Daren tetap bekerja seperti biasa, tetapi aku melihat ia lebih banyak menghabiskan waktu di ruang belakang. Ia tidak menghindariku, hanya memberi dirinya ruang. Aku menghormatinya dan tidak berusaha memaksanya bercanda seperti sebelumnya.
Ethan juga tidak bertanya tentang percakapan kami. Ia menerima jawabanku bahwa semuanya baik-baik saja, lalu kembali mengurus toko. Aku mulai berpikir mungkin ia tidak ingin tahu lebih jauh. Namun, saat makan siang, ia meletakkan piring kecil di samping laptopku.
'Daren membuat kue untuk staf,' katanya. 'Dia bilang kau boleh mengambil satu.'
'Dia tidak membawanya sendiri?'
'Sedang mengurus pesanan.'
Aku memotong kue kecil itu. 'Dia baik-baik saja?'
'Dia bilang ia butuh waktu, tapi kalian tetap bekerja bersama. Itu saja yang ia sampaikan.'
'Aku tidak ingin suasana toko berubah karena aku.'
'Kalian berdua bisa menentukan cara bekerja. Aku tidak akan ikut campur.'
Aku mengangguk. 'Terima kasih.'
**
Sore harinya, aku menemui Daren di dapur belakang. Ia sedang menata bahan untuk produksi berikutnya. Aku menawarkan bantuan, dan ia menyodorkan daftar.
'Kita baik-baik saja?' tanyaku.
'Kita sedang mencari cara agar tidak canggung,' jawabnya. 'Tapi ya, kita baik-baik saja.'
'Kalau kau perlu waktu, bilang saja. Aku tidak akan memaksamu langsung kembali seperti biasanya.'
'Aku menghargai itu. Aku juga tidak ingin kau merasa harus mengurus perasaanku. Aku akan melewatinya sendiri.'
'Aku senang mendengarnya.'
Kami bekerja dengan tenang. Daren kemudian bertanya apakah aku akan tetap membantu persiapan kompetisi lain jika mereka ikut tahun depan.
'Kalau jadwalku memungkinkan, tentu. Tapi aku tidak tahu apa aku akan tetap menjadi pencicip resmi.'
'Kita bisa membuat posisi baru: konsultan nama kue dan pemberi komentar jujur.'
'Kedengarannya seperti pekerjaan yang tidak dibayar.'
'Kau akan dibayar dengan kue.'
'Kalau begitu, aku pertimbangkan.'
Daren lalu bercerita tentang bagaimana rasanya menunggu pengumuman pemenang. Ia mengaku sempat lupa kalimat pertama presentasi, tetapi melihat Ethan berdiri di sampingnya membuatnya kembali fokus.
'Kalian memang terlihat kompak,' kataku.
'Karena kami sudah lama bekerja bersama,' jawabnya. 'Kemenangan ini terasa lebih baik karena kami tidak melakukannya sendirian.'
Aku tahu ia sedang menyebut tim, bukan hubungan kami. Aku tidak mencari makna tersembunyi di balik kata-katanya. Kami membicarakan ide kue berikutnya dan pelanggan yang selalu meminta rasa cokelat. Daren mulai kembali menjadi dirinya sendiri, walaupun sesekali ia terdiam ketika aku menyebut masa depan.
Aku tidak ingin mengawasi setiap reaksinya. Ia berhak memproses penolakanku dengan caranya sendiri. Yang bisa kulakukan adalah tetap bersikap hangat, tanpa memberi isyarat yang berbeda dari jawabanku.
Sebelum pulang, aku dan Daren menyepakati bahwa kami akan tetap bicara langsung jika salah satu dari kami merasa tidak nyaman. Ia tidak meminta janji agar aku berubah pikiran, dan aku tidak menjanjikan bahwa semuanya akan sama persis seperti sebelumnya. Kami hanya bersepakat untuk tidak membiarkan rasa canggung menggantikan persahabatan yang sudah dibangun.
'Kau tahu, aku mungkin masih butuh beberapa hari untuk memprosesnya,' katanya.
'Aku paham.'
'Tapi aku tidak mau kau merasa harus menghindar.'
'Aku juga tidak akan menghindar.'
Kami kembali membicarakan menu toko. Ia menunjukkan beberapa komentar pelanggan tentang kue kompetisi dan aku menyarankan cara menjelaskan bahwa resep itu akan diuji dalam jumlah terbatas. Daren mencatatnya tanpa mempermasalahkan apakah ide itu datang dariku atau darinya. Itu membuatku merasa bahwa hubungan profesional kami masih kokoh.
Kami tertawa. Ketegangan di antara kami mulai berkurang. Aku tetap tidak tahu apakah Daren sudah sepenuhnya pulih, tetapi ia tidak menyalahkanku dan aku tidak berusaha menutupi jawabanku.
Ketika aku keluar dari dapur, Ethan sedang berbicara dengan pelanggan melalui telepon. Ia menutup panggilan dan bertanya apakah aku akan pulang segera.
'Sebentar lagi. Aku mau menyelesaikan satu paragraf dulu.'
'Kau bisa pakai meja depan. Aku akan mengunci toko setelah selesai.'
'Aku tidak mau mengganggu.'
'Kau tidak mengganggu.'
Sebelum menulis, aku mengamati toko yang mulai sepi. Di rak dekat kasir, beberapa pelanggan berhenti untuk melihat foto kompetisi yang Daren unggah. Mereka bertanya tentang rasa kue dan apakah resepnya akan dijual di toko.
'Mungkin kita bisa menjadikannya menu akhir pekan,' kata Daren. 'Belum tentu permanen, tapi kita bisa melihat tanggapan pelanggan.'
Ethan mempertimbangkan. 'Kita perlu memastikan kapasitas dapur cukup. Jangan sampai pesanan biasa terlambat.'
'Kita bisa mulai dengan jumlah kecil,' usulku. 'Kalau habis, pelanggan tahu itu edisi terbatas.'
Daren menulis usul itu di papan. 'Konsultan nama kue dan strategi jualan. Pekerjaanmu makin luas, Shopia.'
'Aku hanya menyarankan jumlah terbatas. Jangan lupa bayaranku masih berupa kue.'
Ethan menaruh sepotong kecil di samping laptopku. 'Pembayaran awal.'
Aku tertawa dan memutuskan menulis setelah mencicipinya. Rasanya tidak persis sama dengan sampel kompetisi; kue ini dibuat dari sisa bahan, tetapi tetap enak. Suasana toko perlahan kembali seperti biasa, hanya dengan piala baru di rak.
Aku duduk di meja depan dan membuka laptop. Ethan menyusun beberapa kotak pesanan di belakang. Tidak ada percakapan di antara kami, tetapi aku bisa mendengar langkahnya dan bunyi kertas pembungkus. Rasanya akrab.
Aku menulis satu adegan pendek tentang tokoh yang memilih berkata jujur meskipun jawabannya menyakitkan. Aku tidak mengambil kisah Daren, tetapi aku memahami bahwa kejujuran tidak selalu membuat semua orang langsung bahagia. Kadang ia hanya memberi mereka dasar yang lebih baik untuk melanjutkan hubungan.
Saat menutup laptop, Ethan datang membawa kotak berisi sisa kue kompetisi.
'Untuk dibawa pulang,' katanya.
'Kau mulai sering memberiku kue. Apa ini bagian dari aturan baru?'
'Bukan. Aku hanya tidak ingin kue ini terbuang.'
'Alasan praktis lagi.'
'Kau suka kue. Itu juga alasan.'
Aku tersenyum. 'Kalau begitu, aku terima.'
Aku mengemas laptop dan memeriksa jam. Kami sudah menghabiskan cukup waktu di toko, dan Daren perlu menyiapkan pesanan esok. Aku berpamitan kepadanya, lalu Ethan mengantarku sampai pintu.
'Kau merasa lebih baik setelah bicara dengannya?' tanyanya.
'Ya. Aku sedih dia kecewa, tapi aku tidak lagi merasa harus berpura-pura.'
'Itu penting.'
Aku mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak Daren mengungkapkan perasaannya, aku bisa memikirkan hubungan kami tanpa khawatir setiap kebaikan darinya akan dianggap sebagai janji.