Pagi berikutnya, setelah semalam menelepon Papa untuk mengabarkan kedatanganku, aku mengirim pesan bahwa aku sudah beristirahat. Ia membalas dengan ucapan terima kasih dan berkata ia senang kami sempat bicara. Miranda juga mengirim pesan pendek: 'Terima kasih sudah datang. Aku akan berusaha mendengarkan lebih baik.' Aku membacanya beberapa kali sebelum menyimpan ponsel.
Ethan sedang membuat kopi ketika aku masuk dapur.
'Papa dan Miranda mengirim pesan?' tanyanya.
'Ya. Mereka berterima kasih. Miranda bilang akan berusaha mendengarkan.'
'Bagaimana perasaanmu?'
'Sedikit lega. Tapi aku masih takut semuanya hanya berlaku untuk satu malam.'
'Kau bisa memberi mereka waktu untuk membuktikannya. Tidak perlu memutuskan sekarang apakah semuanya sudah pulih.'
Aku menuang kopi. 'Kau selalu bisa membuat keputusan sulit terdengar seperti sesuatu yang bisa dibagi menjadi beberapa langkah.'
'Biasanya memang begitu.'
'Mungkin aku perlu mengingatnya saat menulis.'
'Atau saat menghadapi keluargamu.'
Aku tersenyum. 'Aku akan mencoba keduanya.'
**
Siang harinya aku menemui Ningning di kampus dan menceritakan makan malam itu. Ia mendengarkan saat aku menjelaskan bahwa Miranda meminta maaf dan Papa memelukku.
'Kau merasa lebih baik?' tanyanya.
'Aku merasa didengar. Tapi belum sepenuhnya percaya bahwa semuanya berubah.'
'Kau tidak perlu memaksa diri percaya langsung. Mereka harus menunjukkan lewat tindakan.'
'Aku tahu. Tapi setidaknya sekarang aku tidak menyesal sudah datang.'
Ningning menggenggam tanganku. 'Itu sudah berarti. Kau mengatakan hal yang selama ini kau simpan.'
Aku mengangguk. 'Aku juga belajar bahwa meminta maaf tidak membuat semua luka hilang. Tapi mungkin bisa membuka jalan untuk bicara lagi.'
Sebelum meninggalkan kampus, aku menerima pesan singkat dari Papa: 'Terima kasih sudah bicara terus terang tadi malam. Papa akan berusaha lebih mendengarkan.' Aku membalas bahwa aku juga akan berusaha menghubungi mereka lebih sering. Aku tidak menambahkan janji tentang kapan akan berkunjung lagi. Untuk sekarang, pesan itu sudah cukup.
Di toko, Daren menunjukkan jadwal baru untuk gladi terakhir. Ada beberapa hal yang harus disiapkan, termasuk urutan sampel dan perlengkapan penyajian. Aku membantu mengecek daftar sambil bercerita bahwa makan malam keluarga berjalan lebih baik daripada yang kutakuti.
'Aku senang kau bisa bicara dengan mereka,' kata Daren. 'Kau kelihatan sedikit lebih lega.'
'Aku lega karena akhirnya mengatakannya, tapi aku masih harus melihat apakah keadaan benar-benar berubah.'
'Itu adil. Minta maaf adalah awal, bukan akhir.'
Ethan meletakkan kotak di meja. 'Kalau perlu mengubah jadwal, bilang. Kita bisa menyesuaikan persiapan kompetisi.'
'Aku bisa tetap membantu,' kataku. 'Aku tidak ingin masalah keluargaku mengganggu pekerjaan kalian.'
'Kau tidak mengganggu,' jawab Daren. 'Kita hanya perlu membagi tugas dengan baik.'
Kami menyusun perlengkapan bersama. Aku memeriksa label, Daren menghitung sampel, dan Ethan memastikan semuanya masuk ke kotak yang tepat. Saat satu wadah tidak muat, kami berdiskusi sebelum memindahkan apa pun. Rasanya menyenangkan bekerja tanpa ada yang menganggap pendapat orang lain sebagai gangguan.
Menjelang toko tutup, kami mulai gladi terakhir. Aku memindahkan daftar ke sisi meja dan meminta Daren serta Ethan berdiri di posisi mereka nanti. Kotak contoh berada di depan, masih tertutup. Aku menyalakan penghitung waktu di ponsel.
Daren memulai penjelasan dengan lancar, tetapi berhenti ketika membuka penutup kotak. Lapisan beningnya mengembun. Dari tempatku duduk, bentuk kue yang seharusnya terlihat jelas justru buram.
'Aku tidak bisa melihat bagian yang sedang kaujelaskan,' kataku.
Ethan mendekat dan mengangkat penutupnya. Daren hendak mengelap sisi dalam, tetapi Ethan menahannya sebelum lap itu menyentuh kue. Mereka memindahkan sampel ke piring bersih. Aku menghentikan waktu.
'Terlalu cepat ditutup?' tanyaku.
'Sampelnya masih hangat saat masuk kotak,' jawab Ethan. 'Kita harus memberi waktu pendinginan yang cukup sebelum kemasan ditutup.'
Daren mengambil catatan pengiriman. Ia menambahkan jeda pendinginan ke urutan persiapan esok, lalu menggeser jam pengemasan. Aku mencoret gambar kotak tertutup pada catatanku dan menandai kapan penutup perlu dibuka untuk penyajian. Bentuk kemasan yang pernah kami uji ternyata belum menyelesaikan semuanya.
'Kita tidak ingin mengetahui ini di depan juri,' kata Daren.
'Aku juga tidak ingin pidatomu berhenti karena kau sedang mencari lap,' jawabku.
Ia tertawa, kemudian kembali ke posisinya. Kami mengulang dari awal. Kali ini Daren memperkenalkan rasa lebih dahulu, Ethan membuka kemasan, lalu keduanya bergantian menjelaskan proses. Saat kuminta mereka memilih bagian yang paling sulit, mereka justru menjawab bersamaan.
'Menyepakati kapan harus berhenti mengubah resep,' kata Daren.
'Menjaga hasilnya tetap sama,' kata Ethan.
Aku mengangkat telapak tangan. 'Pilih siapa yang bicara dulu. Tadi aku kehilangan kedua jawabannya.'
Mereka saling menatap. Daren memberi isyarat kepada Ethan, lalu menambahkan bagian percobaan setelah penjelasannya selesai. Aku membiarkan penghitung waktu berjalan. Presentasi itu tidak sesempurna pidato yang dihafalkan, tetapi aku bisa mengikuti bagaimana mereka sampai pada resep terakhir.
Setelah latihan selesai, kami menyimpan sampel terpisah dari persediaan untuk pelanggan. Daren memeriksa kembali urutan barang yang perlu dimasukkan ke kendaraan. Aku menawarkan membawa map penilaian percobaan kami. Ethan mengatakan berkas itu boleh tetap bersamaku, sedangkan daftar peralatan harus ditempel pada kotak yang akan ia bawa.
'Kau masih nyaman ikut besok?' tanya Daren ketika Ethan mengambil kain pembersih.
'Aku nyaman membantu kompetisi. Soal yang lain, aku belum ingin memberi jawaban sambil menghitung waktu presentasi.'
'Aku mengerti. Sampai pekerjaan ini selesai, kita fokus ke sini.'
Ia memasukkan pena ke mapnya, tanpa menunggu aku mengatakan sesuatu lagi. Aku mengambil tas dan memeriksa jadwal keberangkatan. Besok kami harus datang cukup awal untuk menata meja sebelum giliran presentasi, bukan memulai uji resep lagi.
Ethan menunggu di dekat pintu sementara Daren memastikan ruang belakang terkunci. Aku mematikan penghitung waktu dan mengirimkan durasi latihan terakhir kepada mereka. Daren membalas dengan foto daftar yang sudah diperbaiki. Aku memeriksa jeda pendinginan yang baru ditambahkan sebelum menyimpan ponsel. Ketika kami meninggalkan toko, aku masih memikirkan kotak yang berembun. Hal kecil itu memberi kami alasan untuk datang lebih siap esok, tanpa menjamin bahwa semua hal akan berjalan sesuai rencana.