Dua hari setelah perayaan, aku mulai menyadari betapa banyak kebiasaan kecil yang tumbuh di antara aku dan Ethan. Kami biasa berbagi kopi sebelum toko buka. Ia akan meninggalkan catatan tentang persediaan bahan, sementara aku menambahkan ide untuk roti baru. Sekarang semua itu tetap terjadi, tetapi terasa lebih hati-hati.
Pagi ini, saat aku masuk ke dapur, Ethan sedang menatap dua cangkir di meja.
'Kopi hitam untukmu, kopi susu untukku,' katanya. 'Aku membuatnya tanpa bertanya. Kalau kau sedang ingin teh, aku bisa menggantinya.'
'Kopi ini tidak apa-apa. Terima kasih.'
Ia mengangguk, lalu kembali melihat daftar belanja. Aku duduk di seberangnya. Biasanya kami akan langsung membicarakan pekerjaan. Pagi itu, tak satu pun dari kami membuka percakapan.
'Kau boleh bertanya tentang hal lain selain kopi,' kataku akhirnya.
Ia mengangkat wajah. 'Benarkah?'
'Ya. Aku cuma minta ruang, bukan melarangmu bicara denganku.'
'Aku sedang berusaha tidak membuatmu merasa harus menghiburku.'
'Kau tidak perlu mengatur setiap kemungkinan yang bisa membuatku tidak nyaman. Aku akan memberitahumu kalau aku butuh berhenti.'
Ia merenungkan kata-kataku. 'Baik. Bagaimana tulisanmu?'
Pertanyaan itu terasa wajar. Aku menceritakan bagian yang sedang kukerjakan dan kebuntuanku pada satu adegan. Ethan mendengarkan tanpa berusaha menawarkan solusi terlalu cepat.
'Mungkin tokohnya tidak harus memilih sekarang,' katanya. 'Bisa jadi dia hanya perlu memahami apa yang benar-benar ia inginkan.'
'Kau baru saja menyarankan supaya tokohku menunda keputusan?'
'Kedengarannya seperti saran yang bagus.'
'Biasanya kau akan membuat daftar pro dan kontra.'
'Aku sedang belajar bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan dengan daftar.'
Aku tertawa. 'Kemajuan besar.'
**
Siangnya, aku menyusul Ethan ke Cross & Co. untuk membantu menyiapkan adonan pesanan roti. Aku bekerja di sisi meja yang lain, mengikuti instruksinya dengan teliti. Saat tanganku terlalu keras menguleni, Ethan menyodorkan adonan baru.
'Tekan dengan telapak tangan, lalu lipat. Jangan menghukumnya,' katanya.
'Aku tidak menghukumnya. Aku sedang berusaha mengajarinya disiplin.'
'Adonan tidak mengerti konsep disiplin.'
'Mungkin karena tidak pernah membaca aturan apartemenmu.'
Ia tertawa kecil, suara yang masih membuatku menoleh. Beberapa detik kemudian kami sama-sama menyadari bahwa tangan kami berada di mangkuk yang sama. Aku mundur, lalu ia pun melakukan hal yang sama.
'Maaf,' katanya.
'Tidak apa-apa. Kita sedang bekerja.'
Ia mengangguk, dan kami melanjutkan tanpa membahasnya. Aku menyukai bahwa ia tidak mengubah setiap momen menjadi alasan untuk meminta maaf atau mendekat. Batas yang kuminta terasa dihormati.
Sore hari, Daren kembali dari depan toko untuk mengambil beberapa roti bagi acara komunitas. Ia melihat kami bekerja berdampingan.
'Kalian terlihat kompak,' katanya.
'Kami berusaha agar adonan ini tidak berubah jadi batu,' jawabku.
'Itu sudah termasuk pencapaian besar,' kata Ethan.
Daren tersenyum, tetapi matanya sempat berhenti pada kami berdua. 'Aku senang kalian bisa bekerja sama.'
Setelah ia pergi, Ethan membawa nampan ke rak pendingin. Aku mencuci tangan, lalu duduk di meja depan toko untuk menulis. Adegan yang sejak pagi kutunda akhirnya mengalir. Aku menulis tentang seorang perempuan yang ingin dekat dengan seseorang, tetapi tidak ingin kehilangan dirinya sendiri dalam proses itu.
Ethan melintas di belakangku dan berhenti sejenak. 'Bagus?'
'Sepertinya. Aku baru menemukan kalimat pembukanya.'
'Boleh aku dengar?'
Aku ragu. Ia segera mengangkat kedua tangan. 'Kalau kau belum nyaman, tidak apa-apa.'
'Aku bisa membacakan sedikit. Tapi jangan coba menebak siapa tokohnya.'
'Aku janji.'
Aku membaca satu paragraf. Suaraku terdengar lebih pelan dari yang kuinginkan. Setelah selesai, Ethan tidak langsung memberi komentar. Ia memikirkan kata-katanya terlebih dahulu.
'Rasanya jujur,' katanya. 'Tokohnya tidak memaksa dirinya terlihat baik-baik saja.'
'Itu yang ingin kutulis.'
'Aku suka bagian itu.'
Aku menutup laptop. 'Terima kasih sudah mendengarkan.'
'Terima kasih sudah mempercayakannya kepadaku.'
Sebelum toko tutup, Ethan memintaku mencicipi satu roti yang bentuknya sedikit miring. Ia menaruhnya di piring kecil dan mengambil pisau untuk membaginya.
'Kau tidak perlu memotongnya sama rata,' kataku.
'Aku tahu. Aku cuma ingin membaginya.'
'Kalau potongannya tidak sama, aku tidak akan mengajukan protes resmi.'
'Aku akan mencatat pengecualian itu.'
Kami mencicipi roti sambil berdiri di dekat meja kerja. Rasanya enak, meski bagian tengahnya sedikit padat. Aku menyarankan waktu fermentasi ditambah, dan Ethan mengetik catatan di ponselnya.
'Kau benar-benar tidak memakai memo?' tanyaku.
'Aku memakai catatan digital. Itu berbeda.'
'Tentu saja. Secara teknis, memang berbeda.'
'Jangan mulai.'
Kami tertawa. Aku merasa rileks, tidak sedang menimbang setiap kata. Saat tawa reda, Ethan menatapku dengan lembut. Aku tidak salah membaca kehangatan itu, tetapi aku juga tidak menuntutnya berubah menjadi keputusan.
'Aku senang kau masih mau bekerja denganku,' katanya.
'Aku juga senang. Pekerjaan ini tetap penting bagiku.'
'Dan kau tetap penting bagiku.'
Kata-kata itu menggantung di udara. Aku menatapnya, lalu mengangguk perlahan. 'Aku mendengarnya.'
Ia tidak menambahkan janji. Aku tidak memintanya. Justru karena itu, kalimatnya terasa tulus. Kami berkemas dan menutup toko bersama.
Dalam perjalanan naik, lift berhenti di lantai tiga karena ada tetangga yang membawa beberapa kotak. Kami membantu menahan pintu dan memberi ruang. Setelah lift berjalan lagi, Ethan melirikku.
'Kau tampak lebih tenang hari ini.'
'Aku memang merasa lebih tenang. Bukan karena semuanya sudah jelas, tapi karena aku berhenti memaksa diriku mencari jawaban setiap menit.'
'Itu terdengar sehat.'
'Aku berusaha.'
Pintu lift terbuka di lantai kami. Kami berjalan berdampingan menuju apartemen. Aku menyadari bahwa pilihan untuk memberi waktu tidak berarti aku harus menunggu pasif. Aku masih dapat memilih bagaimana menjalani hari, apa yang ingin kutulis, siapa yang ingin kutemui, dan kapan aku perlu menyampaikan perasaanku.
Kami kembali menjalani sore masing-masing. Saat makan malam, obrolan kami kembali ringan. Kami membahas pelanggan yang selalu memesan roti tanpa kismis, tanaman kecil di balkon yang hampir mati, dan musik yang diputar Jayden saat perayaan. Aku masih merasakan bekas sakit dari malam itu, tetapi ketegangan di antara kami mulai berkurang.
**
Malam itu aku menelepon Ningning dan menceritakan kemajuanku menulis. Ia mengusulkan agar kami bertemu akhir pekan nanti untuk minum kopi. Aku menyetujuinya. Setelah telepon berakhir, aku merasa dunia di luar apartemen kembali terasa luas. Ada sahabat, pekerjaan, tulisan, dan rencana-rencana kecil yang semuanya milikku.
Sebelum tidur, aku menyadari sesuatu: menjaga jarak bukan berarti harus membangun tembok. Aku bisa memberi diriku waktu sambil tetap menerima kebaikan Ethan, selama aku tidak menjadikan kebaikan itu janji yang belum pernah ia ucapkan.