Hari berikutnya berjalan sibuk. Toko menerima pesanan mendadak untuk rapat kantor, dan Ethan memintaku membantu menyiapkan kotak-kotaknya. Kami bekerja dari pagi hingga menjelang sore. Ketika pesanan terakhir dibawa kurir, aku duduk di kursi dapur dengan kaki pegal.
'Aku tidak menyangka pita bisa menjadi penyebab kelelahan,' kataku.
Ethan meletakkan segelas air di hadapanku. 'Kau mengikat dua puluh kotak.'
'Dan kau membiarkan aku memilih warna pita yang sama untuk semuanya.'
'Aku tidak tahu kalau warna pita memerlukan rapat khusus.'
'Semua hal perlu rapat khusus kalau menyangkut penampilan.'
Ia tertawa, lalu duduk di kursi seberang. Kami menikmati keheningan selama beberapa menit. Dari jendela toko, matahari sore menerangi rak dekat pintu. Aku bisa mendengar kendaraan dari jalan. Setelah pesanan itu selesai, kami membereskan meja kerja sebelum pulang ke apartemen.
'Aku ingin bicara tentang malam perayaan,' katanya.
Aku menarik napas, memastikan diriku siap mendengar. 'Baik.'
'Aku tidak menyesali ciuman itu. Aku juga tidak ingin menarikmu ke dalam sesuatu yang belum sanggup kujalani. Dua hal itu sama-sama benar.'
'Aku percaya padamu.'
'Aku sadar selama ini aku sering membuat aturan agar semuanya terasa aman. Aturan itu kadang membuat orang lain tidak tahu apa yang sebenarnya kurasakan. Aku tidak ingin melakukan hal yang sama kepadamu.'
'Aku juga tidak ingin kau mengatakan sesuatu hanya karena takut menyakitiku. Aku lebih memilih kebenaran, walaupun rasanya tidak mudah.'
Ia menatapku lama. 'Kebenarannya adalah aku menyukaimu. Tapi rasa takutku belum hilang. Aku masih membawa banyak hal dari masa lalu, dan aku perlu menyelesaikannya tanpa menjadikanmu penawarnya.'
Dadaku mengencang, tetapi ada kelegaan karena akhirnya ia mengatakannya dengan jelas. 'Aku tidak ingin menjadi penawar. Aku ingin dikenal sebagai diriku sendiri.'
'Aku tahu. Dan aku ingin mengenalmu tanpa membuatmu menunggu janji yang belum bisa kuberikan.'
**
Kami membawa teh ke balkon. Udara sore sejuk, dan tanaman basil yang hampir mati beberapa minggu lalu kini tumbuh daun baru. Aku menyentuh ujung daunnya dengan hati-hati.
'Tanaman ini lebih tangguh dari dugaan kita,' kataku.
'Karena kau terus menyiramnya.'
'Kau juga yang mengganti tanahnya. Kita berdua menyelamatkannya.'
Ia tersenyum kecil. 'Aku suka caramu melihat kerja sama.'
'Tidak semua hal harus dilakukan sendirian.'
'Aku sedang belajar itu.'
Aku menyesap teh. 'Aku tidak bisa menjanjikan akan menunggu tanpa batas. Aku juga tidak akan berpura-pura tidak punya perasaan. Tapi untuk sekarang, aku bisa memberi waktu, selama kita tetap jujur dan tidak menganggap kedekatan sebagai kesepakatan diam-diam.'
Ethan mengangguk. 'Itu adil. Kalau ada yang berubah, kita bicara.'
'Kalau aku merasa tidak nyaman, aku akan bilang.'
'Dan kalau aku merasa belum siap, aku juga akan bilang.'
Kami berjabat tangan dengan pura-pura formal. Ia membungkuk sedikit, dan aku tertawa.
'Perjanjian paling tidak romantis yang pernah ada,' kataku.
'Setidaknya jelas.'
'Kau memang menyukai kejelasan.'
'Aku mulai menyukai hal lain juga.' Ia berhenti, seakan memeriksa ucapannya sendiri. 'Seperti tertawa bersamamu.'
Kalimat itu membuat jantungku berdebar. Aku tidak berusaha menutupinya, tetapi juga tidak membalas dengan sesuatu yang terlalu besar. 'Aku juga suka tertawa bersamamu.'
Kami kembali masuk setelah langit mulai gelap. Malam itu kami makan mi sederhana sambil menonton acara memasak. Tidak ada sentuhan, tidak ada ciuman kedua, dan tidak ada janji. Namun, ada sesuatu yang berubah: kami tidak lagi berpura-pura bahwa perasaan itu tidak ada.
Setelah acara memasak selesai, kami tetap duduk di ruang tengah dengan dua cangkir teh. Aku bercerita bahwa aku menerima ajakan Ningning untuk minum kopi akhir pekan nanti. Ethan mendengarkan, lalu bertanya tempat yang akan kami datangi.
'Kafe dekat taman,' jawabku. 'Aku belum pernah ke sana.'
'Kedengarannya menyenangkan.'
'Kau boleh ikut kalau memang ingin. Tapi aku juga tidak keberatan pergi berdua dengannya.'
'Pergilah berdua. Kalian sudah lama ingin mengobrol.'
Aku memperhatikan reaksinya. Tidak ada nada tersinggung atau sikap menahan. Aku merasa lega, bukan karena ia tidak peduli, melainkan karena ia tidak mencoba mengatur waktuku.
'Terima kasih,' kataku. 'Aku senang kita bisa bicara tanpa saling menebak.'
'Aku pun begitu.'
Kami membahas hal lain. Ethan bercerita tentang masa awal ia membuka toko dan bagaimana ia dahulu menganggap kesalahan kecil sebagai bukti bahwa ia gagal. Aku bertanya apa yang membuatnya berubah.
'Mungkin karena aku lelah hidup dengan perasaan bahwa semua harus sempurna,' katanya. 'Tapi aku belum benar-benar tahu cara berhenti.'
'Kau sudah mulai. Kau mengizinkan orang lain ikut membantu.'
Ia menunduk ke cangkirnya. 'Aku takut itu terlambat untuk beberapa orang.'
Aku tidak bertanya siapa yang ia maksud. Mungkin ada hal-hal yang belum waktunya ia ceritakan. Aku hanya berkata, 'Kau bisa belajar dari kesalahan tanpa terus menghukum diri sendiri.'
Ia mengangguk. Kami membiarkan percakapan itu berhenti di sana. Tidak semua keheningan harus diisi. Ada kelegaan dalam mengetahui bahwa aku bisa mendengarkan tanpa mengambil tanggung jawab menyembuhkan masa lalunya.
Ketika acara selesai, Ethan mengantarku sampai dekat pintu kamar.
'Terima kasih sudah bicara denganku,' katanya.
'Terima kasih karena tidak membuatku menebak.'
Ia mengangguk. 'Selamat malam.'
'Selamat malam.'
Aku berhenti di ambang kamar dengan perasaan yang lebih tenang. Aku masih belum tahu ke mana hubungan ini akan berjalan. Tapi malam ini, aku tidak merasa sendirian memikul ketidakpastian itu.
**
Sebelum tidur, aku menambahkan beberapa baris pada naskahku. Tokoh utamaku mengakui bahwa ia takut kehilangan seseorang, tetapi ia memilih tidak menjadikan ketakutan itu alasan untuk mengabaikan dirinya sendiri. Aku menghapus satu kalimat yang terdengar terlalu dramatis, lalu menggantinya dengan sesuatu yang sederhana dan jujur.
Aku membaca ulang paragraf itu. Kali ini aku tidak memikirkan apakah Ethan akan mengenal dirinya di dalamnya. Aku menulis untuk memahami diriku sendiri. Rasanya seperti langkah kecil menuju kebebasan.
Sebelum menutup pintu, aku menoleh sejenak ke ruang tengah. Ethan sedang merapikan cangkir, bersenandung pelan mengikuti musik dari ponselnya. Pemandangan itu terasa biasa, tetapi kini aku tidak lagi menuntut hal biasa berubah menjadi tanda. Aku ingin memberi ruang bagi perasaanku sendiri untuk tumbuh dengan jujur, sama seperti aku berharap Ethan jujur pada dirinya. Lalu aku menutup pintu dan kembali menulis, membawa ketenangan kecil itu bersamaku.