Dari balik panggung, aku mendengar Daren membuka presentasi dengan tenang. Ia bercerita tentang kue yang bisa dibawa pulang tanpa kehilangan teksturnya. Ethan menjelaskan kombinasi rasa dengan suara mantap. Ia tidak lagi membaca catatan, hanya sesekali memandang Daren untuk menyambung penjelasan.
Aku tersenyum sendiri. Mereka terdengar seperti tim yang saling percaya.
Juri mencicipi sampel dan mengajukan pertanyaan. Aku tidak bisa mendengar semuanya, tetapi melihat Ethan menjawab tanpa terburu-buru. Daren menambahkan penjelasan tentang proses uji, dan keduanya tidak saling memotong.
Saat presentasi selesai, mereka kembali ke belakang panggung. Daren mengembuskan napas panjang.
'Bagaimana?' tanyaku.
'Aku tidak lupa urutannya,' katanya.
'Itu sudah kemajuan.'
Ethan memeriksa piring kosong. 'Mereka mencicipi semuanya.'
'Tentu. Itu bagian terbaiknya.'
'Kau pikir jawaban kami cukup jelas?' tanyanya.
'Kalian menjelaskan alasan di balik resep tanpa terdengar seperti membaca daftar bahan. Itu yang kita latih.'
Daren mengangkat ibu jari. 'Pujian dari Shopia. Kita bisa pulang sekarang.'
'Kalian harus menunggu hasilnya,' kataku. 'Jangan membuatku menjaga kue dan menunggu pengumuman sendirian.'
Sambil menunggu, Daren mengeluarkan dua botol air dan menyerahkan satu kepadaku.
'Kau tampak lebih tegang daripada kami,' katanya.
'Aku yang mengawasi dari belakang. Aku tidak bisa mengubah apa pun di panggung.'
'Kau sudah melakukan bagianmu,' ujar Ethan. 'Sekarang hasilnya bukan sesuatu yang bisa kita kendalikan.'
Aku membuka botol. 'Aku tahu. Tapi aku ingin kalian menang.'
'Kami juga,' kata Daren. 'Tapi kalau tidak, resepnya tetap milik kami.'
'Dan toko tetap buka besok,' tambah Ethan.
Aku tertawa. Mereka berhasil membuatku mengingat bahwa penghargaan bukan satu-satunya hal yang penting. Meski begitu, setiap kali pembawa acara mengumumkan kategori, aku tetap menahan napas.
Daren mencoba mengalihkan perhatian dengan membahas ide menu musiman. Ethan menanggapi dua kemungkinan rasa, lalu bertanya pendapatku. Aku memberi beberapa saran, tetapi kami tidak membuat keputusan apa pun. Piala dan kompetisi membuat semua orang tegang, namun obrolan tentang toko terasa seperti cara kami kembali ke hal yang dikenal.
Kami duduk di area peserta. Ada beberapa kategori penghargaan yang diumumkan satu per satu. Setiap kali nama toko lain disebut, Daren meremas ujung kartu jadwal. Ethan tampak tenang, tetapi jarinya mengetuk lututnya.
'Kau bisa berhenti mengetuk,' kataku.
'Aku tidak sadar melakukannya.'
'Kau melakukannya sejak sepuluh menit lalu.'
Ia menarik tangannya dan tertawa kecil. 'Baik.'
**
Nama Cross & Co. akhirnya dipanggil untuk penghargaan utama kategori kreasi kue. Daren membeku sesaat, lalu menoleh kepada Ethan.
'Kita menang?' bisiknya.
'Sepertinya begitu,' jawab Ethan.
Mereka naik ke panggung menerima penghargaan. Aku bertepuk tangan paling keras dari belakang. Ethan mengangkat piala dengan ekspresi yang sulit dibaca. Daren tersenyum lebar, tetapi ketika turun, ia lebih dulu memeluk Ethan.
'Kerja bagus,' kataku saat mereka kembali.
'Kau juga membantu,' kata Daren. 'Catatan rasamu membuat kami mengubah teksturnya.'
Ethan mengangguk. 'Terima kasih sudah membantu kami mempersiapkan semuanya.'
Aku merasa pipiku hangat. 'Aku hanya melakukan yang kalian minta.'
'Tidak. Kau memberi pendapat jujur dan membuat kami berlatih sampai penjelasannya masuk akal. Itu membantu.'
Setelah sesi foto dan urusan administrasi selesai, Daren diminta berbicara dengan panitia tentang pengambilan penghargaan. Ethan mengajakku naik ke balkon kecil di sisi gedung. Suara keramaian terdengar lebih jauh dari sana.
'Kau mau merayakan?' tanyaku.
'Nanti. Aku ingin bicara sebentar.'
Ia bersandar pada pagar. Piala berada di kursinya, tetapi ia tidak melihatnya.
'Kau pernah bertanya tentang istriku,' katanya. 'Aku bilang pernikahanku berakhir karena aku memilih toko dan aturan daripada mendengarkan dia. Itu memang benar.'
Aku tidak menyela.
'Saat toko mulai berkembang, aku menghabiskan hampir semua waktu di toko. Aku membuat aturan untuk mengendalikan semuanya. Dia mencoba bicara berkali-kali, tapi aku selalu bilang nanti, setelah musim ramai, setelah pesanan selesai, setelah masalah berikutnya beres. Pada akhirnya, dia pergi karena lelah menunggu.'
'Apa kau menyalahkan dirimu sendiri?'
'Aku tahu aku ikut menyebabkan semuanya. Aku tidak tahu apakah hanya aku yang salah, tapi aku tidak hadir saat dia membutuhkanku.'
Aku menatapnya. 'Terima kasih sudah menceritakannya.'
'Aku belum siap menceritakan semuanya. Tapi aku tidak mau kau mengira aku menutup diri karena tidak peduli. Kadang aku hanya takut mengulang kesalahan yang sama.'
Aku membiarkan kata-kata itu tinggal di antara kami. Penghargaan di belakang terasa kecil dibanding keberanian Ethan untuk membuka pintu masa lalunya sedikit.
'Apa kau masih menyalahkan dirimu setiap kali mengingatnya?' tanyaku.
Ethan mengusap ibu jarinya di sepanjang pagar balkon. 'Aku tidak tahu apakah menyalahkan diri sendiri membantu. Aku hanya tahu aku membuat pilihan yang menyakitinya. Aku tidak bisa mengubah waktu yang sudah lewat.'
'Kau bisa memilih apa yang kau lakukan sekarang.'
'Aku sedang mencoba. Tapi saat seseorang mulai penting bagiku, aku kembali berpikir bahwa menjaga jarak akan membuat semuanya aman.'
Aku tidak bertanya apakah ia sedang membicarakanku. Jawabannya mungkin belum siap, dan aku tidak ingin mengubah cerita tentang istrinya menjadi pengakuan tentang kami.
'Kau tidak harus menyelesaikan rasa takut itu hari ini,' kataku.
Ia menoleh. 'Kau tidak marah karena aku belum bisa menceritakan semuanya?'
'Tidak. Kau sudah mengatakan yang kau sanggup katakan. Aku menghargainya.'
Ethan mengangguk. Ia tampak lega, tetapi masih ada kesedihan di matanya. Aku tidak menyentuhnya. Aku hanya berdiri di dekatnya, membiarkan ia tahu aku mendengarkan tanpa meminta lebih.
Dari dalam gedung, suara Daren memanggil kami. Ia sudah menyelesaikan urusan dengan panitia dan mencari-cari Ethan. Ethan menarik napas, lalu berdiri tegak.
'Kita harus kembali,' katanya.
'Ya. Mereka mungkin ingin mengambil foto pialanya.'
'Daren pasti ingin memegangnya sepanjang malam.'
'Biarkan. Dia juga bekerja keras.'
Kami berjalan menuju pintu balkon. Ethan membawa piala, tetapi langkahnya terasa lebih ringan daripada sebelumnya. Dari kaca pintu aku melihat Daren menoleh ke arah kami. Penghargaan itu penting, namun bagiku percakapan di balkon adalah hal yang akan kuingat lebih lama. Aku tidak akan menanyakan sisanya sebelum ia siap menceritakan sendiri.
Sebelum kami bergabung kembali dengan yang lain, Ethan berhenti sejenak di dekat pintu balkon. 'Terima kasih sudah mendengarkan.'
'Kapan pun kau siap bicara.'
Ia mengangguk. 'Aku tidak ingin mengubah hari ini menjadi sesuatu yang muram. Daren pasti sudah menunggu untuk merayakan.'
'Kalau begitu, kita kembali dan biarkan dia memegang piala.'
Ethan tersenyum tipis. Kami berjalan kembali ke ruang utama dengan langkah yang lebih ringan.