Aku terbangun di sofa saat cahaya pagi menyentuh wajahku. Laptop masih terbuka di meja kopi, dan dokumenku memenuhi layar. Aku bangkit cepat, tetapi langkahku terhenti ketika melihat Ethan berdiri di dekat dapur dengan cangkir di tangan.
Ia menatapku, lalu layar itu. 'Aku hendak menutup laptopmu. Halamannya terbuka.'
Aku langsung meraih laptop dan menurunkan layarnya. 'Kau membacanya?'
'Beberapa bagian. Aku tidak sengaja membuka file atau mencari-cari. Tapi aku melihat tokoh pria yang memasang memo di kulkas dan mengatur rumah. Dia terasa seperti aku.'
Aku menelan ludah. 'Aku tidak berniat membiarkanmu membaca draf itu.'
'Aku tahu. Tapi aku sudah melihatnya.'
Rasa malu dan takut bercampur di dadaku. Aku ingin menjelaskan, tetapi ia tampak berusaha memahami sesuatu yang baru saja melukainya.
'Tokoh itu fiksi,' kataku. 'Sebagian inspirasinya memang datang dari hal-hal yang kuamati, termasuk kebiasaanmu. Tapi aku mengubah detail, latar, dan ceritanya.'
'Apa perasaannya juga fiksi?'
Aku diam beberapa detik. 'Perasaanku kepadamu nyata. Tapi aku tidak menulis naskah itu untuk menjadikanmu bahan riset. Emily menugaskanku membuat cerita, dan aku memakai pengalaman sebagai inspirasi. Aku belum tahu cara menjelaskan batasnya dengan baik.'
Ethan meletakkan cangkirnya. 'Aku perlu waktu untuk memikirkan itu.'
'Aku mengerti.'
Ia tidak menuduhku lebih jauh. Ia juga tidak mendekat. Setelah beberapa saat, ia mengambil jaket dan bersiap turun ke toko. Aku ingin meminta ia menunggu, tetapi aku tahu ia sudah mengatakan perlu waktu.
'Kita bisa bicara lagi nanti,' katanya. 'Aku tidak ingin membahas semuanya sebelum bekerja.'
'Baik.'
**
Aku mandi dan bersiap menyusulnya. Sepanjang perjalanan, aku memikirkan apakah aku telah melanggar privasinya hanya dengan memakai inspirasi dari hidup bersama. Aku tidak pernah menulis namanya, dan tidak pernah menyalin percakapan kami secara utuh. Namun, dari sudut pandangnya, tokoh itu mungkin terlihat terlalu dekat.
Di toko, Ethan bersikap sopan dan profesional. Ia membahas pesanan, menanyakan apakah aku sudah sarapan, lalu kembali ke ruang belakang. Tidak ada pertengkaran di depan Daren atau pelanggan. Sikap tenang itu membuatku lebih gelisah daripada jika ia marah.
Daren memperhatikan suasana kami. Saat Ethan keluar untuk menerima bahan, Daren bertanya apakah ada masalah.
'Ethan melihat sebagian naskahku yang terbuka,' kataku pelan. 'Dia mengenali dirinya dalam tokoh pria.'
'Apa kau memang terinspirasi dari dia?'
'Sebagian, iya. Tapi tokohnya bukan dirinya. Aku mengubah banyak hal.'
Daren mengangguk. 'Kau perlu menjelaskan niatmu, tapi jangan memaksa dia langsung menerima penjelasan itu. Dia mungkin perlu waktu.'
'Aku tahu. Aku juga harus memikirkan bagian mana yang terlalu dekat.'
Saat Ethan kembali, kami tidak melanjutkan percakapan. Aku bekerja menyusun kotak. Ia memeriksa oven. Kami bergerak hati-hati, tidak saling menghalangi, tapi jarak di antara kami terasa nyata.
Sepanjang siang, aku mencoba berkonsentrasi pada tugas toko. Aku menimbang bahan, membungkus roti, dan membantu Daren melayani antrean. Namun, setiap kali melihat Ethan, aku teringat ekspresinya saat menemukan tokoh pria di layar. Ia tidak tampak marah karena aku menulis cerita; ia tampak takut bahwa pengalaman kami sudah bukan milik kami lagi.
Saat toko sepi, aku meminta waktu kepada Daren untuk memeriksa naskahku. Aku mencari detail yang terlalu mudah dikenali: memo di kulkas, meja dapur, dan adegan ketika tokoh perempuan menunggu seseorang pulang. Aku telah mengubah latar dan percakapan, tetapi beberapa emosi tetap dekat dengan apa yang pernah kurasakan.
'Kau tidak perlu memutuskan sekarang apakah harus menghapus semuanya,' kata Daren setelah aku menjelaskan kekhawatiranku. 'Bicarakan dulu dengannya. Tanyakan bagian mana yang membuatnya merasa privasinya dilanggar.'
'Aku takut kalau aku membela naskahku, dia mengira aku lebih memilih cerita daripada dirinya.'
'Kau bisa menjelaskan bahwa keduanya penting. Membela batasmu sebagai penulis tidak berarti meremehkan perasaannya.'
Aku menyimpan laptop. 'Aku tidak ingin menyebut perasaan pribadiku sebagai bahan riset.'
'Kalau begitu, katakan dengan jelas. Jangan berharap dia menyimpulkannya dari halaman.'
Nasihat Daren terasa sederhana, tetapi menuntut keberanian. Aku perlu mengakui bahwa tokoh itu mengambil beberapa sifat Ethan. Aku juga perlu menjelaskan bahwa aku mengubahnya menjadi fiksi dan tidak pernah bermaksud menyingkap kehidupan pribadinya.
Malamnya, setelah toko tutup, Ethan menunggu aku menyimpan daftar pesanan sebelum menanyakan apakah kami bisa bicara di apartemen. Aku mengangguk. Aku ingin ia tahu bahwa perasaanku bukan cerita, tetapi aku juga harus mendengarkan rasa tidak nyamannya tentang privasi dan inspirasi. Kami tidak membahasnya di depan Daren.
Sesudah barang-barang tersimpan, Ethan memastikan aku sudah siap berangkat. Aku mengangkat tas sebagai jawaban. Ia mengunci pintu sementara aku memeriksa bahwa laptopku sudah tersimpan, lalu kami berjalan meninggalkan toko bersama.
Dalam perjalanan, aku mengulang kalimat-kalimat yang ingin kusampaikan: aku terinspirasi, bukan menyalin; tokoh itu berdiri sendiri; perasaanku nyata. Aku juga ingin mendengar apa yang membuat Ethan merasa tidak nyaman sebelum memutuskan perubahan apa pun pada naskah. Aku tidak ingin membuat janji menghapus semuanya hanya karena panik. Aku ingin memahami batasnya dan menjelaskan batas milikku.
**
Sesampainya di apartemen, aku menyimpan laptop dan membuat salinan naskah dengan kata sandi baru. Itu tidak menghapus apa yang sudah dibaca Ethan, tetapi setidaknya aku bisa memastikan drafku tidak terbuka lagi tanpa sengaja. Aku tak ingin menjadikan tindakannya sebagai tuduhan; ia memang melihat halaman yang kutinggalkan sendiri di ruang bersama. Namun, aku juga tahu mulai sekarang aku harus menjaga privasi tulisanku dengan lebih baik.
Ethan menungguku di dekat meja makan. Ia tidak duduk, dan aku pun belum melepas jaket. Ada jarak yang membuatku sadar percakapan berikutnya penting bagi kami berdua.
'Aku siap mendengarkan,' katanya. 'Tapi aku masih belum tahu bagaimana harus merasa tentang halaman yang kubaca.'
'Aku ingin menjelaskan, dan aku juga ingin mendengar bagian mana yang membuatmu tidak nyaman. Aku tidak akan memaksamu langsung menerima penjelasanku.'
Ia mengangguk. 'Baik.'
Aku menaruh ponsel dan map kerjaku di meja. Aku mencoba mengatur napas sebelum mulai. Aku tidak bisa menyelesaikan kesalahpahaman dengan menyangkal inspirasinya, tetapi aku juga tidak mau mengaku bahwa seluruh tokoh itu adalah dirinya. Di antara dua kenyataan itu ada cerita yang kutulis, dan ada perasaan yang belum pernah kubicarakan dengan cukup jelas.
Namun, setelah melihat wajahnya yang lelah, aku berhenti. 'Kita sudah sama-sama kelelahan,' kataku. 'Bisa kita bicarakan besok pagi, dengan pikiran lebih tenang?'
Ethan mengangguk. 'Baik. Tapi aku ingin kita benar-benar bicara, bukan menghindarinya lagi.'
'Aku janji.'
Aku menutup laptop dan masuk kamar. Sepanjang malam aku sulit tidur, memikirkan cara menjelaskan tulisan itu tanpa mengecilkan perasaannya.