Empat hari setelah kompetisi, Cross & Co. mulai kembali ke rutinitas. Piala diletakkan di rak dekat kasir, dan pelanggan beberapa kali bertanya tentangnya. Daren menjawab dengan bangga, sementara Ethan selalu mengalihkan pujian kepada seluruh tim.
Aku mampir sepulang kuliah untuk mengembalikan kotak yang kubawa. Daren sedang melayani pelanggan, jadi aku menaruhnya di ruang belakang. Ethan melihatku dan menunjuk piala.
'Kau boleh memegangnya kalau mau,' katanya.
'Aku tidak mau meninggalkan sidik jari di penghargaan kalian.'
'Piala bisa dibersihkan.'
'Aku lebih suka melihatnya dari sini.'
Ia tertawa kecil. 'Kau membantu kami mendapatkannya. Kau punya hak untuk ikut bangga.'
Aku menatap piala itu. 'Aku memang bangga. Tapi yang paling kusukai adalah melihat kalian berdua bekerja sebagai tim.'
'Apa kau akan menulis tentang hari ini?' tanya Ethan.
'Mungkin. Tapi aku tidak akan menyalin apa yang terjadi persis. Aku akan mengambil perasaan di baliknya: gugup, berharap, lalu belajar menerima hasil bersama-sama.'
'Kau tidak akan menjadikan Daren tokoh yang menyatakan cinta di tengah dapur?' tanya Daren.
'Aku tidak tahu. Tokohku bisa melakukan apa saja selama ceritanya masuk akal.'
'Kalau begitu, jangan buat dia meniru aku terlalu dekat,' katanya.
'Kau bisa mengajukan keberatan kalau nanti membaca naskahnya.'
Daren tertawa. Ethan hanya menggeleng, tetapi ia tampak tidak lagi tegang saat topik itu muncul. Kami sudah melewati percakapan yang sulit tanpa kehilangan pekerjaan atau rasa hormat satu sama lain.
'Apa bagian yang paling membuatmu bangga?' tanya Daren.
Aku berpikir sejenak. 'Saat kalian mendengar kritik lalu mengubah resep tanpa saling menyalahkan. Kalian tidak menganggap pendapatku sebagai serangan. Kalian mencoba lagi.'
Ethan menyentuh sisi piala. 'Kami mungkin terlalu fokus pada hasil. Kau membantu kami mengingat kenapa kue itu dibuat.'
'Untuk dimakan,' jawabku.
Daren tertawa. 'Itu alasan paling sederhana sekaligus paling benar.'
'Menurutmu kita perlu mengadakan perayaan?' tanya Daren.
'Kalian pantas merayakannya,' jawabku. 'Tidak harus besar. Makan malam sederhana saja cukup.'
Ethan menatapku. 'Kau mau membantu menyiapkan?'
'Tentu. Aku bisa membawa minuman atau makanan penutup.'
'Jangan membawa kue,' kata Daren. 'Toko sudah penuh kue.'
'Kalau begitu, aku bawa sesuatu yang tidak manis.'
Kami tertawa dan mulai menyusun daftar kecil. Daren ingin mengundang Ningning dan Jayden. Ethan menyebut Mina, yang pernah memberi masukan tentang pelanggan dan promosi. Tidak ada yang merancang acara mewah; kami hanya ingin berkumpul setelah hari-hari persiapan yang melelahkan.
Aku membantu memilih waktu yang tidak mengganggu jadwal toko. Kami sepakat merayakan di apartemen setelah tutup, dengan semua orang membawa satu hal sederhana. Aku akan mengurus minuman, Daren makanan, dan Ethan menyiapkan roti.
Daren menambahkan bahwa ia akan menghubungi Ningning dan Jayden untuk memastikan mereka bisa datang. Ethan akan memberi tahu Mina. Aku menyetujui rencananya, lalu menulis daftar belanja di ponsel supaya tidak lupa.
'Jangan buat daftar terlalu panjang,' kata Ethan. 'Ini perayaan kecil.'
'Aku hanya mencatat minuman dan es.'
'Kau sudah menulis tiga jenis minuman.'
'Aku belum tahu selera semua orang.'
Daren tertawa. 'Biarkan dia membuat daftar. Kalau berlebihan, kita tidak harus membeli semuanya.'
Aku menyimpan catatan itu. Acara besok terasa sederhana dan ringan, tepat seperti yang kubutuhkan setelah hari-hari penuh percakapan sulit.
Kami kembali mengobrol tentang kompetisi. Daren menunjukkan foto panggung, Ethan memastikan piala tidak terlalu dekat ke tepi rak. Aku memperhatikan mereka berdebat kecil soal tempat terbaik untuk meletakkannya, lalu menyadari kemenangan itu mulai menjadi bagian dari kehidupan toko, bukan kejadian terpisah.
Daren muncul dari balik kasir sambil menutup foto panggung. 'Dalam foto kami terlihat tenang. Sayangnya tidak ada foto saat kami berdebat soal jumlah kulit jeruk.'
'Aku melihatnya. Kalian hanya berdebat dengan sopan.'
'Itu tetap debat,' kata Ethan.
Kami tertawa. Daren kembali ke depan, dan Ethan mengajakku duduk di meja dekat jendela. Ia tampak hendak membicarakan sesuatu, tetapi berhenti saat melihat pelanggan masuk.
**
Setelah toko tutup, Ethan duduk di seberangku. 'Apa kau merasa lebih lega setelah menjawab Daren?'
'Iya. Aku senang sudah berkata jujur. Dia terluka, tapi ia tidak memaksaku.'
'Dan orang yang kau sukai?'
Aku menatapnya. 'Kau sudah tahu siapa.'
'Aku tidak ingin menganggap apa pun.'
'Aku juga belum meminta jawaban darimu. Aku hanya ingin kau tahu bahwa perasaanku bukan karena Daren menyatakan perasaan lebih dulu. Aku sudah memikirkanmu sebelum itu.'
Ethan menurunkan pandangannya ke meja. 'Aku belum tahu apa yang bisa kuberikan kepadamu.'
'Aku tidak meminta janji sekarang. Aku juga tidak mau membuatmu merasa harus membalas. Tapi aku tidak ingin berpura-pura bahwa aku tidak merasakan apa-apa.'
Ia mengangguk pelan. 'Aku mengerti.'
'Apa kau ingin aku menjaga jarak?'
'Tidak. Aku hanya perlu belajar bagaimana tidak lari saat sesuatu terasa penting.'
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Ucapannya bukan pengakuan cinta, tetapi juga bukan penolakan. Aku memilih menghormati batas yang ia sampaikan.
'Baik. Kita tidak perlu menyelesaikan semuanya malam ini.'
Daren keluar dari ruang belakang sambil mengangkat ponsel. 'Ningning dan Jayden bisa datang besok. Mereka bertanya perlu membawa apa.'
'Makanan asin saja,' jawabku. 'Minuman sudah masuk bagianku.'
Ethan memeriksa balasan Mina. Ia juga bisa datang, tetapi baru setelah urusannya selesai. Kami menyisihkan satu tempat untuknya dan tidak menambahkan tamu lain. Meja apartemen tidak akan cukup kalau semua kursi toko ikut diangkut ke sana.
Aku mengeluarkan daftar belanja yang tadi kusimpan. Setelah menghitung orang yang sudah menjawab, aku menghapus satu jenis minuman dan mengurangi es. Daren mengambil foto daftar itu agar kami tidak membeli barang yang sama. Ia lalu mematikan lampu kasir, sementara Ethan memeriksa oven sebelum mengunci ruang belakang.
Dalam perjalanan pulang, aku memikirkan percakapanku dengan Ethan. Ia belum siap memberikan jawaban, dan aku tidak akan memaksanya. Tapi ia juga tidak menyuruhku pergi. Untuk sekarang, itu cukup untuk membuatku tetap berharap tanpa mengabaikan diriku sendiri.
Besok malam kami akan merayakan kemenangan di apartemen. Aku belum tahu bagaimana suasananya akan terasa saat semua orang berkumpul, tetapi aku tahu aku akan datang sebagai diriku sendiri, bukan sebagai riset untuk naskah siapa pun.