Tepat pukul tujuh malam, ruang tengah apartemen berubah menjadi tempat perayaan yang terlalu meriah untuk kemenangan satu loyang kue. Balon-balon kecil menempel di dinding, lampu kuning menyala di sepanjang rak, dan meja dipenuhi makanan yang dibawa Ningning, Jayden, serta Mina. Daren datang membawa dua botol minuman bersoda dan senyum lebar, sementara Ethan sibuk memastikan oven sudah mati meskipun roti terakhir telah keluar sejak satu jam lalu.
'Kalau kau memeriksa oven sekali lagi, Ethan, mungkin dia akan merasa tersanjung,' godaku sambil meletakkan piring.
Ia menoleh. 'Aku cuma memastikan tidak ada yang tertinggal.'
'Kau sudah memastikan tiga kali.'
'Empat,' sela Jayden. 'Aku menghitung.'
Tawa memenuhi ruangan. Ethan menggeleng, tetapi sudut bibirnya ikut terangkat. Melihatnya lebih santai seperti ini membuat dadaku terasa hangat. Beberapa minggu lalu, pertemuan kecil seperti ini pasti akan diatur dengan daftar aturan, jadwal, dan batas waktu. Malam ini, ia membiarkan Ningning memindahkan kursi, Jayden menyetel musik, dan Mina menaruh kue buatannya di atas meja tanpa bertanya lebih dulu.
'Untuk pemenang kompetisi kue paling serius sedunia,' kata Ningning, mengangkat gelasnya.
'Dan untuk Shopia yang ikut menemani persiapan sampai selesai,' tambah Daren.
'Aku cuma membantu mengingatkan bahwa roti itu harus mengembang,' kataku.
'Kau juga mengingatkan aku untuk bernapas,' kata Ethan. 'Itu lebih penting.'
Ucapan sederhana itu membuat beberapa pasang mata berpindah ke arah kami. Aku pura-pura sibuk meraih gelas, meski pipiku terasa panas.
**
Setelah makan, Jayden menantang kami memainkan permainan tebak kata. Aturannya sederhana: satu orang memperagakan kata tanpa suara, sementara timnya menebak. Namun, saat giliranku, kata yang harus kutebak adalah 'mixer' dan Ethan memperagakannya dengan gerakan tangan yang begitu kaku sampai semua orang tertawa.
'Itu bukan mixer,' protesku. 'Itu orang yang sedang mengusir nyamuk!'
'Waktunya habis,' kata Jayden.
'Aku hampir benar,' bantah Ethan.
'Hampir benar tidak dihitung,' sahut Mina.
Ronde berikutnya membuatku berdiri. Kata yang tertulis di kertas adalah 'kencan'. Aku menatap Ethan yang menjadi penebak di timku. Tanganku membentuk hati, lalu menunjuk ke dua kursi imajiner. Ia mengernyit, menggeleng, kemudian berpura-pura membuka buku catatan.
'Rapat berdua?' tebaknya.
Semua orang tertawa lebih keras.
'Kencan!' seru Ningning dari sofa.
Ethan menutup wajah dengan telapak tangan. 'Jelas sekali aku butuh latihan bersosialisasi.'
'Kita bisa menjadwalkannya,' kataku.
'Jangan beri dia ide,' kata Daren. 'Nanti dia membuat tabel kencan dengan kolom evaluasi.'
'Aku tidak akan membuat tabel,' jawab Ethan.
'Kau sudah memikirkannya,' balas Jayden.
Aku tertawa bersama yang lain. Malam terasa ringan. Namun setiap kali tangan kami bersentuhan saat mengambil piring atau mengoper gelas, ada jeda kecil yang tak bisa dijelaskan oleh permainan. Aku merasakannya, dan dari cara Ethan menunduk sesaat, kurasa ia juga.
Menjelang pukul sepuluh, Mina dan Jayden pamit lebih dulu. Ningning menyusul setelah menerima telepon dari keluarganya. Daren membantu membawa piring ke dapur sebelum akhirnya mengenakan jaket.
'Kalian tidak perlu membereskan semuanya malam ini,' katanya. 'Sisakan sedikit kekacauan. Apartemen ini juga berhak bersantai.'
'Aku akan mencoba mengingat nasihat itu,' jawab Ethan.
Daren menatapnya sebentar, lalu menepuk bahunya. 'Bagus. Dan terima kasih sudah mengundang kami.'
Setelah pintu tertutup, suasana mendadak senyap. Musik masih mengalun pelan, sementara lampu hias berkedip di atas meja. Aku mulai mengumpulkan gelas. Ethan mengambil setengahnya dari tanganku.
'Aku bisa sendiri,' kataku.
'Aku tahu. Aku ingin membantu.'
Kami bekerja tanpa banyak bicara. Ketika dapur sudah rapi, ia menuangkan dua gelas air dan menyodorkan satu kepadaku. Jari kami bersentuhan. Kali ini tak ada yang buru-buru menarik tangan.
'Malam ini menyenangkan,' katanya.
'Iya. Kau tampak lebih santai daripada biasanya.'
'Mungkin karena orang-orang tidak membiarkanku mengatur semuanya.'
'Kedengarannya seperti pujian untuk mereka.'
'Memang pujian.' Ia terdiam, lalu menatapku. 'Dan untukmu juga. Kau membuat tempat ini terasa seperti rumah.'
Aku menggenggam gelas lebih erat. 'Aku senang kalau begitu.'
Kami berdiri berhadapan di ruang tengah. Jarak di antara kami hanya beberapa langkah. Ethan mengangkat tangan seolah ingin merapikan rambutku, lalu berhenti dan memberi kesempatan bagiku untuk menjauh. Aku tidak bergerak. Ia menyentuh lembut sisi wajahku.
'Shopia, boleh aku menciummu?' tanyanya pelan.
Aku menatap matanya. 'Boleh.'
Ia mendekat perlahan. Aku menyambutnya dengan menutup jarak yang tersisa. Ciuman itu singkat dan lembut, cukup untuk membuat suara musik seolah menjauh. Ketika kami berpisah, dahiku masih bersandar pada dahinya.
Lalu Ethan menarik napas panjang dan mundur setapak.
'Maaf,' katanya. 'Aku ingin melakukannya. Tapi aku belum siap menjanjikan lebih dari ini.'
Kehangatan di dadaku berubah menjadi sesuatu yang perih. Aku menurunkan tangan dari lengannya.
'Kau menyesal menciumku?' tanyaku.
'Tidak. Sama sekali tidak. Aku hanya takut membuatmu percaya bahwa aku sudah siap, padahal aku belum selesai membereskan perasaanku sendiri.'
Aku mengangguk, meski tenggorokanku terasa sempit. 'Terima kasih sudah jujur. Aku perlu waktu untuk mencerna ini.'
'Tentu. Aku tidak akan memaksamu menjawab apa pun malam ini.'
Aku mengambil gelasku dan berjalan ke kamar. Di ambang pintu, aku menoleh. Ia masih berdiri di tempat yang sama, tidak mengejarku. Aku menghargai itu, meskipun hatiku tetap terasa sakit.
**
Setelah aku masuk kamar, aku duduk di tepi ranjang beberapa lama. Aku tidak menangis, tetapi mataku terasa panas. Ciuman itu menyenangkan, dan justru itulah yang membuat penarikan dirinya terasa menyakitkan. Aku tidak ingin menghukum Ethan karena mengatakan yang sebenarnya. Aku juga tidak ingin mengecilkan perasaanku sendiri demi tampak dewasa.
Aku mengambil buku catatan dan menulis apa yang sebenarnya kurasakan: aku senang ia bertanya sebelum menciumku; aku senang ia berhenti ketika menyadari batasnya sendiri; aku kecewa karena harapanku tumbuh lebih cepat daripada kesiapan dia. Ketiganya bisa benar bersamaan.
Pagi nanti aku akan berbicara dengannya dengan tenang. Aku tidak perlu memutuskan sekarang apakah akan menunggu atau menjauh. Yang kubutuhkan malam ini hanya tidur dan ruang untuk mencerna semuanya. Aku mematikan lampu, membiarkan apartemen kembali hening, dan mengingat bahwa menjaga diriku juga bagian dari hubungan apa pun yang mungkin tumbuh di antara kami.