Pagi setelah percakapan dengan Ethan, suasana apartemen terasa lebih tenang daripada yang kuduga. Ia membuat kopi dan menyisakan satu cangkir untukku. Kami tidak membahas lagi kabar tentang Daniel. Sebelum berangkat ke toko, ia hanya berkata, 'Kalau ada perkembangan dari Selena, beri tahu aku.'
'Akan kuberitahu,' jawabku.
Kami masih berhati-hati, tetapi setidaknya tidak lagi menyembunyikan hal yang sama. Aku sedang menata daftar pesanan ketika ponselku berdering. Emily menelepon dari kantor penerbit.
'Shopia, aku perlu bicara soal naskahmu,' katanya. 'Tenggat penyerahan naskah penuh tinggal beberapa hari. Aku ingin tahu apakah kau bisa mengirimkannya tepat waktu.'
Aku melihat halaman yang masih belum selesai di laptop. 'Aku sedang menyelesaikan bagian akhir. Aku akan berusaha mengirim sesuai tenggat.'
'Aku percaya padamu, tapi tim penyunting perlu waktu membaca. Tolong kirim versi lengkap, bukan hanya bab yang sudah rapi. Kalau ada bagian yang masih perlu dipoles, kita bisa membahasnya setelah itu.'
Aku mengangguk meski ia tak bisa melihatku. 'Baik. Aku akan mengirimnya.'
Setelah telepon berakhir, aku membuka daftar tugasku. Masih ada beberapa bab yang harus ditulis, termasuk penutup. Aku tahu naskah ini penting untuk pekerjaanku dan kesempatan berikutnya. Tapi belakangan, menulis bagian yang terinspirasi dari Ethan terasa lebih sulit daripada sebelumnya.
Daren melihatku menatap layar kosong di sela pekerjaan.
'Emily?' tanyanya.
'Dia meminta naskah penuh sebelum tenggat. Tinggal beberapa hari.'
'Kau bisa menyelesaikannya. Tapi jangan lupa makan dan tidur.'
'Aku akan mencoba.'
Daren melirik Ethan yang sedang mengangkat nampan ke rak. 'Kalau perlu waktu untuk menulis, beri tahu kami. Kita bisa membagi tugas toko.'
Aku berterima kasih. Aku ingin memberitahu Ethan secara langsung, tetapi kami masih berhati-hati setelah pembicaraan soal kontrak. Aku ingin membicarakan waktuku menulis sebagai kebutuhan kerja, bukan meminta ia membatalkan pesanannya untuk menenangkanku.
**
Siang itu aku menghadiri pertemuan Selena sesuai jadwal. Ia mencocokkan identitasku dengan salinan transfer dan memintaku memeriksa rekening tujuan pengembalian. Aku membacakan bagian yang diminta, memastikan tidak ada angka tertukar. Berkas penipuan apartemen tetap terpisah dari catatan alamat ruko korban lain. Selena memberi salinan bukti penyerahan tambahan, lalu mengatakan penetapan dana belum selesai. Aku tidak pulang membawa uang atau janji tanggal pencairan. Aku membawa tanda terima yang kusimpan bersama koreksi keteranganku tentang sewa tiga bulan. Sesudah pertemuan itu, aku menyelesaikan urusan di kampus sebelum kembali sebentar ke toko.
Saat istirahat siang aku membawa laptop ke meja depan toko. Ethan sedang membaca catatan persediaan. Aku membuka dokumen dan melihat tokoh utama pria yang kubentuk dari beberapa kesan tentang Ethan: teliti, menyembunyikan rasa takut di balik aturan, dan selalu ingin memperbaiki keadaan sebelum orang lain menyadari ada masalah.
Aku tidak menyalin hidupnya. Namun, beberapa adegan memang berawal dari pengalaman kami tinggal bersama. Aku mengubah tempat, dialog, dan urutan peristiwa. Aku menulis tentang seseorang yang menaruh memo di kulkas agar rumah terasa terkendali, lalu perlahan belajar bahwa kedekatan tidak bisa diatur dengan daftar.
'Kau menulis?' tanya Ethan.
Aku mengecilkan jendela dokumen. 'Iya. Emily menagih naskah penuh.'
'Kau sudah dekat tenggat?'
'Beberapa hari lagi. Aku akan mencoba menyelesaikannya.'
'Kalau kau perlu suasana tenang, aku bisa bekerja di toko besok malam.'
'Terima kasih. Aku mungkin akan memakai meja di kamar.'
Ia mengangguk. 'Baik.'
Aku ingin berkata bahwa tokoh pria dalam naskah bukan Ethan, meski sebagian inspirasinya memang datang darinya. Namun, aku belum tahu bagaimana menjelaskannya tanpa membuatnya merasa harus membaca atau menilai. Aku menutup dokumen dan membuat salinan cadangan, lalu mulai menyusun rencana agar pekerjaan selesai dalam beberapa hari.
Sebelum kembali membantu di depan, aku menulis target jumlah halaman untuk malam nanti. Aku tidak ingin begadang, tetapi tenggat membuatku gelisah. Ethan menutup catatan persediaan dan mengambil kotak pesanan. Aku berharap pembagian waktu yang baru dibicarakan tidak membuatku terus merasa harus memilih antara membantu toko dan menyelesaikan pekerjaan untuk Emily.
**
Siang hari, Emily mengirim daftar teknis yang perlu kupastikan sebelum menyerahkan naskah: nama berkas konsisten, halaman bernomor, dan semua bab berada dalam satu dokumen. Ia juga menyarankan agar aku memberi tanda pada bagian yang masih ingin direvisi, bukan menyembunyikannya.
Aku membalas bahwa aku akan mengirim versi lengkap terlebih dahulu. Menutup pesan itu, aku membuat folder khusus dan memindahkan semua bab ke sana. Pekerjaan yang tampak sederhana itu ternyata membantu pikiranku lebih teratur.
Ethan menghampiri meja sambil membawa daftar pesanan. 'Kau mau istirahat sebentar?'
'Sebentar lagi. Aku baru merapikan berkas.'
'Kau tidak perlu menyelesaikan semuanya hari ini.'
'Aku tahu. Tapi kalau aku menyelesaikan bagian teknis sekarang, besok aku bisa fokus menulis.'
Ia membaca wajahku, lalu mengangguk. 'Kalau begitu, aku tidak akan mengganggumu.'
'Kau tidak mengganggu. Aku hanya harus menyusun waktuku.'
Ethan tersenyum kecil. 'Baik. Tapi makan siang tetap harus masuk jadwalmu.'
'Jangan mulai membuat jadwal untukku.'
'Aku cuma menyarankan.'
'Aku tahu.'
Kami tertawa, dan ketegangan kecil itu mengendur. Aku merasa nyaman ia memperhatikanku, tetapi juga ingin memastikan aku tidak mengandalkan perhatian itu untuk menghindari tanggung jawab pada diriku sendiri.
Setelah toko agak sepi, aku makan bersama Daren. Ia bertanya apakah aku punya rencana untuk menyelesaikan naskah. Aku menjelaskan bahwa aku akan membagi bab-bab yang tersisa menjadi beberapa target kecil.
'Itu lebih masuk akal daripada menunggu inspirasi turun dari langit,' katanya.
'Inspirasi bisa saja turun.'
'Bisa, tapi jangan jadikan itu satu-satunya strategi.'
Aku tertawa. Saran itu sederhana, tetapi benar. Sore itu aku menyelesaikan penyusunan dokumen dan mencatat bagian yang perlu diperiksa. Aku belum bisa menulis akhir cerita, tetapi setidaknya aku tahu pekerjaan apa yang harus kulakukan berikutnya.
**
Di akhir shift, Emily mengirim satu pesan lagi, kali ini menanyakan apakah aku masih memiliki salinan cadangan. Aku mengirim tangkapan layar folder dan ia membalas agar aku tidak mengirim draf ke alamat yang salah. Aku tertawa kecil membaca pesannya. Perhatian kecil itu membuat tenggat terasa lebih nyata, tetapi juga memberiku daftar tindakan yang bisa kuselesaikan satu per satu.
Aku menyimpan salinan ke penyimpanan awan, lalu memastikan semua bab lama berada dalam dokumen yang sama dengan bab baru. Ketika selesai, aku memberi tanda pada bagian akhir yang belum rampung. Aku tahu pekerjaanku belum sempurna, tapi Emily memang meminta naskah lengkap, bukan naskah tanpa cela.
Saat kami pulang, Ethan bertanya apakah aku ingin makan di luar atau di rumah. Aku memilih makan di rumah karena ingin menulis setelahnya. Ia memasak nasi, sementara aku menyiapkan sayuran. Kami tidak membahas masalah Daniel atau hubungan kami. Percakapan kami hanya tentang pekerjaan dan resep.
Selesai makan, aku mengucapkan terima kasih. Ethan bertanya apakah aku butuh sesuatu sebelum ia kembali ke toko untuk mengambil barang yang tertinggal.
'Tidak. Aku punya semua yang kubutuhkan.'
'Baik. Jangan ragu bilang kalau berubah.'
Aku mengangguk. Ia keluar sebentar dan kembali membawa kotak bahan. Aku mulai menyusun target malam itu: menyelesaikan satu bab dan mengedit bagian sebelumnya. Naskah penuh terasa lebih dekat, meski aku belum tahu bagaimana menutup cerita tokoh-tokohnya.