Pagi itu aku menghubungi Selena untuk memastikan dokumen apa saja yang diperlukan. Ia menjelaskan bahwa pihak berwenang ingin mencocokkan bukti transfer dengan catatan korban lain. Belum ada kepastian berapa banyak uang yang dapat dikembalikan, tetapi sebagian dana ditemukan dalam rekening yang terkait dengan transaksi lama.
'Aku akan kirim daftar dokumen lewat pesan,' katanya. 'Jangan mengubah apa pun di berkas aslinya. Bawa salinan kalau bisa.'
'Aku akan menyiapkannya.'
Setelah menutup telepon, aku memeriksa map sekali lagi. Ada salinan perjanjian sewa unit apartemen, lembar transfer, dan beberapa pesan Daniel yang masih tersimpan. Aku memindai semuanya satu per satu. Setiap halaman membuatku semakin sadar bahwa masalah ini belum sepenuhnya selesai.
Ethan masuk membawa dua cangkir kopi. Ia meletakkan satu di samping laptopku.
'Kau sudah bekerja dari tadi,' katanya. 'Istirahat sebentar.'
'Terima kasih. Aku cuma perlu menyelesaikan pemindaian.'
Ia melihat berkas di layar. 'Apakah ini ada hubungannya dengan Daniel?'
Pertanyaan itu membuat tanganku berhenti di atas tetikus. Aku ingin menjawab iya, tapi takut percakapan itu berubah menjadi pembahasan tentang masa depan kontrak kami. Aku tahu Ethan mungkin tidak akan langsung meminta aku pergi. Namun, kontrak serumah akan ditinjau lagi beberapa waktu mendatang. Aku belum siap menghadapi kemungkinan kehilangan tempat tinggal sekaligus menghadapi masalah uang.
'Ini berkas lama yang harus kuurus,' jawabku. 'Aku akan menjelaskannya kalau sudah tahu semuanya.'
Ethan menatapku sejenak. 'Baik. Tapi kau tidak harus menghadapinya sendiri.'
'Aku tahu. Terima kasih.'
Aku kembali ke layar, dan ia berjalan ke ruang tengah. Ada rasa tidak nyaman yang tertinggal. Aku tidak berbohong sepenuhnya, tetapi aku juga tidak mengatakan kebenaran secara utuh. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa menunggu konfirmasi adalah hal yang masuk akal.
**
Siang hari, aku bertemu Selena di kedai dekat kantor untuk menyerahkan salinan dokumen yang sudah kupersiapkan. Ia memeriksa tanggal dan jumlah transfer, lalu mencocokkannya dengan berkas lain.
'Ini membantu memperjelas urutannya,' katanya. 'Kami belum bisa menjanjikan jumlah pengembalian, tapi namamu masuk dalam daftar korban yang akan diproses.'
'Apa Daniel benar-benar ditemukan di ruko lama?'
'Iya. Ia berada di sana ketika petugas datang. Sepertinya ia masih menyimpan beberapa dokumen dan barang yang berkaitan dengan transaksi yang sedang diperiksa.'
Aku menggenggam cangkir teh. 'Aku tidak tahu apakah aku merasa lega atau marah.'
'Keduanya boleh muncul bersamaan. Yang penting, kau tidak perlu menyelesaikan perasaan itu hari ini.'
Selena memberiku salinan tanda terima dokumen. Aku menyimpannya di tas. Sebelum berpisah, ia mengingatkan agar aku tidak menghubungi Daniel secara langsung dan menunggu keterangan resmi. Aku berjanji akan melakukannya.
Setelah pertemuan dengan Selena, aku berjalan sebentar melewati taman sebelum pulang. Aku butuh udara segar setelah menghabiskan waktu membaca ulang pesan-pesan lama. Ada bagian diriku yang ingin menghapus semuanya dari ponsel, tetapi aku tahu salinan itu mungkin masih dibutuhkan. Aku menyimpannya di folder terpisah dan menutup layar.
Saat tiba di apartemen sore itu, Ethan sedang mencocokkan catatan pesanan untuk esok. Aku menyapanya dan meletakkan tanda terima dari Selena di dalam map. Ia melihatku menyimpan dokumen, tetapi tidak bertanya. Aku menghargai sikapnya, sekaligus merasa semakin tidak enak karena ia harus menebak-nebak.
Aku membaca tanda terima sekali lagi sebelum menyimpannya. Jumlah lampiran di situ tidak cocok dengan yang kutulis pada daftarku sendiri. Aku hampir menganggap salah satu salinan hilang, lalu membuka map di meja dan menghitung lembarannya satu per satu. Dua sisi perjanjian ternyata tercatat sebagai satu dokumen, bukan dua lampiran.
Aku mengirim pertanyaan singkat kepada Selena untuk memastikan cara pencatatannya. Ia mengonfirmasi bahwa kedua sisi sudah diterima dan salinanku tidak perlu diserahkan lagi. Aku membubuhkan penjelasan itu di daftar, tanpa mengubah tanda terima aslinya.
Ethan menutup catatan pesanannya ketika melihatku menghela napas. Aku menunjukkan dua lembar di tanganku dan mengatakan tidak ada yang hilang. Ia mengangguk. Aku menyimpan map sebelum mulai memasak; jika dokumen itu terus terbuka di meja, aku akan terus memeriksa angka yang sama dan menunda kalimat yang seharusnya kusampaikan kepadanya.
'Aku mau membuat makan malam,' kataku. 'Kau sudah makan?'
'Belum. Aku bisa membantu.'
Kami menyiapkan sayuran dan nasi. Ketika kami duduk, ia bertanya tentang pertemuanku.
'Selena memeriksa dokumen. Ada kemungkinan sebagian uang bisa kembali, tapi belum ada angka pasti.'
Ia sudah mengetahui kasus penipuan itu dan pernah menemaniku menyerahkan bukti. Yang baru kusampaikan sekarang adalah kabar penangkapan serta pemeriksaan dana, sesudah menghindari pertanyaannya tadi pagi. Ethan meletakkan sendok.
'Ini soal Daniel, ya?'
Aku mengangguk. 'Iya. Daniel tertangkap di ruko lama dan sudah diamankan untuk diperiksa. Selena sedang membantu mengurus pencocokan berkas.'
Ia tidak meninggikan suara atau langsung mengajukan banyak pertanyaan. Ia hanya menunggu.
'Aku belum siap membahas semua detail malam ini,' lanjutku. 'Tapi aku tidak mau terus berpura-pura ini cuma berkas lama.'
'Terima kasih sudah memberitahuku. Kau boleh menentukan kapan ingin bercerita lebih banyak. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku siap mendengarkan.'
Aku merasa lega, tetapi juga menyadari betapa mudahnya aku bisa mulai terbuka jika berani mengambil langkah pertama. Kami menyelesaikan makan malam. Setelah itu, aku menunjukkan kepadanya tempat aku menyimpan dokumen, tanpa menjelaskan seluruh urutannya.
'Aku tidak perlu melihat isinya kalau kau tidak mau,' katanya.
'Aku tahu. Aku hanya ingin kau tahu berkas itu ada.'
Malam itu kami berbicara sebentar tentang jadwal pemeriksaan lanjutan yang mungkin ditentukan. Aku belum menyampaikan ketakutanku soal kontrak. Bagian itu terasa paling sulit, karena aku khawatir akan mengubah dukungannya menjadi pertanyaan tentang masa depan kami. Aku berjanji pada diri sendiri tidak akan menunggu terlalu lama sebelum membicarakannya.
Aku ingin menjelaskan sisa ketakutanku esok, tetapi masih menimbang urutan ceritanya. Aku tidak ingin mengubah makan malam menjadi laporan panjang, dan tidak ingin Ethan merasa harus menyelesaikan urusan Daniel untukku.
Aku menuliskan apa yang sudah kusampaikan: Daniel ditemukan dan sebagian dana mungkin kembali. Di bawahnya kutambahkan satu hal yang belum kukatakan: aku takut soal kontrak rumah. Daftar itu bukan untuk menghindari percakapan, melainkan agar aku tidak berhenti di tengah karena gugup.
Ketika Ethan hendak masuk kamar, aku mencoba membuka pembicaraan. Ia terlihat capai, jadi aku hanya mengatakan bahwa aku ingin bicara besok malam tentang tempat tinggal setelah kesepakatan kami berakhir. Ia setuju tanpa bertanya lagi. Ia mendengar permintaanku sebelum percakapan malam itu berakhir. Aku hanya masih perlu keberanian untuk menepati niatku.