Perjalanan dari toko berlangsung sunyi karena semua orang sibuk memikirkan tugas masing-masing. Daren menyetir, Ethan memastikan kotak sampel tetap rata, dan aku membaca ulang urutan penyajian. Sebelum berangkat kami telah memeriksa daftar di ponsel Daren. Di lampu merah, aku menyadari Ethan mengetuk sisi kotak dengan jarinya.
'Kau sedang menghitung berapa kali kita berhenti?' tanyaku.
'Aku memastikan kotaknya tidak bergerak.'
'Kita baru berhenti satu kali.'
Daren melirik kaca spion. 'Dia sudah memeriksanya sejak kita keluar dari toko. Kalau kau bertanya lagi, dia akan menghitung berdasarkan menit.'
Ethan tersenyum tipis. 'Aku cuma ingin hasil kerja kita sampai dalam kondisi baik.'
'Kuenya aman,' kataku. 'Kita juga sudah punya waktu untuk memperbaiki apa pun kalau ada yang kurang.'
Ia memandangku sebentar, lalu mengangguk. Aku tidak mengatakan bahwa ia harus santai; aku tahu kata-kata itu jarang membantu. Aku hanya mengingatkannya bahwa kami sudah mempersiapkan semuanya bersama-sama.
Kami tiba di gedung kompetisi saat langit baru mulai terang. Cross & Co. sudah sibuk sejak sebelum subuh. Daren memeriksa kotak-kotak sampel, Ethan memastikan kue terakhir tidak bergeser selama perjalanan. Aku membawa daftar perlengkapan dan celemek bersih.
'Kau sudah menunggu di toko sebelum aku tiba,' kata Daren sambil mengangkat tas perlengkapan dari kendaraan.
'Aku takut kalian lupa sesuatu kalau tidak ada yang cerewet mencatat.'
'Kami membawa semua yang ada di daftar,' jawab Ethan.
Aku memeriksa kotak satu per satu. 'Termasuk piring kecil cadangan?'
Daren menepuk tasnya. 'Ada.'
'Sarung tangan?'
'Ada.'
'Buku resep?'
Ethan mengangkatnya. 'Di tanganku.'
'Baik. Aku kehabisan alasan untuk meragukan persiapan kalian.'
Daren tertawa. Kami masuk melalui pintu peserta dan menuju area belakang panggung.
Seorang petugas menunjukkan tempat penyimpanan bahan dan jalur keluar jika perlu membawa peralatan. Daren mendengarkan instruksi, sementara aku menyalin nomor meja dan waktu persiapan ke lembar catatan. Ethan membuka kotak sampel lagi untuk memastikan posisi kue tidak bergeser.
'Kau sudah memeriksanya,' kataku.
'Aku tahu. Aku cuma ingin memastikan setelah perjalanan.'
'Aku paham. Tapi setelah ini kita berhenti memeriksa kotak dan mulai memeriksa diri sendiri. Kalian sudah makan?'
Daren mengangkat roti kecil. 'Aku makan di mobil.'
Ethan menggeleng. 'Aku belum sempat.'
Aku menyerahkan satu roti dari tas. 'Ambil. Pemenang kompetisi tidak boleh pingsan sebelum presentasi.'
'Belum tentu pemenang,' katanya.
'Tetap tidak boleh pingsan.'
Ia menerima roti itu. Aku memastikan mereka punya air dan tisu, lalu menyimpan tas di tempat yang tidak menghalangi meja kerja. Ada meja-meja kerja yang ditata berurutan, oven bersama, dan rak untuk menyimpan bahan. Aku membantu menyusun kotak sesuai urutan, lalu mengecek label agar nama toko terbaca jelas.
'Aku akan mengurus jadwal dan perlengkapan,' kata Daren. 'Ethan fokus pada kue dan presentasi. Shopia, kalau ada yang kurang, beri tahu aku.'
'Siap. Aku juga akan menjaga kotak sampel supaya tidak tertukar.'
Ethan membuka kotak pertama dan memeriksa permukaannya. 'Kue-kue ini terlihat baik.'
'Kau sudah mengeceknya tiga kali,' kataku.
'Empat kali,' koreksi Daren.
'Kalau kau cek lima kali, kuenya tidak akan berubah bentuk.'
'Aku tahu. Aku cuma memastikan semuanya aman.'
Aku melihat ketegangan di bahunya. 'Kau gugup?'
'Aku sedang berkonsentrasi.'
'Itu cara lain mengatakan gugup.'
Daren menyerahkan kartu urutan presentasi. 'Kalian perlu mengulang penjelasan sekali sebelum giliran. Jangan sampai semua latihan kemarin hilang karena panik.'
Ethan menghela napas, lalu ikut denganku ke sisi panggung yang lebih sepi. Daren tetap di belakang mengurus jadwal peserta. Aku berdiri di hadapan Ethan dan berpura-pura menjadi juri.
'Silakan jelaskan kue kalian,' kataku.
Ethan memulai dengan kalimat pendek tentang rasa mentega dan jeruk. Ia menjelaskan bahwa ukuran kue dibuat agar mudah dibawa. Daren menyusul dengan cerita tentang percobaan tekstur dan kemasan.
'Lebih baik,' kataku. 'Tapi jangan melihat lantai saat menjawab. Kalian sedang bercerita, bukan menghafal.'
Ethan mengangkat pandangan. 'Kau benar.'
'Aku tahu.'
Daren tersenyum. 'Kau sekarang menjadi pelatih presentasi juga?'
'Hanya sampai kalian naik panggung. Setelah itu aku kembali jadi pencicip.'
Sebelum masuk ke area utama, seorang petugas memeriksa kartu peserta dan daftar perlengkapan kami. Daren menyerahkan formulir, Ethan menunjukkan label produk, sementara aku memastikan kotak kosong dan alat cadangan disimpan di meja belakang sesuai arahan.
'Semua sudah lengkap,' kata petugas itu setelah mengecek daftar.
Daren mengembuskan napas. 'Akhirnya ada satu hal yang bisa kita centang.'
Aku mencatat waktu giliran kami di kertas. 'Kalian punya sekitar dua puluh menit sebelum naik panggung. Jangan habiskan semuanya untuk melihat kotak.'
Ethan melirikku. 'Aku tidak melihat kotak.'
'Kau sedang melihat kotak itu sekarang.'
Ia mengalihkan pandangan. Daren tertawa dan mengajaknya mengulang pembagian jawaban. Kali ini mereka berlatih sambil bergerak, menyajikan sampel seolah-olah sudah berada di hadapan juri.
'Lebih baik,' kataku setelah mereka selesai. 'Kalian tampak percaya pada resepnya.'
Daren menyimpan kartu urutan. 'Kita harus percaya. Kita yang membuatnya.'
Aku mengangguk. Di sekeliling kami, peserta lain sibuk menata bahan dan mengecek oven. Kompetisi terasa jauh lebih nyata daripada latihan di toko. Ketika petugas meminta tim berikutnya bersiap, Ethan dan Daren mengangguk bersama. Mereka tetap di belakang panggung sambil menunggu pemeriksaan terakhir, belum membawa sampel ke hadapan juri.
**
Panitia memanggil peserta untuk pemeriksaan akhir. Kami kembali ke meja kerja. Aku memastikan label menempel kuat dan tidak ada alat yang tertinggal. Beberapa menit kemudian, seorang staf memberi tahu bahwa giliran Cross & Co. akan datang setelah dua peserta lain.
Ethan menatap kue-kue itu. 'Waktunya.'
Aku menyentuh lengannya sebentar. 'Kalian sudah siap. Kalian tahu kenapa membuat resep ini. Ceritakan saja.'
Ia menatapku, lalu mengangguk. 'Terima kasih.'
Daren mengambil nampan. Kami berjalan menuju sisi panggung. Lampu-lampu terasa lebih terang dari yang kubayangkan, dan suara penonton terdengar dari balik tirai. Aku berhenti di garis yang memisahkan area peserta dan panggung.
'Aku tetap di sini,' kataku. 'Kalau kalian butuh apa pun setelah presentasi, lihat ke arah meja belakang.'
'Jangan pergi jauh,' ujar Daren.
'Aku tidak akan.'
Nama Cross & Co. dipanggil. Ethan dan Daren melangkah maju membawa kue mereka. Aku berdiri di belakang panggung, menggenggam daftar kosong, dan menunggu giliran mereka menyampaikan sesuatu yang sudah kami bangun bersama selama berminggu-minggu.