Keesokan paginya, aku bangun lebih awal untuk menulis sebelum toko buka. Aku menyeduh kopi, membuka laptop, dan mengerjakan satu adegan yang sudah lama kutunda. Tokoh perempuanku harus memutuskan apakah ia akan mempertahankan hubungan yang belum jelas atau memilih pergi. Aku ingin menulisnya dengan jujur, tetapi belum tahu bagaimana akhir yang terasa benar.
Ethan muncul dari kamar dan berhenti saat melihat layar penuh paragraf.
'Kau sudah bangun lama?' tanyanya.
'Baru satu jam.'
'Kau tidur cukup?'
'Lumayan.'
Ia tahu jawabanku tidak sepenuhnya meyakinkan. Namun ia tidak mengomel. Ia hanya membuatkan satu telur dan meletakkannya di samping kopi.
'Makan dulu sebelum kita turun,' katanya.
'Terima kasih.'
Aku menyimpan dokumen dan menutup laptop. Kami berangkat ke toko bersama. Ethan tidak bertanya apa isi tulisanku. Aku merasa lega sekaligus aneh karena menyembunyikan layar seperti aku punya sesuatu untuk ditakuti.
Pekerjaan hari itu padat. Ada pesanan untuk rapat kantor dan beberapa pelanggan datang bersamaan. Aku membantu Daren mengatur bungkus, sementara Ethan menangani oven. Saat toko agak sepi, aku memeriksa ponsel dan melihat pesan Emily yang menanyakan perkiraan waktu pengiriman naskah.
Aku membalas bahwa aku sedang menyelesaikan bab akhir dan akan mengirim sebelum tenggat. Emily mengirim tanda jempol dan mengingatkanku agar tidak mengorbankan kesehatan.
'Semua orang mengingatkanku soal tidur,' kataku kepada Daren.
'Mungkin karena semua orang melihatmu menguap,' jawabnya.
'Aku cuma sedang menguap kreatif.'
'Itu istilah baru?'
'Mulai hari ini.'
Ethan mendengar percakapan itu dari belakang meja. 'Kalau begitu, aku akan menambahkan istilah itu ke kamus toko.'
'Jangan. Nanti pelanggan menanyakannya.'
Kami tertawa ringan. Aku merasa suasana sedikit pulih. Namun, saat Ethan bertanya apakah aku akan menulis lagi malam ini, aku menjawab iya. Ia menawarkan untuk tidak mengganggu, dan aku berterima kasih.
**
Malamnya aku bekerja di kamar. Aku menulis sampai beberapa halaman bertambah, lalu berhenti untuk membaca ulang. Bagian akhir masih belum selesai. Aku menghapus dua paragraf, menulis ulang satu dialog, lalu kembali ke versi awal. Jam bergerak lebih cepat dari yang kusadari.
Ethan mengetuk pintu dan bertanya apakah aku mau makan. Aku melihat jam dan terkejut sudah hampir pukul sembilan.
'Aku akan makan sebentar lagi,' jawabku.
'Aku bisa membawakan makanan ke sini.'
'Tidak perlu. Aku akan keluar setelah menyimpan halaman ini.'
Ia menunggu di lorong. Aku menyimpan dokumen, menutup laptop, lalu keluar. Kami makan di meja dapur. Ia bercerita bahwa pemasok mengubah jadwal pengiriman. Aku mendengarkan sambil memikirkan bagian naskah yang belum selesai, berusaha tidak membuka laptop di tengah makan.
'Kau kelihatan masih memikirkan tulisanmu,' katanya.
'Aku hanya takut tidak selesai tepat waktu.'
'Kau masih punya beberapa hari. Jangan membuat dirimu panik sebelum waktunya.'
'Aku akan mencoba.'
Setelah makan, aku mengambil buku catatan dari kamar dan kembali ke meja. Sebelum menambah halaman, aku ingin memastikan perubahan tokoh pria tidak merusak alasan tokoh perempuan bertahan dalam cerita. Aku membaca dua versi adegan yang sudah kusimpan. Pada satu versi, ia menunggu jawaban tanpa melakukan apa-apa. Pada versi lain, ia mengambil keputusan yang membuat pekerjaan mereka berantakan. Aku memilih versi kedua, lalu menandai bagian yang masih membutuhkan akibat.
Aku menuliskan tiga adegan tersisa pada kertas kecil. Yang pertama dapat kuselesaikan malam ini; dua lainnya belum memiliki sambungan yang masuk akal. Untuk sementara aku membiarkan judul bab penutup kosong, bukan mengisinya dengan pernyataan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ketika kulihat keranjang cucian Ethan sudah berada di lorong, aku sudah tahu adegan mana yang akan kukerjakan dalam waktu satu jam berikutnya.
Sesudah menentukan adegannya, aku menyiapkan diri untuk bekerja dengan lebih teratur. Aku membawa segelas air, mengatur alarm satu jam, dan menutup semua tab yang tidak berkaitan dengan naskah. Ethan lewat sambil membawa keranjang pakaian.
'Kau sudah membuat tempat kerja seperti ruang kendali,' katanya.
'Aku sedang mencoba supaya tidak terganggu.'
'Apa aku perlu melapor sebelum melewati mejamu?'
'Tidak perlu. Tapi jangan membaca layar dari balik bahuku.'
Ia berhenti. 'Aku tidak akan melakukannya.'
'Aku tahu. Aku hanya ingin jelas soal tulisan ini.'
'Itu hakmu. Kalau suatu saat kau ingin membagikannya, biar itu keputusanmu.'
Aku mengangguk. Aku merasa lebih baik setelah mengatakan batas itu dengan suara keras. Ethan tidak tersinggung atau bertanya kenapa aku begitu berhati-hati. Ia melanjutkan pekerjaannya dan memberiku ruang.
Aku kembali ke paragraf tokoh pria. Ia dibuat terlalu mirip seseorang yang kukenal dalam kebiasaan mengatur rumah. Aku mengubah cara tokoh itu bicara, memberinya pekerjaan berbeda, dan menghapus detail yang hanya berlaku pada apartemen kami. Namun, aku membiarkan sifat dasarnya tetap rumit. Ia bukan pria sempurna yang selalu tahu harus berkata apa. Ia juga bukan orang jahat karena takut.
Saat alarm berbunyi, aku telah menyelesaikan dua halaman. Aku berdiri, meregangkan punggung, dan membuat teh. Ethan masih di ruang tengah, membaca catatan toko.
'Bagaimana targetmu?' tanyanya.
'Dua halaman selesai.'
'Bagus. Berarti kau boleh berhenti.'
'Aku baru mau minum teh dulu.'
'Itu tidak sama dengan kembali bekerja?'
'Tergantung apakah tehnya memberi inspirasi.'
Ia tersenyum. Kami berbicara sebentar tentang pelanggan tetap yang selalu meminta roti paling ujung. Setelah itu aku kembali ke meja, tetapi hanya untuk menyimpan dokumen dan menutup laptop. Aku ingin membuktikan kepada diriku bahwa aku bisa berhenti sebelum terlalu lelah.
Aku menulis target untuk esok hari di buku catatan, lalu menggeser laptop yang sudah tertutup menjauh dari tepi meja. Naskahnya belum selesai, tetapi untuk pertama kalinya tenggat itu terasa seperti pekerjaan yang bisa dibagi, bukan tembok yang mendekat. Aku belum ingin tidur; aku hanya ingin mengistirahatkan mata sebelum memikirkan batas yang perlu kujaga.
**
Sebelum tidur, aku sempat memikirkan apakah Ethan mungkin suatu hari ingin membaca cerita itu. Aku belum ingin membagikannya sekarang. Bukan karena aku berniat menyembunyikan kenyataan selamanya, tetapi karena aku ingin naskah itu siap berdiri sebagai cerita sebelum seseorang yang menjadi inspirasinya membacanya.
Aku menuliskan batas itu di catatan pribadi: jangan menjadikan ketakutan sebagai alasan untuk menghindari percakapan; jangan pula menyerahkan tulisan hanya karena merasa bersalah. Aku ingin memilih waktu yang tepat dengan sadar.
Ethan mengetuk kusen sebelum masuk. 'Kau sudah selesai untuk malam ini?'
'Sudah. Aku menyimpan semuanya dan besok lanjut lagi.'
'Bagus. Jangan biarkan tenggat membuatmu lupa menjaga dirimu sendiri.'
'Aku akan berusaha. Selamat malam.'
'Selamat malam, Shopia.'