di antara kami.
**
Menjelang malam aku keluar kamar dan duduk di sofa. Pintu kamar Ethan masih tertutup sejak percakapan tadi pagi. Aku menatap laptop yang juga masih tertutup. Aku ingin mengetuk pintunya, tetapi ia sudah meminta ruang dan aku harus menghormatinya. Aku membuka dokumen hanya untuk memastikan salinan tersimpan, lalu menutupnya lagi. Tidak ada gunanya mengubah naskah dalam keadaan panik, sebelum kami membicarakan batas yang sebenarnya.
Ponselku bergetar. Emily bertanya apakah naskah akan siap esok hari. Aku menulis bahwa aku akan mengirim versi penuh, meski beberapa bagian mungkin masih perlu revisi. Ia menjawab bahwa ia lebih memilih naskah utuh daripada aku memaksakan kesempurnaan. Pesan itu seharusnya melegakan, tetapi malam ini aku hampir tidak bisa memikirkan tenggat.
Aku mengetik pesan kepada Ningning, menghapusnya, lalu mengetik lagi. Akhirnya aku menulis bahwa aku dan Ethan sedang mengalami masalah dan mungkin aku perlu tempat untuk menenangkan diri. Ningning langsung membalas bahwa aku boleh datang kapan saja dan Jayden juga tahu.
Aku berterima kasih, tetapi belum mengatakan aku pasti pergi. Aku tidak ingin menjadikan keputusan Ethan sebagai perintah untuk menghilang. Aku hanya perlu memiliki pilihan jika tinggal bersama terasa terlalu menyakitkan.
Dari balik pintu kamar Ethan tidak terdengar suara. Aku kembali ke kamar dan menarik tas kecil yang tadi sudah kusiapkan ke dekat ranjang. Tanganku gemetar saat membuka ritsletingnya. Aku belum mengemas banyak barang; hanya beberapa pakaian dan perlengkapan yang mungkin kubutuhkan satu atau dua malam. Setelah itu aku berhenti.
Aku masih ingin memperbaiki keadaan. Aku juga tahu rasa percaya tidak bisa dipaksa pulih hanya karena aku takut kehilangan dia. Untuk malam ini, aku akan menyiapkan diri dan membiarkan kami berdua memikirkan apa yang terjadi.
Sebelum tidur, aku memeriksa pintu depan dan memastikan map dokumen Daniel tersimpan aman. Esok masih ada tenggat Emily, percakapan yang belum selesai, dan keputusan tentang tempat tinggal. Aku tidak tahu apakah Ethan akan berubah pikiran. Aku hanya tahu bahwa aku harus menghadapi semuanya tanpa menyamarkan perasaanku menjadi tokoh di halaman.
Aku duduk lagi dan melihat tas kecil itu. Aku tidak ingin mengemas seluruh hidupku dalam satu malam hanya karena Ethan terluka dan aku juga takut. Besok kami masih perlu bicara, bahkan jika jawabannya tidak berubah. Aku berhak meminta penjelasan tentang kontrak, dan ia berhak menentukan batas yang ia perlukan. Aku berharap kami bisa memisahkan dua hal itu dari perasaan kami, tetapi aku tidak bisa memaksa percakapan itu terjadi sebelum ia siap.
Aku tidak pernah bermaksud menulis tentang perceraian atau hal-hal yang Ethan ceritakan dengan susah payah. Yang kuambil adalah kebiasaan sehari-hari dan perasaan yang muncul di antara kami, lalu kuubah menjadi kisah fiksi. Aku ingin ia memahami perbedaan itu, tetapi aku tahu ia berhak membutuhkan waktu sebelum mempercayainya.