Dua hari setelah kabar pertama dari Selena, aku mendapat pesan bahwa pencocokan dokumen awal berjalan baik. Sebagian uang yang ditemukan tampaknya dapat dikembalikan kepada beberapa korban, termasuk aku. Jumlah pastinya belum ditetapkan, dan prosesnya mungkin memakan waktu.
Aku membaca pesan itu beberapa kali. Ada kelegaan, tetapi juga rasa takut yang sulit kujelaskan. Jika masalah ini segera selesai, apakah aku harus pergi? Kontrak serumahku dengan Ethan memang masih berlaku, tetapi kami belum pernah membicarakan apa yang akan terjadi setelah masa kontrak berakhir.
Aku menyimpan ponsel saat mendengar langkah Ethan. Ia masuk membawa kantong belanja.
'Kau sudah makan siang?' tanyanya.
'Belum.'
'Aku membeli sup. Kita bisa makan bersama.'
Ia mengeluarkan dua wadah dan menaruhnya di meja. Aku membantu mengambil sendok. Kami makan sambil membicarakan pesanan toko, lalu ia bertanya apakah aku berhasil membereskan berkas lama.
'Sebagian,' jawabku.
'Kalau kau ingin menceritakan, aku siap mendengarkan.'
Aku menatapnya. Ia tidak menuntut, tetapi justru kesabarannya membuat rasa bersalahku semakin besar.
'Aku akan cerita. Aku cuma perlu menunggu satu konfirmasi lagi.'
'Baik. Kau yang menentukan kapan.'
Aku menunduk pada sup. Aku tahu ia menghormati batas yang kusampaikan, tetapi aku sedang memakai batas itu sebagai alasan untuk menunda percakapan yang seharusnya bisa dimulai sekarang. Daniel ditemukan dan sebagian uang mungkin kembali: dua hal itu sudah kusampaikan semalam. Namun permintaanku membicarakan kontrak malam nanti belum mencakup alasan paling memalukan di baliknya. Aku takut ia hanya menyukaiku karena aku masih memerlukan bantuannya.
**
Sore itu aku menemui Daren di toko. Ia sedang menyusun faktur ketika aku menceritakan kabar dari Selena. Aku menjelaskan bahwa Daniel tertangkap di ruko lama dan proses pengembalian dana sedang dimulai.
'Ethan sudah tahu perkembangan kasusnya?' tanyanya.
Aku menggigit bibir. 'Sudah, semalam. Tapi aku belum mengakui betapa takutnya aku ketika memikirkan kontrak kami.'
'Kalau yang kaukhawatirkan kontrak, jumlah pengembalian tidak akan menjawab apa yang ingin dia lakukan setelah tiga bulan. Tanyakan langsung.'
'Aku takut dia mengira masalah ini akan memengaruhi kesepakatan serumah kami.'
Daren menatapku dengan serius. 'Shopia, kalau kau khawatir kontrak itu berubah, justru lebih baik bicara langsung. Kalau kau menunggu sampai dia tahu dari orang lain, dia mungkin merasa kau tidak percaya padanya.'
Aku tahu Daren benar. Namun, ketakutan tidak selalu hilang hanya karena seseorang menunjukkan jalan yang masuk akal.
'Kami berjanji bicara malam ini. Aku akan mencoba mengatakannya tanpa menunggu angka final,' kataku.
Daren tidak memaksaku. 'Aku harap kau tidak menanggung semuanya sendirian.'
Aku memeriksa kembali daftar salinan sebelum meninggalkan toko. Tanda terima yang kemarin sempat salah kuhitung kini tersimpan di bagian depan. Di halaman catatanku, kutandai dokumen yang sudah diterima dan yang masih perlu kubawa. Daren meminta aku bergeser ketika pelanggan datang mengambil pesanan. Aku menutup map dan kembali membantunya mencari kotak di rak.
Saat pelanggan itu pergi, aku baru menyadari aku telah memasukkan tanda terima ke laci alat tulis, bukan ke tas. Aku mengambilnya lagi, menuliskan isi map di selembar catatan, dan memasukkannya bersama dokumen. Malam nanti aku tidak bisa lagi memakai kertas yang tercecer sebagai alasan untuk menghindari persoalan tempat tinggal.
Sore harinya, aku menerima panggilan dari Selena yang memberi kabar bahwa pencocokan awal selesai. Ia belum bisa memastikan kapan uang akan dibagikan, tapi ada bagian dana yang dapat dikembalikan kepada beberapa korban. Ia meminta aku hadir pada pertemuan berikutnya untuk memastikan rekening dan dokumen identitas.
Setelah menutup telepon, aku menuliskan usulan tanggalnya di kalender, sambil menunggu konfirmasi jam pemeriksaan. Tanganku sempat berhenti pada kolom catatan. Di situ ada jadwal peninjauan kontrak serumah yang semakin dekat. Aku menutup kalender sebelum pikiran itu berkembang terlalu jauh.
Aku ingin percaya bahwa Ethan tidak akan mengaitkan pengembalian uang dengan tempat tinggalku. Ia belum pernah mengatakan bahwa aku harus pergi setelah dana kembali. Namun, aku tetap takut bahwa ketika urusan Daniel selesai, tak ada alasan praktis lagi bagiku untuk tinggal di apartemen itu. Ketakutan itu bukan berdasarkan sesuatu yang ia katakan. Itu berasal dari ketidakpastianku sendiri.
Ethan mengirim pesan bahwa ia akan pulang terlambat karena mengecek persediaan. Aku membalas agar ia tidak terburu-buru. Aku bisa saja menelepon dan menceritakan kabar Selena. Sebaliknya, aku memutuskan menunggu sampai ia pulang supaya kami bisa bicara langsung.
**
Ketika Ethan tiba, ia tampak lelah. Aku membantunya membawa satu kotak bahan ke dapur. Kami makan sisa sup sambil duduk di meja. Aku ingin menyampaikan ketakutanku, tetapi kata-katanya terasa terlalu rapuh untuk dikeluarkan begitu saja.
'Ada kabar baru?' tanyanya.
'Pencocokan awal selesai. Kabar pengembalian sebagian yang kuceritakan semalam masih menunggu penetapan. Belum ada jumlah atau tanggal pencairan.'
'Itu kabar yang cukup baik. Bagaimana perasaanmu?'
'Campur aduk. Aku lega, tapi juga takut prosesnya akan panjang.'
Ia mengangguk. 'Kau tidak harus menjalani semua tahapnya sendirian.'
Aku hampir mengatakan, aku takut kau akan memintaku pergi setelah kontrak selesai. Namun, aku menelan kalimat itu dan hanya berkata, 'Terima kasih. Aku masih sulit menjelaskan soal kontrak. Bisakah kita lanjutkan besok pagi?'
'Bisa. Kau boleh berhenti kalau sudah lelah,' katanya.
'Aku akan coba. Terima kasih sudah mengingatkan.'
Ethan tidak memaksaku. Ia membereskan mangkuk, lalu bertanya apakah aku ingin menonton sesuatu. Aku menolak karena ingin menyusun dokumen. Ia mengucapkan selamat malam dan memberiku ruang.
Aku menatap map setelah ia pergi. Separuh kebenaran sudah kubagikan, tetapi bagian yang paling penting masih tertahan. Aku tahu itu tidak adil bagi kami berdua. Aku hanya belum mampu mengucapkannya.
Aku menutup map, lalu menaruh pengingat di ponsel untuk percakapan besok pagi. Ethan sudah menggeser jadwalnya sekali agar kami punya waktu. Aku tidak ingin meminta penundaan lain hanya karena ia memberiku kesempatan melakukannya. Sebelum tidur, kutulis satu kalimat tanpa nama Daniel di dalamnya: aku takut kehilangan tempat tinggal dan kedekatan kita sekaligus.