Pagi setelah makan malam bersama Ethan, aku bangun dengan perasaan yang lebih ringan. Bukan karena semuanya sudah jelas, melainkan karena kami berhasil menghabiskan waktu tanpa menjadikannya janji besar. Aku sedang menuang kopi ketika ponselku bergetar. Nama Selena muncul di layar.
'Shopia, kau bisa bicara sebentar?' tanyanya begitu aku menjawab.
Nada suaranya serius. Aku langsung meletakkan cangkir.
'Bisa. Ada apa?'
'Daniel tertangkap di ruko lama yang pernah dia pakai. Petugas sudah mengamankannya untuk pemeriksaan. Beberapa korban diminta datang untuk mencocokkan dokumen.'
Aku duduk. Nama Daniel membuat tubuhku menegang. 'Dia ditangkap?'
'Iya, dia sudah diamankan. Keterangan resminya masih diproses, tapi petugas menemukannya di sana dan membawanya untuk diperiksa.'
Aku mengembuskan napas yang baru kusadari kutahan. 'Apa ada kabar tentang uang yang hilang?'
'Sebagian dana ditemukan dan akan dikembalikan kepada para korban setelah proses pencocokan. Belum tentu semuanya bisa pulih. Aku ingin kau menyiapkan bukti transfer dan catatan yang dulu kau kumpulkan.'
Aku menatap meja. Sejak membuat laporan, aku berusaha tidak memikirkan uang itu terlalu sering. Kabar ini membuat semua hal yang kutahan kembali terasa dekat.
'Aku akan cari berkasnya,' kataku.
'Jangan datang sendiri kalau kau merasa tidak nyaman. Kita bisa atur waktu bersama.'
'Terima kasih, Selena. Aku akan kabari setelah menemukan dokumennya.'
Setelah telepon berakhir, aku tetap duduk tanpa bergerak. Kopiku mulai dingin. Ethan belum keluar dari kamarnya, dan aku belum tahu bagaimana harus menyampaikan kabar ini kepadanya. Kami baru saja menemukan cara untuk berbicara tanpa tekanan. Aku takut jika masalah lama ini kembali, semua yang kami bangun akan berubah.
**
Aku mengeluarkan map dari laci bawah meja. Di dalamnya ada salinan transfer, pesan-pesan lama Daniel, dan catatan tanggal ketika aku mulai curiga. Kertas-kertas itu membuatku kembali mengingat betapa mudahnya aku percaya pada janji bahwa uang tersebut membayar sewa unit apartemen untuk tiga bulan.
Ethan masuk ke dapur sambil membawa ponsel dan melihat map terbuka.
'Kau sedang membereskan sesuatu?' tanyanya.
Aku hampir menjawab tentang Daniel, tetapi kata-katanya tertahan. 'Berkas lama. Aku mau merapikannya.'
Ia memandang tumpukan kertas, lalu kembali ke cangkirnya. 'Kalau kau butuh ruang di meja, bilang saja.'
'Baik.'
Ia tidak mendesak. Aku merasa bersalah karena menghindari pertanyaan yang sebenarnya belum ia ajukan. Namun, berita itu belum lengkap. Aku ingin menunggu sampai Selena mengonfirmasi jadwal dan jumlah dana yang ditemukan. Setelah itu, aku bisa menjelaskan semuanya dengan jelas.
Sepanjang pagi, aku memeriksa dokumen dan membuat daftar yang perlu dibawa. Ethan turun ke toko lebih dulu. Aku menyusul beberapa menit kemudian dengan map di dalam tas. Di toko, Daren menyapaku dan bertanya apakah aku sudah sarapan. Aku menjawab singkat lalu mengatur kotak pesanan.
'Kau tampak tegang,' katanya pelan.
'Aku baru mendapat kabar dari Selena. Urusan Daniel mungkin bergerak lagi.'
Daren menurunkan suaranya. 'Kau perlu bantuan?'
'Belum tahu. Aku hanya sedang mengumpulkan berkas.'
'Baik. Kalau kau butuh ditemani, bilang saja.'
Aku mengangguk. Ethan keluar dari ruang belakang dan melihat kami berbicara. Aku segera mengalihkan perhatian pada daftar pesanan. Aku tidak ingin membuatnya curiga, tapi aku juga tidak ingin menyusun cerita setengah jadi.
**
Menjelang siang, Selena mengirim pesan berisi beberapa pertanyaan tambahan. Ia ingin memastikan tanggal transfer dan apakah aku pernah menerima tanda terima dari Daniel. Aku membuka folder digital lama dan menemukan tangkapan layar yang hampir terlupakan. Ada satu pesan ketika Daniel menjelaskan rekening tujuan dan jangka sewa sebelum aku mentransfer pembayaran. Aku mengirim salinannya kepada Selena.
Balasannya datang beberapa menit kemudian. Ia berterima kasih dan mengatakan bukti itu akan membantu menghubungkan instruksi pembayaran Daniel dengan transfer yang benar-benar kulakukan. Aku tidak merasa puas melihat kata-kata Daniel tersusun dalam berkas resmi. Aku hanya ingin kisahnya tercatat dengan benar.
Ethan melewati meja dan melihatku menatap layar.
'Kau baik-baik saja?' tanyanya.
Aku mengunci ponsel. 'Aku sedang mengurus berkas.'
Ia berhenti sejenak, seolah ingin bertanya lebih jauh. Lalu ia hanya berkata, 'Kalau ada yang bisa kubantu, bilang.'
'Aku tahu.'
Ia kembali ke ruang belakang. Aku mengerti ia sedang berusaha menghormati ruangku, tetapi semakin lama aku diam, semakin sulit menganggap ini sebagai sekadar persoalan dokumen. Aku tahu ia akan bertanya lagi suatu saat nanti, dan aku harus memilih apakah akan terus melindungi diriku dari kemungkinan yang belum terjadi.
Siang itu aku menemui Daren di toko dan menunjukkan daftar dokumen yang diminta Selena. Ia membantu memeriksa apakah salinan kuitansi yang kubawa terbaca jelas. Kami tidak membahas detail lebih jauh. Ia hanya menanyakan apakah aku punya cara pulang setelah bertemu Selena.
'Aku naik kendaraan umum saja,' kataku.
'Baik. Kalau jadwalnya berubah, hubungi aku.'
Aku berterima kasih. Perhatian Daren terasa hangat, tetapi juga membuatku menyadari bahwa dua orang kini mengetahui perkembangan penangkapan terbaru yang belum kuceritakan kepada Ethan. Aku tidak ingin keadaan itu terus berlanjut. Malam nanti, pikirku, aku akan memberi tahu Ethan setidaknya bagian yang sudah pasti.
Di rumah, aku membaca lagi catatan Selena dan menambahkan tanggal pertemuan ke kalender. Aku meletakkan map di rak dekat pintu agar tidak lupa membawanya. Ethan keluar dari kamar dan melihatku menata dokumen.
'Kau sudah menemukan semua yang dibutuhkan?' tanyanya.
'Sepertinya. Aku akan memastikan sekali lagi besok.'
'Kalau ada yang kurang, kita bisa mencari bersama.'
Aku mengangguk, tetapi masih belum menyebut Daniel. Aku membatin bahwa besok harus menjadi batas terakhir untuk menunda. Aku tidak ingin Ethan terus menebak-nebak dari map dan panggilan telepon yang kudapat.
Sebelum tidur, aku mengirim Selena pesan untuk berterima kasih karena sudah membantuku menyusun dokumen. Ia membalas agar aku beristirahat dan tidak memikirkan hasil sebelum ada kabar resmi. Aku berusaha mengikuti sarannya. Namun, pikiranku tetap kembali pada pertanyaan yang lebih dekat: bagaimana aku akan menjelaskan ketakutanku kepada Ethan tanpa menjadikannya tanggung jawabnya?
Aku menyiapkan kalimatnya di kepala, lalu membiarkan diriku tidur.