Makan malam berakhir tanpa pertengkaran. Papa membungkus sisa makanan untuk kubawa, sementara Miranda berdiri di dekat pintu dan mengucapkan terima kasih karena aku sudah datang.
'Aku harap kita bisa bicara lagi,' katanya.
'Aku juga. Tapi kita harus melakukannya pelan-pelan.'
'Aku mengerti.'
Papa mengantarku ke mobil. Ethan turun dari kursi pengemudi saat melihat kami keluar. Papa mengulurkan tangan kepadanya.
'Terima kasih sudah mengantar Shopia,' katanya.
'Sama-sama.'
Papa menatapku. 'Telepon kalau sudah sampai.'
'Iya, Pa.'
Sebelum mobil bergerak, Papa berdiri di sisi jendela yang terbuka. 'Kalau kamu belum siap datang lagi, Papa mengerti. Tapi Papa ingin kita tetap mencoba bicara.'
'Aku akan menghubungimu,' kataku. 'Aku tidak bisa berjanji semuanya langsung baik.'
'Papa tidak meminta itu.'
Miranda muncul di belakangnya. Ia tampak hendak mengatakan sesuatu, lalu hanya melambaikan tangan. Aku membalas lambaian itu. Ada rasa canggung, tetapi juga ruang kecil untuk kemungkinan yang belum pernah kuberikan kepada kami.
Ethan menunggu sampai mereka masuk kembali sebelum menjalankan mobil. Aku memandang rumah itu dari jendela. Aku belum tahu apakah akan merasa nyaman di sana lagi, tetapi untuk pertama kalinya aku tidak pergi dengan semua kata-kata tertinggal di tenggorokan.
**
Aku memperbaiki posisi sabuk pengaman dan menyimpan map di sisi kursi. Selama beberapa menit perjalanan kami diam. Lampu jalan melintas di kaca jendela, dan bungkusan makanan di pangkuanku mengeluarkan aroma hangat.
'Bagaimana?' tanyanya akhirnya.
Aku ingin menjawab bahwa semuanya baik-baik saja, tetapi tenggorokanku terasa sesak. Aku mulai menangis tanpa suara. Ethan tidak bertanya lagi. Ia menepikan mobil di tempat yang aman, mematikan mesin, lalu mengambil jaket dari kursi belakang.
Ia menyodorkannya kepadaku tanpa berkata apa-apa.
'Kau tidak perlu melakukan apa-apa,' katanya.
'Aku tahu. Tapi rasanya lega saat seseorang tidak langsung meminta penjelasan.'
'Kadang pertanyaan bisa menunggu sampai orangnya siap menjawab.'
Aku mengusap mata. 'Aku takut kalau aku cerita, nanti kau menganggap keluargaku buruk.'
'Aku tidak mengenal seluruh cerita mereka. Aku hanya tahu ada hal yang menyakitimu dan malam ini kau mencoba membicarakannya.'
'Dan menurutmu?'
'Menurutku kau berhak merasa terluka. Itu tidak membuat Papa atau Miranda menjadi orang jahat. Itu hanya berarti ada hal yang perlu kalian perbaiki.'
Aku menatapnya, terkejut ia bisa menyampaikan sesuatu yang begitu seimbang. 'Aku ingin bisa melakukan itu juga. Mendengar tanpa langsung menentukan siapa yang salah.'
'Kau bisa belajar. Tadi kau sudah melakukannya dengan bicara tanpa berteriak.'
Aku mengangguk dan menarik jaket lebih rapat ke tubuhku. Aku belum siap menilai apakah malam itu mengubah keluargaku. Tapi aku tahu aku telah melakukan sesuatu yang lama kutakuti.
Aku menggenggam ujung jaket yang sudah kupakai. 'Mereka meminta maaf. Papa memelukku. Aku pikir aku akan merasa lega, tapi sekarang rasanya seperti semua yang kutahan akhirnya keluar.'
'Kau tidak harus merasa lega hanya karena mereka meminta maaf. Kau boleh tetap sedih.'
Aku menunduk, membiarkan air mata jatuh. 'Aku merindukan Papa. Tapi aku juga marah padanya. Dua hal itu bisa ada bersamaan, ya?'
'Bisa.'
'Aku takut berharap terlalu banyak. Aku tidak ingin kembali ke rumah itu lalu semuanya terjadi lagi.'
'Kau tidak harus memutuskan sekarang seberapa dekat kalian akan kembali. Kau bisa melihat apakah mereka benar-benar mendengarkan setelah malam ini.'
Aku mengusap wajah dengan lengan jaket. 'Kau tidak bertanya apa yang Miranda katakan.'
'Kalau kau ingin cerita, aku akan mendengarkan. Kalau tidak, kita bisa diam sebentar.'
Aku mengangguk. Ia menyalakan pemanas mobil dan menunggu sampai napasku lebih teratur. Ia tidak membandingkan keluargaku dengan keluarganya atau meminta aku memutuskan sesuatu malam itu. Hanya ruang tenang untuk membiarkan perasaanku lewat.
**
Saat kami kembali ke jalan, aku menyandarkan kepala ke kursi. Jaket Ethan masih menutupi bahuku. Aku baru sadar ia hanya memakai kemeja tipis.
'Kau tidak kedinginan?' tanyaku.
'Aku baik-baik saja.'
'Kau memberiku jaketmu.'
'Kau lebih membutuhkannya sekarang.'
Aku menggenggam kainnya. 'Terima kasih.'
'Kau sudah bilang itu tadi.'
'Aku mau bilang lagi.'
Kami berhenti di lampu merah. Ethan meraih pemanas dan mengarahkannya sedikit ke sisi tempatku duduk.
'Kau selalu memperhatikan hal-hal kecil,' kataku.
'Kau menggigil.'
'Aku juga sedang menangis. Mungkin itu sebabnya.'
'Mungkin.' Ia tidak tertawa atau mencoba mengubah suasana. 'Kau ingin aku bertanya tentang makan malam itu?'
'Belum. Tapi mungkin nanti aku akan cerita.'
'Baik.'
Jawaban itu membuatku nyaman karena ia tidak menuntut penjelasan sebagai balasan atas bantuannya. Aku bisa memilih kapan membuka cerita, sama seperti aku bisa memilih kapan berhenti membicarakannya.
Ethan mengangguk kecil dan kembali memperhatikan jalan. Aku menatapnya dari samping, merasa aman tanpa harus menjelaskan semuanya. Saat tiba di apartemen, ia membuka pintu untukku dan membiarkan aku masuk lebih dulu.
'Kau mau teh?' tanyanya.
'Boleh. Tapi setelah itu aku ingin tidur.'
'Aku buatkan.'
Kami duduk sebentar di meja makan. Aku bercerita sedikit tentang permintaan maaf Miranda dan pelukan Papa. Ethan mendengarkan tanpa menyela, lalu bertanya apakah aku ingin menyimpan makanan yang dibawa Papa untuk besok.
'Ya. Aku ingin membawanya ke kampus. Mungkin besok rasanya masih enak.'
'Kita simpan di kulkas.'
Ia berdiri dan menaruh bungkusan itu dengan hati-hati. Tidak ada memo baru, tidak ada aturan tentang kapan aku harus pulang atau apa yang boleh kubicarakan. Hanya jaket yang masih di bahuku dan teh hangat di tanganku.
Sebelum tidur, aku mengembalikan jaketnya. Ethan menerimanya dan berkata, 'Kau bisa meminjamnya lagi kalau perlu.' Aku tersenyum, tetapi tidak menjawab. Ada rasa hangat yang tidak ingin kuberi nama dulu.
Sebelum masuk kamar, aku menelepon Papa seperti janjiku tadi. Ia langsung bertanya apakah perjalanan kami lancar. Aku mengatakan aku sudah sampai dan makanan yang dibawakan sudah masuk kulkas.
'Besok kamu ada kelas?' tanyanya.
'Ada. Aku akan membawa sebagian untuk makan siang.'
Papa terdiam sebentar, lalu mengatakan ia senang aku mau membawanya. Kami tidak mengulang permintaan maaf di ruang makan. Ia mengingatkanku memanaskan lauk dengan baik, dan aku tersenyum karena kalimat biasa itu terasa lebih mudah diterima daripada janji besar.
Setelah sambungan berakhir, aku mencatat pesan untuk Ningning agar bisa bercerita ketika bertemu esok. Ethan sudah membawa jaketnya ke kamar. Aku mematikan lampu dapur setelah memastikan makanan tersimpan, lalu kembali ke ranjang dengan ponsel di tanganku. Untuk pertama kalinya malam itu, aku tidak merasa perlu menyiapkan pembelaan sebelum mendengar suara Papa.