Pagi itu aku turun ke toko membawa map dan laptop. Pertemuan Selena dijadwalkan esok siang. Aku sudah memberitahu Ethan dan berniat menyelesaikan tugas toko yang bisa kukerjakan sebelum berangkat ke kampus. Namun ketika membuka daftar di meja, aku menemukan namaku tercantum untuk membantu pengemasan sampai sore besok.
Daren mengangkat wajah saat aku menunjuk baris itu. 'Aku belum menerima perubahan jadwalnya.'
'Selena mengirim konfirmasi kemarin. Aku menunjukkan pesannya kepada Ethan.'
'Mungkin dia belum memindahkannya ke daftar ini. Kita periksa.'
Ia tidak langsung mencoret namaku. Daren melihat pesanan yang tertera dan memisahkan kotak yang bisa disiapkan hari ini. Aku ikut menghitung. Kami baru menyusun beberapa kotak kosong ketika Ethan masuk dari ruang belakang membawa daftar pengiriman.
'Aku tidak bisa membantu sampai sore besok,' kataku sebelum ia menambahkan tugas lain. 'Ada pertemuan Selena.'
Ia berhenti. 'Benar. Aku ingat pesannya. Aku belum memperbarui giliran.'
Daren memutar daftar ke arahnya. 'Kotak bisa disiapkan sekarang, tapi pengisian tetap menunggu kue dingin. Aku bisa mengurus bagian depan kalau kau menangani pengemasan.'
Ethan membaca pesanan, lalu mengangguk. Ia mencoret namaku pada sore esok dan menuliskan namanya sendiri. Aku melihat goresan pena itu dengan lega yang terasa berlebihan. Ketakutan soal kontrak kemarin belum benar-benar meninggalkanku; kesalahan jadwal kecil hampir langsung kubaca sebagai tanda bahwa aku merepotkan mereka.
'Aku bisa kembali setelah pertemuan kalau cepat selesai,' kataku.
'Jangan menjanjikannya sebelum tahu,' jawab Daren. 'Kita buat rencana yang tidak bergantung pada kau terburu-buru.'
Aku mengangguk, tetapi masih memegang spidol untuk label. Ethan menunjuk kursi di belakang meja. 'Kita periksa tugasmu hari ini juga. Kau bilang ada kelas.'
'Aku harus pergi sebelum siang.'
'Kalau begitu, cukup bantu kotak kosong. Sisanya kami kerjakan.'
Ia menarik tumpukan kotak berisi pesanan ke sisinya. Perubahan itu nyata, meskipun ia hanya menggeser beberapa baris di daftar. Aku berhenti menawarkan seluruh sisa waktuku untuk mengganti kesalahan yang bukan kubuat.
**
Ketika Daren melayani pelanggan, aku membawa map ke ruang belakang agar tidak terkena remah. Ethan mengikutiku untuk mengambil bahan. Aku mengatakan bahwa aku sempat mengira ia marah karena harus mengubah giliran.
'Karena pertemuan Selena? Tidak,' katanya. 'Aku sendiri yang lupa mencatatnya.'
'Aku tahu setelah kau menjelaskan. Sebelumnya aku langsung memikirkan percakapan kita kemarin.'
Ia meletakkan wadah di rak. 'Kau masih mengira aku akan mengaitkan hasil perkara dengan kontrak?'
'Aku sedang berusaha tidak melakukannya. Tapi aku ingin kau tahu kalau ketakutan itu muncul lagi, bukan berpura-pura sudah hilang hanya karena kita bicara sekali.'
Ethan bersandar pada tepi meja. 'Aku juga perlu membedakan menanyakan kabar dan meminta kau melaporkan semua hal kepadaku.'
'Aku boleh bercerita kepada Daren atau Ningning tanpa membuatmu orang yang harus mengetahui semuanya lebih dulu.'
'Ya. Aku tidak ingin jadi orang yang memeriksa urutan kepada siapa kau bicara.'
Aku menghela napas. 'Yang perlu kita bicarakan langsung adalah keputusan yang menyangkut kita berdua. Seperti jadwal kerja yang sudah kusanggupi atau tempat tinggalku. Bukan setiap percakapan pribadi.'
Ia mengangguk. 'Untuk jadwal ini, aku yang salah. Untuk kontrak, kita sudah sepakat meninjaunya terpisah dari hubungan. Aku tidak akan mengubah tanggal atau memintamu pergi karena dana itu mungkin kembali.'
Jawabannya membuatku tenang, tetapi aku tidak meminta ia mengulanginya sebagai janji tambahan. Aku mengambil map dan memasukkannya ke tas. Di halaman terdepan ada konfirmasi pertemuan. Aku sudah mengetahui waktunya; tidak perlu berpura-pura masih menunggu jadwal untuk menghindari membuat rencana.
Saat kembali ke depan, Daren sedang menghadapi pelanggan yang meminta jumlah kotak berbeda dari catatan pesanan. Ia memanggil Ethan untuk memeriksa pesan pemesanan. Aku hendak membuka tumpukan yang sudah dilabeli, tetapi Ethan menyuruh kami menunggu sampai jumlahnya dipastikan.
Pelanggan itu menunjukkan pesan lanjutan yang belum masuk ke daftar. Daren mencocokkannya, meminta maaf, lalu memisahkan pesanan tambahan dari yang sudah siap. Aku menulis label baru, bukan mengganti semua label lama. Ketika selesai, sisa kotak untuk esok masih ada di rak yang benar.
'Hari yang bagus untuk menyadari daftar bisa tertinggal dari pesan,' kataku.
Ethan mengangkat daftar yang tadi ia ubah. 'Dua kali dalam satu pagi.'
Daren tertawa pendek. 'Cukup dua. Setelah ini baca pesan sebelum membuat daftar.'
Aku ikut tertawa. Kesalahan itu tidak menyenangkan bagi pelanggan yang harus menunggu, dan Daren memastikan pesanannya diperiksa lagi sebelum diserahkan. Namun tidak seorang pun memerlukan penjelasan panjang tentang siapa yang paling peduli. Mereka memperbaiki yang terlewat, lalu melanjutkan pekerjaan.
Menjelang waktu berangkat, aku membersihkan spidol yang menempel di jariku. Ethan menanyakan apakah aku ingin ditemani ke pertemuan Selena esok. Aku mengatakan ingin pergi sendiri karena setelahnya perlu kembali ke kampus.
'Baik. Kabari kalau rencanamu berubah,' katanya.
Aku menyimpan laptop dan memastikan map berada di tas yang sama. Daren mengangkat tangan dari kasir ketika aku pamit. Di pintu, aku menoleh kepada Ethan dan mengingatkan bahwa aku tidak akan kembali membantu sore ini juga; ada halaman yang harus kuselesaikan untuk Emily.
'Aku sudah mencatatnya,' jawabnya sambil memperlihatkan baris yang kosong.
Aku keluar tanpa menawarkan mengganti waktu itu dengan bekerja sampai malam. Di halte, kubuka dokumen naskah dan membaca paragraf terakhir yang kutulis. Di bagian itu, tokoh perempuanku masih menunggu orang lain menyelesaikan percakapan. Aku memindahkan satu baris dialognya ke awal adegan, lalu memberinya alasan meninggalkan meja sebelum lawan bicaranya menjawab. Perubahan itu memaksaku menulis akibat yang sebelumnya tidak ada: pekerjaan yang mereka tangani bersama tertunda dan harus dibagi ulang. Aku menandai bagian penghubung untuk diperbaiki setelah kelas. Ketika kendaraan datang, aku sudah punya tugas yang jelas untuk dikerjakan nanti, bukan sekadar halaman kosong yang kubawa dari satu meja ke meja lain. Kisahku belum selesai, begitu juga urusan Daniel dan kesepakatan serumah. Tetapi hari ini aku memiliki waktu yang benar-benar bisa kupakai untuk pekerjaanku sendiri, dan aku berniat menggunakannya.