Pagi berikutnya, sebelum percakapanku dengan Ethan, Daren datang ke apartemen untuk mengantarkan catatan pesanan yang tertinggal. Aku sedang menata map di meja. Ia bertanya apakah aku sudah bicara dengan Ethan. Aku menggeleng.
'Aku belum menemukan waktu yang tepat.'
'Waktu yang tepat mungkin tidak datang sendiri,' katanya. 'Kau bisa memulai dengan menyampaikan apa yang sudah kau tahu.'
Aku menghela napas. 'Aku tahu. Aku akan melakukannya hari ini.'
Daren tidak menambahkan nasihat. Ia pamit setelah meletakkan catatan. Saat pintu tertutup, aku menyiapkan teh dan menunggu Ethan selesai mandi. Aku bahkan berlatih kalimat pembuka di kepala: Daniel dan dana sudah ia ketahui. Yang perlu kukatakan sekarang adalah ketakutanku soal kontrak kami.
Namun, ketika Ethan keluar, ia menerima pesan dari toko dan harus menjawabnya. Aku menunggu sampai ia selesai, lalu melihatnya membuka laptop. Ia sedang mengurus jadwal pengiriman dan terlihat berkonsentrasi.
'Ethan, aku perlu bicara,' kataku.
Ia menutup laptop setengah. 'Tentu. Ada apa?'
Aku membuka mulut. Ponselku berdering. Selena menelepon untuk mengabarkan bahwa ia baru menerima jadwal pemeriksaan lanjutan. Aku mengangkatnya, meminta Ethan menunggu sebentar.
Selena menyampaikan tanggal dan beberapa hal yang perlu kubawa. Setelah menutup telepon, aku kembali menghadap Ethan. Ia menunggu dengan sabar.
'Tadi itu Selena?' tanyanya.
'Iya. Ada jadwal pemeriksaan lanjutan.'
Ia tidak bertanya lebih jauh. Ketika aku kembali mengemas dokumen, ia masuk sebentar ke ruang kerjanya untuk menyimpan laptop. Aku kembali ragu. Aku merasa harus memahami semua detail sebelum berbicara, padahal inti masalahnya sudah cukup jelas.
**
Sesudah panggilan itu, aku mengemas dokumen ke dalam map baru. Ethan keluar dari ruang kerja dan melihatku menyusun kertas berdasarkan tanggal.
'Kau terlihat sedang menyiapkan sesuatu yang penting,' katanya.
'Aku harus membawa dokumen untuk urusan lama.'
'Jadwal pemeriksaan yang baru kaukatakan tadi?'
Aku berhenti. 'Iya.'
Ia menunggu penjelasan, tetapi aku tidak melanjutkan. Hening itu menjadi jawaban tersendiri.
'Bagaimana dengan percakapan soal kontrak yang kaujanjikan?' tanyanya pelan.
'Aku belum tahu semuanya.'
'Kita tidak perlu tahu hasil pemeriksaan untuk membicarakan tempat tinggalmu.'
Aku merapatkan map. 'Aku takut pembicaraan ini akan membuatmu berpikir aku tidak seharusnya tinggal di sini lagi.'
Wajahnya berubah. Bukan marah, melainkan terluka. 'Kenapa kau mengira aku akan langsung mengusirmu?'
'Aku tidak tahu. Kontrak kita akan ditinjau lagi nanti, dan aku tidak mau menjadi masalah tambahan.'
'Kau bukan masalah tambahan, Shopia. Tapi aku berharap kau bisa mempercayaiku untuk mendengar cerita lengkapmu.'
Aku ingin menjawab bahwa aku percaya padanya, tetapi tindakanku tidak menunjukkan itu. Aku menunduk. 'Aku minta maaf. Aku seharusnya bicara lebih cepat.'
Ethan menarik napas, lalu melihat jam. 'Aku masih punya waktu sebelum ke toko. Kita pindah ke dapur dan duduk, supaya ini tidak menjadi percakapan sambil berkemas lagi.'
'Bisa.'
'Tolong jangan tahan bagian yang menurutmu akan membuatku khawatir. Aku lebih memilih mendengarnya langsung darimu.'
'Aku akan menjelaskan apa yang sebenarnya kutakutkan.'
Ia mengangguk, tetapi jarak di antara kami terasa lebih besar daripada sebelumnya. Aku tahu sisa percakapan pagi ini tidak akan mudah. Setidaknya, kali ini aku telah berjanji untuk tidak lagi bersembunyi di balik alasan menunggu kepastian.
**
Aku masuk ke dapur dan menemukan Ethan membuat kopi. Ia menyodorkan cangkir tanpa bertanya, lalu duduk di seberangku. Aku bisa melihat bahwa ia sedang menunggu kelanjutannya, tetapi tidak ingin menekanku.
'Aku takut kalau urusan ini selesai, kau akan merasa tidak ada alasan bagiku untuk tinggal,' kataku akhirnya.
Ia terdiam. 'Itu yang kau pikirkan selama ini?'
'Sebagian. Kontrak kita akan ditinjau lagi. Aku tahu mungkin aku terlalu cepat menyimpulkan, tapi aku takut kehilangan tempat tinggal dan kehilangan kedekatan kita sekaligus.'
Ethan menaruh cangkir. 'Aku mengerti rasa takut itu. Tapi kau seharusnya memberitahuku supaya kita bisa membicarakannya, bukan memutuskan sendiri apa yang akan kulakukan.'
'Kau benar. Aku minta maaf.'
'Aku tidak mau menjadikan tempat tinggalmu sebagai alat untuk mengatur hubungan kita. Kontrak harus kita bicarakan secara terpisah dari perasaan.'
Aku mengangkat wajah. 'Kau tidak akan memperpanjangnya hanya karena merasa harus melindungiku?'
'Aku ingin membuat keputusan yang adil untuk kita berdua. Kalau kita sepakat tinggal bersama, itu harus karena pengaturan ini baik bagi kita, bukan karena rasa kasihan atau rasa takut.'
Jawaban itu tidak menjanjikan bahwa aku bisa tinggal selamanya, tetapi terasa jujur. Aku lebih menghargai itu daripada janji spontan yang mungkin disesali nanti.
**
Kami sepakat membicarakan kontrak pada hari lain, ketika tidak sedang menghadapi urusan Daniel. Ethan mengatakan ia kecewa karena aku berkali-kali menunda percakapan yang kuminta sendiri, tetapi ia tidak ingin satu kesalahan membuat semua percakapan kami sebelumnya kehilangan makna.
'Aku tidak berharap kau langsung percaya lagi hanya karena aku minta maaf,' kataku.
'Aku perlu melihat kita bisa melakukan hal berbeda lain kali.'
'Aku akan berusaha. Kalau aku takut membahas tempat tinggal, aku akan mengatakannya. Aku tidak akan menjadikan angka pengembalian uang sebagai syarat untuk bicara.'
'Itu akan membantu.'
Kami turun ke toko bersama. Suasana masih sedikit canggung, tetapi tidak dingin. Aku mengurus pesanan, Ethan memeriksa roti, dan kami bertukar informasi seperlunya. Saat aku menerima pesan baru dari Selena mengenai tanggal pertemuan, aku langsung menunjukkan layar kepada Ethan.
Ia membacanya lalu mengangguk. 'Terima kasih sudah memberitahuku sekarang.'
'Aku sedang belajar melakukan itu.'
Ia tidak tersenyum lebar, tetapi bahunya tampak lebih rileks. Kepercayaan belum pulih sepenuhnya. Setidaknya, kami mulai membangun kembali kebiasaan untuk berbagi kabar sebelum berubah menjadi rahasia.
Di ruang belakang toko, sebelum aku berangkat ke kampus, aku berkata bahwa aku akan menghubungi Selena untuk meminta izin berbagi dokumen yang relevan jika Ethan ingin membacanya. Ia mengatakan aku tidak perlu membuktikan apa pun kepadanya.
'Aku tahu,' kataku. 'Aku cuma ingin berhenti menyimpan semuanya sendirian.'
'Kita bisa mulai dari informasi yang aman untuk dibagikan.'
Aku mengangguk. Aku masih harus menghubungi Selena dan mengikuti prosesnya, tetapi kini aku tidak merasa harus menyembunyikan setiap langkah. Kami keluar dari ruang penyimpanan bersama dan kembali ke toko. Di depan pelanggan, kami bekerja seperti biasa; urusan pribadi itu menunggu sampai kami punya waktu yang cukup untuk membicarakannya.