Pagi berikutnya, toko cukup ramai sehingga Daren dan aku sibuk melayani pelanggan. Ethan berada di ruang belakang menyiapkan adonan berikutnya. Saat suasana agak lengang, Daren memanggilku ke dekat rak persediaan.
'Boleh aku tanya sesuatu?' katanya.
'Boleh.'
'Kau dan Ethan baik-baik saja?'
Aku menimbang jawabanku. 'Kami sedang berusaha jujur dan tidak memaksa apa pun.'
'Itu terdengar lebih baik daripada saling menghindar.'
'Kami sempat canggung setelah malam perayaan. Sekarang mulai membaik.'
Daren mengangguk. 'Aku senang mendengarnya. Aku tidak mau mencampuri urusan kalian. Tapi aku juga tidak ingin kau merasa harus menunggu tanpa tahu apa yang sedang terjadi.'
'Aku paham. Aku sudah bilang padanya bahwa aku butuh kejujuran, bukan janji.'
'Bagus. Pastikan dia mengerti bahwa memberi waktu bukan berarti kau akan menunda hidupmu selamanya.'
Aku terdiam. Daren menyampaikannya dengan tenang, tanpa nada cemburu atau tuntutan. Ia tampak benar-benar peduli padaku, meski perasaannya sendiri pernah kutolak.
'Terima kasih sudah mengingatkanku,' kataku. 'Aku juga akan terus menjaga batas itu.'
Ia tersenyum. 'Kalau begitu, kita kembali bekerja sebelum Ethan mengira kita sedang mengadakan rapat rahasia.'
'Mungkin dia akan membuat notulen.'
Daren tertawa. Kami kembali ke meja depan. Ethan keluar membawa nampan dan melirik kami.
'Apa yang lucu?' tanyanya.
'Daren baru saja bilang kau mungkin membuat notulen kalau kami rapat,' jawabku.
'Aku tidak membuat notulen untuk percakapan biasa.'
'Jadi kau mengakui membuatnya untuk percakapan penting?' tanya Daren.
Ethan menghela napas. 'Aku akan kembali ke adonan.'
**
Sepanjang hari, kata-kata Daren terus teringat. Aku tidak merasa ia sedang mendorongku menjauh dari Ethan. Ia hanya mengingatkanku bahwa keputusan untuk memberi waktu harus tetap menjadi pilihanku, bukan kewajiban yang diam-diam dibebankan kepadaku.
Saat toko tutup, Ethan membantu mengunci pintu. Kami berjalan pulang bersama dalam keheningan beberapa menit.
'Daren bicara denganku tadi,' kataku.
Ethan menoleh. 'Tentang apa?'
'Tentang kami. Dia memastikan aku tidak merasa harus menunggu tanpa kejelasan.'
Rahang Ethan mengeras sedikit. 'Aku mengerti kenapa dia mengkhawatirkanmu.'
'Dia juga mengingatkanku agar tidak menghentikan hidupku demi menunggu. Aku sudah tahu itu.'
'Dan kau merasa begitu?'
'Tidak. Tapi aku ingin tetap jujur kalau suatu saat aku mulai merasa demikian.'
Ia mengangguk. 'Kau berhak melakukannya. Aku tidak ingin membuatmu merasa terikat pada sesuatu yang belum kita sepakati.'
'Aku tahu. Aku juga tidak ingin kau merasa harus buru-buru hanya karena aku punya perasaan.'
Kami berhenti di depan pintu apartemen. Ethan memegang kunci, tetapi tidak langsung membuka pintu.
'Aku sedang mencoba memahami apa yang bisa kuberikan dengan jujur,' katanya. 'Aku tidak mau membuatmu menunggu dalam kebingungan.'
'Kalau begitu, bicaralah denganku saat kau tahu. Dan kalau belum tahu, katakan juga.'
'Baik.'
Pintu terbuka. Kami masuk, menyimpan barang, lalu mulai menyiapkan makan malam. Percakapan itu tidak menyelesaikan semuanya, tetapi membuat batas kami terdengar jelas kembali. Aku tidak ingin menjadi seseorang yang menafsirkan diam sebagai janji. Aku ingin menjadi seseorang yang bisa bertanya dan menerima jawaban apa adanya.
**
Di dapur malam itu, aku melanjutkan menyiapkan makan malam sederhana sementara Ethan memotong sayuran. Percakapan kami tidak langsung membahas Daren. Kami berbicara soal cuaca, roti yang perlu dikirim, dan rencana mengganti tanaman kecil yang sudah layu di dekat jendela.
Akhirnya Ethan bertanya, 'Apa yang Daren katakan tadi membuatmu tidak nyaman?'
'Tidak. Dia bicara baik-baik dan tidak menuntut apa pun dariku. Dia cuma mengingatkanku untuk tidak menggantungkan hidup pada sesuatu yang belum pasti.'
'Dia benar.'
'Aku tidak merasa sedang menggantungkan hidupku. Tapi aku juga tahu suatu saat aku harus mengevaluasi perasaanku sendiri.'
Ethan mengangguk. 'Aku tidak akan meminta waktu tanpa batas. Aku belum bisa memberi jawaban tentang hubungan kita sekarang, tapi aku bisa terus jujur tentang apa yang kurasakan dan apa yang belum sanggup kulakukan.'
'Itu yang kubutuhkan. Bukan kepastian instan, hanya kejujuran yang tidak berubah-ubah.'
Ia berhenti memotong sayuran dan menatapku. 'Aku akan berusaha menjaganya.'
'Aku juga akan jujur kalau kebutuhanku berubah.'
Kami melanjutkan memasak. Tidak ada pelukan atau janji besar. Namun, aku merasa percakapan itu lebih berarti daripada basa-basi yang membuat kami tampak baik-baik saja.
Saat makan, Ethan bercerita bahwa ia dahulu sering menunda percakapan sulit karena berharap masalahnya akan menghilang. Aku mengatakan aku kadang melakukan hal serupa, terutama saat takut mengecewakan orang. Kami tidak membahas perceraian atau masa lalu secara rinci. Kami hanya berbagi kebiasaan yang ingin diperbaiki.
'Mungkin kita bisa mengingatkan satu sama lain,' kataku.
'Tanpa membuat daftar?'
'Tanpa daftar.'
'Aku akan mencoba.'
Setelah makan, kami mencuci piring bersama. Aku menyerahkan piring yang sudah dibilas, ia mengeringkannya. Ketika selesai, aku merasa beban di dadaku sedikit lebih ringan. Bukan karena semuanya pasti akan berjalan sesuai harapanku, tetapi karena aku tidak perlu menyembunyikan batas yang penting bagiku.
Sebelum masuk kamar, aku mengirim pesan kepada Daren untuk berterima kasih atas perhatiannya. Ia membalas singkat bahwa ia hanya ingin aku bahagia. Aku membaca pesannya tanpa merasa bersalah. Menolak perasaannya tidak berarti aku harus menjauh atau menerima tanggung jawab atas kesedihannya. Kami bisa tetap menjadi rekan kerja dan teman dengan batas yang jelas.
Keesokan paginya, Daren menyapaku seperti biasa ketika aku tiba di toko. Ia tidak menanyakan apakah aku sudah membicarakan nasihatnya dengan Ethan. Kami langsung membahas pesanan akhir pekan dan jadwal pengiriman. Aku lega karena perhatian Daren tidak berubah menjadi pengawasan. Ia telah menyampaikan yang perlu ia katakan, lalu membiarkanku mengambil keputusan sendiri. Hubungan kami terasa lebih sehat karena tidak ada yang berpura-pura bahwa perasaannya memberi hak untuk menentukan langkahku.
Dalam perjalanan pulang, aku sengaja berhenti membeli buah untuk sarapan. Ethan berjalan beberapa langkah di depan, lalu menungguku di pintu minimarket. Ia tidak bertanya mengapa aku memilih berhenti. Aku memilih apel dan jeruk, lalu kami pulang sambil berdebat ringan tentang buah mana yang lebih cocok untuk roti. Perhatian kecil itu terasa menyenangkan karena tidak disertai tuntutan.