Pagi datang terlalu cepat. Aku terbangun dengan ingatan tentang ciuman semalam, disusul kalimat Ethan yang terus berputar di kepalaku. Ia belum siap. Setidaknya, ia tidak berpura-pura sebaliknya. Seharusnya aku merasa lega karena kejujurannya, tetapi bagian diriku yang berharap tetap saja terluka.
Aku membuat kopi dan duduk di meja makan. Ethan keluar dari kamarnya beberapa menit kemudian. Rambutnya masih berantakan, dan ia berhenti saat melihatku.
'Pagi,' katanya.
'Pagi.'
Ia menuangkan kopi untuk dirinya sendiri, lalu berdiri agak jauh dari meja. 'Kau tidur nyenyak?'
'Lumayan.'
'Shopia, soal semalam—'
'Aku tahu,' potongku lembut. 'Kau belum siap. Aku mendengarnya.'
Ia mengangguk. 'Aku tidak ingin membuatmu merasa bahwa ciuman itu kesalahan.'
'Aku juga tidak menganggapnya kesalahan.' Aku mengaduk kopi, mencari kata yang tepat. 'Tapi aku perlu sedikit ruang supaya bisa memahami perasaanku sendiri.'
'Tentu. Aku akan menghormatinya.'
Tak ada perdebatan atau pembelaan diri. Sikap itu seharusnya membuat semuanya lebih mudah, tetapi malah membuatku sadar bahwa kami memang harus belajar menata ulang kedekatan ini.
**
Kami menghabiskan pagi dengan kesibukan masing-masing. Aku menulis di meja dekat jendela, sedangkan Ethan memeriksa pesanan toko dan menjawab beberapa pesan dari pemasok. Biasanya aku akan menanyakan apa yang sedang ia kerjakan atau menawarkan bantuan. Kali ini aku memilih memakai earphone dan fokus pada halaman kosong di laptop.
Baru satu paragraf yang selesai ketika ia meletakkan sepiring roti panggang di sampingku.
'Sarapanmu belum habis,' katanya.
'Terima kasih.'
Ia tidak berdiri menunggu percakapan. Ia kembali ke meja kerjanya. Aku menatap piring itu, lalu punggungnya. Tindakan kecil itu membuatku ingin memanggilnya, namun aku menahan diri. Ruang yang kuminta harus berarti sesuatu, bukan sekadar kata-kata.
Menjelang siang, aku turun ke toko untuk mengambil paket. Daren sedang berbicara dengan seorang pemasok di depan. Saat melihatku, ia tersenyum.
'Kau tampak seperti baru menyelesaikan rapat penting,' katanya.
'Apa wajahku seserius itu?'
'Tidak. Tapi kau biasanya menyapa dengan cerita panjang tentang hal-hal kecil. Hari ini kau cuma bilang halo.'
Aku menerima paket dari meja. 'Mungkin aku sedang lelah.'
Daren tidak mendesak. Ia hanya menatapku dengan perhatian yang tenang. 'Kalau butuh teman bicara, aku ada. Tanpa harus menjelaskan semuanya sekaligus.'
'Terima kasih. Aku menghargainya.'
Aku kembali ke apartemen dan menemukan Ethan sedang memeriksa catatan bahan untuk pesanan besok. Kami bertukar senyum singkat. Rasanya aneh menjaga jarak di tempat yang sama, tetapi tidak buruk. Kami tetap bisa berbicara tentang pekerjaan, makanan, dan jadwal. Hanya saja, kami tidak lagi membiarkan percakapan kecil berubah menjadi pengakuan yang belum siap kami tanggung.
Siang itu aku berjalan kaki ke minimarket untuk membeli bahan yang kurang. Udara panas membuatku memilih jalan memutar melalui taman kecil di belakang gedung. Aku membawa daftar belanja di ponsel dan mencoba tidak memikirkan Ethan. Namun, di dekat bangku taman, aku melihat seorang anak menjatuhkan kantong jeruknya. Buah-buah itu bergulir ke mana-mana.
Aku membantu mengumpulkannya. Ibunya mengucapkan terima kasih berkali-kali, dan aku tersenyum sambil menyerahkan jeruk terakhir. Hal sesederhana itu membuat pikiranku keluar sejenak dari lingkaran yang sama. Hidupku tidak berhenti hanya karena hubungan ini belum memiliki jawaban.
Dalam perjalanan pulang, aku membeli roti isi untuk makan siang. Saat masuk apartemen, Ethan sedang menyusun daftar pesanan. Ia melirik kantong di tanganku.
'Kau sudah makan?' tanyanya.
'Belum. Aku membeli ini.'
'Aku membuat sup tadi sebelum kau pergi. Kalau kau mau, ada di panci.'
Aku mempertimbangkan tawarannya. 'Boleh. Aku ambil semangkuk.'
Kami makan di meja yang sama, membicarakan hal-hal biasa. Aku menceritakan anak kecil di taman yang mengejar jeruknya. Ethan tertawa saat kuberitahu satu jeruk hampir masuk ke selokan.
'Kau selalu berhenti membantu orang,' katanya.
'Tidak selalu. Aku juga pernah pura-pura tidak mendengar alarm mobil tetangga.'
'Itu berbeda. Alarmnya mungkin sudah punya banyak teman yang membantu.'
'Alasan yang sangat meyakinkan.'
Percakapan itu mengingatkanku bahwa kedekatan kami tidak hanya terdiri dari perasaan yang belum selesai. Ada juga keakraban, humor, dan perhatian sederhana. Aku bisa menghargai semua itu tanpa menyimpulkan bahwa ia berutang kepadaku.
Sore menjelang, aku kembali ke kamar untuk menulis. Kali ini aku menyelesaikan satu halaman penuh. Aku tidak tahu apakah tulisanku bagus, tetapi aku bangga tidak membiarkan kegelisahan mengambil seluruh hariku. Saat melewati dapur, aku melihat Ethan sedang mencuci panci. Aku menyodorkan lap bersih.
'Terima kasih,' katanya.
'Sama-sama.'
Kami tersenyum singkat. Aku menyadari batas yang sehat tidak harus terasa seperti hukuman. Batas itu memberiku kesempatan bernapas, dan memberi Ethan kesempatan menunjukkan siapa dirinya tanpa harus menjawab semua pertanyaan sekaligus.
Sore harinya, Ningning menelepon untuk menanyakan bagaimana perayaan semalam. Aku menceritakan bagian lucunya, tetapi tidak menyebut ciuman itu. Bukan karena ingin menyimpan rahasia selamanya. Aku hanya belum tahu bagaimana menyebut sesuatu yang belum memiliki bentuk.
'Ethan kelihatan bahagia waktu kalian menang,' kata Ningning. 'Dia sering melirikmu.'
'Dia mungkin cuma memastikan aku tidak menjatuhkan kue.'
'Shopia, aku mengenal tatapan orang yang sedang memperhatikan seseorang.'
Aku menggigit bibir. 'Aku tak mau menebak-nebak dulu.'
'Bagus. Jangan membuat keputusan berdasarkan tatapan. Tunggu sampai dia bisa bicara dengan jelas.'
Nasihatnya terasa tepat. Setelah menutup telepon, aku kembali ke meja dan menulis beberapa baris. Untuk pertama kalinya hari itu, pikiranku terasa sedikit lebih ringan.
Malamnya, Ethan memasak sup sederhana. Ia meletakkan mangkuk di tempatku seperti biasa. Kami makan sambil membahas pesanan roti, lalu mencuci piring bersama. Tidak ada sentuhan yang disengaja. Tidak ada percakapan berat. Aku menyadari bahwa kami masih bisa berada di ruangan yang sama tanpa harus memaksa diri menyelesaikan semuanya sekarang.
Sebelum tidur, aku berhenti di dekat pintu kamarnya.
'Ethan?'
Ia menoleh dari buku yang sedang dibacanya. 'Ya?'
'Aku tidak marah padamu. Aku cuma butuh waktu.'
Ia menutup buku. 'Aku mengerti. Terima kasih sudah memberitahuku.'
'Selamat malam.'
'Selamat malam, Shopia.'
Aku masuk ke kamar dengan rasa sedih yang belum hilang, tetapi setidaknya kini tidak bercampur dengan kebingungan. Kejujuran tidak menghapus luka. Namun, kejujuran memberiku tempat untuk berdiri tanpa harus menebak-nebak apa yang sebenarnya ia pikirkan.
**