Pagi setelah kompetisi, aku berdiri di depan Cross & Co. membawa dua cangkir kopi. Daren sudah datang lebih awal untuk menyimpan perlengkapan dan mengurus beberapa pesan dari panitia. Ia terlihat senang, tetapi lelah.
'Kau membawa kopi untuk merayakan kemenangan?' tanyanya.
'Untuk merayakan dan untuk memastikan kau tidak tertidur di meja.'
'Aku tidak akan tertidur. Aku hanya duduk sebentar.'
Kami masuk ke toko yang masih sepi. Ethan belum datang; ia harus mengambil salinan dokumen penghargaan dari panitia. Pialanya sendiri sudah kami bawa pulang kemarin. Aku meletakkan kopi di meja dan berdiri di seberang Daren.
'Aku ingin bicara tentang yang kau katakan setelah gladi,' ujarku.
Daren mengangguk. 'Baik.'
Aku mengatur kata-kata agar tidak terdengar kejam atau memberi harapan yang tidak benar. 'Aku sudah memikirkan perasaanku. Aku sangat menghargaimu dan aku senang bekerja bersamamu. Tapi perasaanku tidak sama dengan perasaanmu. Aku tidak ingin menerima ajakanmu hanya karena kau baik atau karena aku takut kehilangan persahabatan kita.'
Daren memandang cangkirnya. Senyumnya memudar, tetapi ia tetap tenang.
'Aku mengerti,' katanya. 'Aku berharap jawabannya berbeda, tapi aku tidak ingin kau berpura-pura.'
Ia mengaduk kopinya, lalu berhenti. 'Aku ingin kau tahu, aku tidak mengharapkanmu mengubah jawaban karena aku terlihat kecewa. Aku akan mengurus perasaanku sendiri.'
'Aku tidak mau kau berpikir aku menganggap pengakuanmu sepele. Aku sangat menghargai keberanianmu.'
'Aku tahu. Dan aku tidak menyesal sudah bicara. Kalau aku diam saja, mungkin aku akan terus bertanya-tanya.'
Aku duduk di seberangnya. 'Aku juga tidak ingin kehilangan kerja sama kita. Kalau ada yang terasa canggung, kita bisa membicarakannya.'
'Kita bisa mulai dengan tidak membahas perasaanku setiap kali bertemu,' katanya. 'Setelah beberapa waktu, mungkin kita akan bisa tertawa lagi seperti biasa.'
'Baik. Aku tidak akan memaksa percakapan itu.'
Ia mengangkat cangkir. 'Kalau begitu, kita lanjutkan hari ini dengan kopi dan kemenangan kemarin.'
Aku ikut mengangkat cangkir. 'Untuk kemenangan, dan untuk jawaban jujur.'
'Maaf kalau ini menyakitkan.'
'Memang sedikit. Tapi kau tidak melakukan kesalahan. Aku lebih memilih jawaban jujur daripada terus menebak-nebak.'
Aku menarik napas lega, sekaligus merasa sedih karena harus melukainya. 'Aku ingin kita tetap bisa bekerja bersama. Tapi kalau kau butuh jarak sebentar, aku akan mengerti.'
'Aku mungkin butuh waktu untuk menata perasaanku, tapi aku tidak akan menghukummu karena jujur. Kita sudah melewati terlalu banyak uji resep untuk berhenti bicara begitu saja.'
Aku tertawa kecil. 'Itu cara yang sangat Daren untuk mengatakan kita tetap teman.'
'Aku sedang berusaha tidak terdengar dramatis.'
**
Ia tidak terlihat marah, tetapi aku bisa melihat ia sedang mengumpulkan keberanian untuk bertanya. 'Apa ada orang lain yang kau sukai?' katanya akhirnya. Aku meletakkan cangkir dan memastikan jawabanku tidak akan membuatnya mengira aku membandingkan kami.
'Kau tidak harus menjawab pertanyaan itu sekarang,' katanya. 'Aku tidak ingin membuatmu merasa harus menceritakan semuanya.'
'Aku tahu. Tapi aku ingin jujur. Kalau aku terus menyimpan semuanya, aku hanya akan membuatmu menunggu tanpa alasan.'
'Kau benar. Aku juga ingin tahu, tapi bukan karena aku merasa berhak. Aku hanya ingin memahami apa yang sedang terjadi di antara kita.'
Aku menyadari bahwa penolakanku tidak berarti aku harus menyembunyikan hal lain. Aku bisa bicara jujur tanpa menjanjikan apa pun kepada Daren.
Daren menyesap kopi dan menatapku lagi. Ia meletakkan sendok di samping cangkir, menunggu apakah aku ingin melanjutkan jawaban atau berhenti di sana.
Aku ragu. Aku tidak ingin menjadikan pengakuan Ethan di balkon sebagai alasan untuk memberi Daren jawaban yang berbeda. Perasaanku sudah bergerak ke arah Ethan sebelum ia menceritakan tentang istrinya.
'Ada seseorang yang terus kupikirkan,' kataku akhirnya. 'Tapi aku belum tahu bagaimana membicarakannya dengannya.'
Daren mengangguk pelan. 'Ethan?'
Aku diam sejenak, lalu membalas, 'Ya.'
Ia tidak tampak terkejut. 'Aku sudah menduga. Tapi aku tidak ingin berasumsi sebelum kau mengatakannya.'
'Aku tidak ingin membuatmu merasa dibandingkan dengannya. Kau tidak kalah darinya. Perasaanku saja yang berbeda.'
'Aku tahu. Jangan terlalu berusaha menghiburku sampai kau membuat jawabanmu terdengar ragu.'
Aku tersenyum kecut. 'Maaf.'
'Tidak perlu minta maaf. Aku akan baik-baik saja. Dan aku tetap ingin kau membantu kami di toko kalau kau masih nyaman.'
'Aku masih nyaman.'
'Bagus. Kita beri semuanya sedikit waktu. Hari ini aku akan mengurus peralatan, dan kau bisa kembali ke kelas.'
'Aku juga tidak ingin kau merasa harus membuktikan bahwa kita masih teman,' kataku.
'Aku tahu. Aku akan bilang kalau aku perlu ruang. Kau juga boleh bilang kalau sesuatu membuatmu tidak nyaman.'
'Aku tidak ingin semua percakapan kita berubah jadi pembahasan perasaan.'
'Kita bisa bicara tentang kue dan pesanan seperti biasa.'
Aku mengangguk. 'Kalau begitu, kita mulai dari daftar perlengkapan.'
Daren tersenyum tipis. Ia mengambil pensil dan menggeser daftar ke arahku. Aku membaca butir demi butir, menandai apa yang sudah dikembalikan ke rak. Kerja sederhana itu membantu kami kembali ke ritme yang kukenal.
Aku membantu menyusun kotak ke rak. Kami berbicara tentang pekerjaan, jadwal toko, dan beberapa sisa kue yang akan dibagikan kepada pelanggan. Tidak ada perubahan besar, tetapi ada kejujuran baru di antara kami.
Saat Ethan tiba, Daren sudah kembali sibuk di ruang belakang. Ethan menatapku, seolah bertanya apakah semuanya baik-baik saja.
'Aku sudah bicara dengan Daren,' kataku.
'Kau tidak perlu memberitahuku apa yang ia katakan.'
'Aku tahu. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku sudah memberinya jawaban jujur.'
Ethan mengangguk. 'Terima kasih sudah memberitahuku.'
Aku ingin bertanya apa yang ia rasakan, tetapi ia kembali mengangkat kotak peralatan. Aku membiarkan pertanyaan itu menunggu.
Aku menyimpan cangkir yang sudah kosong dan mencatat jadwal kelas di ponsel. Aku sempat menatap meja kosong dan membiarkan keheningan itu selesai dengan sendirinya. Aku tidak perlu mengisi setiap jeda dengan permintaan maaf atau janji tambahan. Saat melangkah keluar, aku merasa lebih ringan. Jawaban yang jujur tidak menghilangkan rasa sedih, tetapi membuatku berhenti berusaha menjadi seseorang yang bisa dicintai semua orang.