Hari ketiga sejak Emily menelepon, aku membawa laptop ke meja ruang tengah karena kamar terasa pengap. Ethan sedang memeriksa faktur di sisi lain ruangan. Ia bertanya apakah aku nyaman bekerja di sana.
'Iya. Aku bisa pakai headphone kalau musikmu mengganggu.'
'Aku tidak memutar musik. Tapi kalau kau butuh tenang, aku bisa pindah ke kamar.'
'Tidak perlu. Kita bisa sama-sama bekerja.'
Kami duduk dengan jarak beberapa meter. Aku menyusun ulang bab-bab yang sudah selesai, sementara Ethan memeriksa pesanan. Beberapa kali aku melirik ke arahnya, ingin bertanya apakah pembicaraan soal kontrak masih mengganjal pikirannya. Namun, aku tahu tidak semua percakapan harus segera diulang. Ia sudah meminta waktu dan aku berusaha menghormatinya.
Menjelang sore, aku mengirim sebagian naskah kepada Emily untuk memastikan formatnya benar. Ia membalas bahwa file terbuka dengan baik, lalu mengingatkan bahwa bab terakhir masih kosong.
Pesan itu membuat perutku mengencang. Aku mengangguk sendiri dan kembali mengetik. Ethan melirikku.
'Ada masalah?'
'Belum ada. Aku hanya harus menyelesaikan penutupnya.'
'Kau pasti bisa menemukan caranya.'
'Semoga.'
Ia kembali pada pekerjaannya, tidak meminta melihat file. Aku merasa lega. Aku ingin menyelesaikan cerita ini sendiri, tanpa menjadikan Ethan pembaca pertamaku sebelum aku siap.
**
Malam itu Daren menghubungi dan menawarkan untuk menutup toko esok hari jika aku perlu waktu menulis. Aku berterima kasih dan mengatakan akan melihat jadwal. Setelah panggilan itu, aku bekerja lagi. Aku menulis bagian penutup, tetapi setiap kalimat terasa seperti terlalu banyak atau terlalu sedikit.
Ethan masuk untuk mengambil air. Ia melihat layar yang penuh teks dan beberapa catatan di samping laptop.
'Masih menulis?'
'Iya. Aku mau menyelesaikan satu bagian.'
'Jangan sampai lupa waktu.'
'Aku sudah memasang alarm.'
Ia tersenyum tipis. 'Bagus.'
Aku bertanya apakah ia ingin teh. Ia menolak karena akan tidur lebih dulu. Sebelum masuk kamar, ia berhenti.
'Aku harap kau tahu aku tidak marah padamu karena punya tenggat,' katanya.
'Aku tahu.'
'Aku masih memikirkan obrolan kita tentang ketakutanmu soal kontrak. Tapi aku tidak ingin membuatmu takut bercerita soal pekerjaanmu.'
Aku memandangnya. 'Terima kasih. Aku juga tidak ingin menutup diri. Aku cuma ingin menyelesaikan bagian ini sendiri dulu.'
'Aku mengerti. Selamat malam.'
'Selamat malam.'
Aku kembali menulis. Aku memperbaiki bagian demi bagian, menambahkan adegan yang menghubungkan pilihan tokoh dengan konflik sebelumnya. Aku mengubah nama, pekerjaan, dan beberapa kebiasaan agar cerita berdiri sendiri. Namun, emosi dasarnya tetap datang dari pengalaman yang kulihat dekat: seseorang yang takut ditinggalkan dan seseorang yang tidak mau terus menebak.
Saat alarm berbunyi, aku merasa baru menyelesaikan separuh yang kurencanakan. Aku berhenti cukup lama untuk membaca kembali catatan target. Bagian penutup belum menemukan arahnya, tetapi aku telah menghubungkan adegan pertengkaran dengan keputusan tokoh perempuan meninggalkan rumah. Aku mengganti satu dialog yang terlalu dekat dengan ucapanku sendiri, lalu menyimpan file sebagai versi berikutnya.
Ethan kembali keluar dari kamarnya untuk mengambil faktur yang tertinggal. Ia melihatku masih duduk di meja dan bertanya apakah aku sudah berhenti. Aku mengatakan belum. Ia duduk sebentar dengan berkasnya, sementara aku memindahkan laptop ke meja kopi agar punggungku tidak terus membungkuk di kursi yang sama.
Aku melanjutkan pekerjaan di ruang tengah. Kamar terasa panas, dan aku belum ingin memindahkan semua catatanku ke sana. Aku sudah berjanji pada diri sendiri hanya akan menyelesaikan satu bagian, tetapi saat adegan mulai mengalir, aku sulit berhenti. Ethan duduk di sisi lain ruangan dengan berkas toko. Kami sama-sama diam, sesekali bertukar komentar pendek tentang minuman atau bunyi hujan yang mulai turun.
'Kau masih menulis?' tanyanya saat melewati meja.
'Aku hampir selesai.'
'Kau mengatakan itu satu jam lalu.'
'Sekarang aku benar-benar hampir selesai.'
Ia menunjuk gelas airku yang kosong. 'Setidaknya isi ulang dulu.'
Aku bangkit dan mengambil air. Ketika kembali, aku membaca ulang adegan yang baru kutulis. Tokoh perempuan meminta tokoh pria berhenti membuat keputusan atas namanya. Aku ingin percakapan itu terasa tegas, tetapi tetap menyisakan kasih sayang.
Ethan duduk kembali. 'Kau mau makan sesuatu?'
'Aku sudah makan.'
'Itu beberapa jam lalu.'
'Kau mengawasi jam makanku sekarang?'
'Aku hanya melihat jam.'
'Baiklah. Aku akan ambil biskuit.'
Ia meletakkan piring kecil di dekat laptop. Aku mengucapkan terima kasih dan kembali membaca. Satu dialog terasa salah. Aku menggantinya, lalu menghapusnya lagi. Jam terus bergerak.
Ethan akhirnya berdiri. 'Aku akan tidur. Kau juga harus berhenti tidak lama lagi.'
'Satu paragraf lagi.'
'Kau bilang begitu saat aku menawarkan biskuit.'
'Kali ini sungguh.'
Ia tampak ingin mengingatkanku lagi, lalu memilih tidak. 'Selamat malam, Shopia.'
'Selamat malam.'
Aku melihatnya masuk kamar. Hujan semakin deras, dan bunyinya membuat ruang tengah terasa nyaman. Aku mengetik paragraf terakhir, membaca ulang dua halaman, kemudian menambahkan catatan untuk revisi esok. Mataku berat. Aku menekan simpan, tetapi tidak menutup laptop. Aku berniat melakukannya setelah membasuh muka.
Aku membaca ulang bab itu dan menyadari beberapa kalimat terdengar terlalu dekat dengan percakapan pribadi kami. Aku mengubah dialog langsung menjadi reaksi yang berbeda, lalu mengganti latarnya. Tokoh pria tetap terinspirasi dari sifat yang kuamati, tetapi ia memiliki pilihan dan kesalahan sendiri. Aku ingin menulis manusia, bukan memindahkan Ethan ke halaman.
Namun, aku terlalu lelah. Aku hanya menyandarkan kepala di sofa sebentar, masih mengenakan kardigan, lalu tertidur. Layar tetap menyala pada halaman tokoh pria yang menempelkan memo aturan di kulkas. Di sudut dokumen ada satu adegan tentang ciuman yang hampir terjadi, juga percakapan yang diambil dari emosi yang kukenal. Aku tidak tahu Ethan akan melihatnya sebelum aku sempat menutup laptop.
**
Lampu ruang tengah tetap menyala ketika aku tertidur di sofa. Laptop berada di meja kopi, layarnya menghadap ke arah kursi yang biasa dipakai Ethan membaca. Di dokumen itu, tokoh perempuan berbicara tentang takut kehilangan seseorang yang bahkan belum pernah berjanji akan tinggal. Aku tidak tahu bahwa kalimat tersebut akan terasa sangat pribadi bagi Ethan.
Aku sempat setengah terbangun ketika hujan berhenti, tetapi tidak cukup sadar untuk berdiri. Layar laptop masih menerangi ruangan. Aku berpikir akan bangun sebentar lagi dan menutupnya, lalu kembali tertidur. Dalam keadaan lelah, pikiranku tidak menangkap bahwa dokumen itu memuat bagian yang paling dekat dengan kehidupanku bersama Ethan.