Pagi itu Ethan terlihat lebih pendiam dari biasanya. Ia tetap menyapaku dan membuat kopi, tetapi pikirannya tampak tertuju pada sesuatu. Aku memutuskan tidak menebak-nebak. Setelah sarapan, aku bertanya langsung.
'Ada yang ingin kau bicarakan?'
Ia meletakkan cangkirnya. 'Ada. Aku ingin mengajakmu makan malam. Bukan untuk merayakan apa pun atau membicarakan aturan rumah. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu di luar apartemen.'
Aku menatapnya. 'Sebagai teman serumah?'
'Sebagai Ethan dan Shopia. Aku tidak ingin menyebutnya kencan kalau itu membuatmu merasa aku sedang menjanjikan sesuatu. Tapi aku ingin jujur bahwa ajakan ini datang karena aku menyukaimu.'
Jantungku berdegup lebih cepat. 'Kau masih belum siap untuk hubungan?'
'Ya. Aku tidak mau berpura-pura sudah siap. Tapi aku juga tidak ingin terus bersembunyi di balik alasan itu dan menghindari semua hal yang bisa membuat kita saling mengenal. Kalau kau tidak nyaman, kita tidak perlu pergi.'
Aku memikirkan batas yang sudah kami bicarakan. Ajakan ini bukan janji dan bukan jawaban akhir. Namun, ia menyampaikannya dengan jelas, memberiku ruang untuk menolak.
'Aku mau makan malam denganmu,' kataku. 'Tapi aku ingin kita tetap jujur tentang artinya.'
'Setuju. Tidak ada asumsi.'
'Dan kita tidak perlu mengubah malam itu menjadi pembicaraan berat kalau belum waktunya.'
'Aku akan berusaha tidak membawa daftar pertanyaan.'
'Kau boleh membawa satu.'
'Satu saja?'
'Satu pertanyaan, dua kalau pertanyaannya tentang menu.'
Ia tertawa. Ketegangan di wajahnya mengendur. Kami sepakat pergi setelah toko tutup.
**
Sepanjang hari, aku berusaha bekerja seperti biasa. Namun, ketika melihat jam, aku beberapa kali bertanya-tanya ke mana ia akan mengajakku. Aku juga mengingatkan diriku untuk tidak membangun harapan terlalu tinggi. Makan malam hanyalah kesempatan berbicara dan mengenal satu sama lain dengan suasana berbeda.
Daren menyadari aku tampak lebih sering melihat ponsel.
'Ada janji?' tanyanya.
'Ethan mengajakku makan malam nanti.'
Ia berhenti menyusun kotak sejenak. 'Kau senang?'
'Iya. Tapi kami sudah sepakat untuk tidak menganggapnya sebagai janji hubungan.'
'Bagus. Nikmati saja waktunya, dan tetap dengarkan dirimu sendiri.'
'Aku akan melakukannya.'
Daren tersenyum. 'Kalau begitu, pulanglah tepat waktu. Aku yang menutup kasir.'
'Terima kasih.'
Ethan menunggu di depan toko setelah kami menyelesaikan tugas. Ia tidak membawa bunga atau membuat kejutan besar. Ia hanya bertanya apakah aku lebih suka berjalan kaki atau naik mobil.
'Jalan kaki saja. Cuacanya bagus.'
Kami berjalan menuju restoran kecil yang tidak terlalu ramai. Dalam perjalanan, kami membicarakan hal-hal sederhana: pelanggan yang memesan roti sandal buatanku, rencana Ningning akhir pekan, dan lagu yang diputar Jayden saat perayaan.
Saat sampai, Ethan membukakan pintu. Kami memilih meja dekat jendela. Tidak ada suasana canggung seperti yang kutakutkan. Ia bertanya tentang tulisanku dan mendengarkan jawabanku tanpa mencoba mencari tahu apakah tokoh di sana menyerupai dirinya.
'Aku senang kau mengajakku,' kataku sambil menunggu pelayan mencatat pesanan.
'Aku juga senang kau menerima. Aku tahu aku harus bergerak dengan hati-hati.'
'Hati-hati boleh. Menghindar terus-menerus tidak.'
'Aku mulai mengerti bedanya.'
Pelayan kembali mengambil daftar menu. Ethan memastikan hidangan yang tadi ia pilih, sementara aku mengulangi pilihanku sebelum keduanya dicatat. Aku menyerahkan menu dan menggeser gelas agar ada ruang untuk piring.
'Kau akan membantu di toko lagi besok?' tanyanya.
'Tidak pagi. Ada tugas yang harus kukumpulkan, lalu aku perlu menyelesaikan halaman untuk Emily.'
Ia meraih ponsel untuk memeriksa pembagian tugas, tetapi mengurungkannya. 'Aku tanyakan Daren nanti. Pesanan besok tetap harus diurus.'
'Kalau sore aku sempat, aku akan datang. Tapi jangan memasukkan namaku sebelum aku mengabari.'
'Baik. Aku hampir menganggap jadwalmu mengikuti jadwal kami.'
Aku tersenyum. 'Aku suka berada di toko. Aku juga masih punya dua pekerjaan yang tidak melibatkan tepung.'
Percakapan berhenti ketika minuman kami datang. Kali ini kami tidak menambahkan kesepakatan panjang; aku membuka serbet dan menanyakan makanan yang sejak tadi ia lihat pada meja sebelah.
Pesanan kami datang setelah obrolan itu. Hidangan Ethan adalah pilihannya yang biasa, sedangkan aku akhirnya bisa mencoba menu yang sejak tadi kubayangkan. Aku sempat khawatir akan kehabisan bahan percakapan, tetapi kekhawatiran itu tidak terbukti. Kami berbicara tentang toko, kebiasaan masa kecil, dan makanan yang paling kami rindukan dari rumah.
'Aku dulu sering membantu ibuku membuat kue,' kataku. 'Tapi tugasku biasanya cuma mengaduk dan mencicipi adonan.'
'Kau masih menjalankan bagian mencicipi dengan sangat baik.'
'Itu bakat alami.'
Ia menceritakan bagaimana ia belajar membuat roti dari seorang tetangga ketika masih muda. Ia belum banyak bercerita tentang keluarganya, tetapi malam ini ia berbagi beberapa kenangan kecil tanpa terlihat tegang. Aku mendengarkan dan tidak mengejar detail yang belum ia tawarkan.
'Aku senang kau bertanya tentang hal-hal yang ingin kuceritakan, bukan hal-hal yang belum siap kubahas,' katanya.
'Aku juga ingin orang melakukan hal yang sama kepadaku.'
'Aku akan mengingatnya.'
Pelayan membawa makanan penutup yang kami bagi. Kami berdebat kecil tentang apakah saus cokelatnya terlalu manis. Aku menang, menurutku, meski Ethan menyatakan bahwa ia sekadar membiarkanku merasa menang.
'Itu tuduhan serius,' kataku.
'Aku tidak punya bukti, tapi aku yakin.'
'Kalau begitu, kasusnya tidak kuat.'
Ia tertawa. Aku menyadari betapa lama aku tidak menikmati percakapan tanpa mencoba mencari tahu apa arti setiap senyumnya. Malam ini aku hanya hadir, menikmati makanan dan ceritanya.
Saat berjalan pulang, kami berbicara tentang kapan akan mengulanginya. Ethan tidak menetapkan tanggal. Ia berkata ingin mengajakku lagi, tetapi tidak ingin membuatnya terdengar seperti janji yang harus segera dipenuhi. Aku menjawab bahwa kami bisa membicarakannya setelah jadwal toko lebih longgar.
Di depan apartemen, kami berhenti sebentar. Aku merasa hangat dan nyaman, tapi tidak mengharapkan ciuman. Ethan pun tidak mencoba mendekat. Ia membuka pintu dan membiarkanku masuk lebih dulu.
'Malam yang menyenangkan,' kataku.
'Buatku juga.'
Aku menggantung jaket, lalu menyimpan sisa makanan penutup di kulkas. Kami berbagi beberapa suap lagi sambil berdiri di dapur. Setelah itu, aku masuk kamar dan menulis sedikit tentang percakapan kami, tanpa menyalin kisahnya. Aku ingin mengingat perasaan saat didengar, bukan membuat Ethan menjadi tokoh yang harus menyelamatkan ceritaku.
Di kamar, aku menulis satu kalimat di catatan ponsel: malam ini menyenangkan, dan aku tidak perlu memutuskan lebih dari itu. Kalimat sederhana tersebut membuatku tersenyum. Aku mematikan layar, lalu merebahkan diri. Untuk pertama kalinya, aku bisa menikmati kebersamaan tanpa langsung meminta masa depan menjelaskan dirinya. Itu bukan berarti aku berhenti menjaga hatiku. Itu berarti aku mengizinkan satu malam menjadi satu malam yang baik.