Ethan mengantarku ke rumah Papa tepat pukul tujuh. Sebelum turun, aku merapikan map kecil berisi catatanku. Ethan melihat gerakanku, tetapi tidak berkomentar.
'Aku akan menunggu di sini,' katanya. 'Kalau kau ingin pulang lebih cepat, telepon saja.'
'Terima kasih. Aku mungkin butuh waktu.'
'Ambil waktu yang kauperlukan.'
Aku mengetuk pintu. Papa membukanya sendiri dan menyambutku dengan pelukan singkat. Rumah itu tampak sama: foto keluarga di dinding, meja kayu yang dulu sering kupakai mengerjakan tugas, dan aroma masakan dari dapur. Miranda muncul beberapa saat kemudian, tangannya masih memegang serbet.
'Shopia,' katanya. 'Senang kamu datang.'
Aku membalas salamnya. Sebelum duduk, Miranda sempat bertanya apakah aku ingin minum teh atau air. Aku memilih air. Ia tidak mencoba menyentuh bahuku atau berpura-pura bahwa kami sudah akrab, dan aku menghargai jarak yang ia berikan. Kami duduk di ruang makan. Papa bertanya tentang kuliah dan pekerjaanku, lalu Miranda menanyakan apakah aku masih menulis untuk penerbit. Percakapan awal berjalan hati-hati, seperti kami sedang menguji apakah ada kalimat yang bisa memicu pertengkaran.
Papa menyajikan makanan yang dulu sering kuminta saat masih tinggal di rumah. Aroma itu membuatku kembali teringat masa ketika kami makan bertiga sebelum Miranda datang. Aku tidak ingin kenangan itu menjadi senjata, tetapi sulit untuk tidak membandingkannya dengan tahun-tahun setelahnya.
'Papa memasak sendiri?' tanyaku.
'Sebagian. Miranda membantu menyiapkan sisanya,' jawab Papa. 'Kami tidak yakin apa yang kamu suka sekarang.'
'Aku masih suka ini.'
Miranda tersenyum kecil. 'Papa ingat resepnya. Aku hanya memotong sayur.'
Percakapan itu membuatku sedikit lebih rileks. Aku bisa melihat bahwa mereka berusaha menyambutku, meski kami belum tahu bagaimana memulai kembali.
**
Setelah makanan disajikan, Papa berkata, 'Kita ingin malam ini berjalan baik. Kalau ada hal yang ingin kamu bicarakan, kami mendengarkan.'
Aku meletakkan sendok. 'Aku ingin jujur. Aku merasa tersisih sejak Miranda tinggal bersama kita. Aku tahu kalian membangun keluarga, tapi kadang aku merasa harus meminta izin untuk menjadi bagian dari rumah ini.'
Miranda terdiam. Papa menyandarkan punggungnya ke kursi.
'Apa yang membuatmu merasa begitu?' tanya Papa.
'Waktu aku mencoba bicara tentang Ibu, Miranda sering bilang aku tidak tahu apa-apa. Aku tahu mungkin dia merasa sedang membantu, tapi aku merasa kenanganku tentang Ibu dianggap salah. Lalu saat kami bertengkar, Papa sering membelanya sebelum mendengar penjelasanku. Aku merasa kehilangan Ibu, lalu kehilangan Papa juga.'
Papa menunduk. 'Papa tidak tahu kamu merasakannya sedalam itu.'
'Aku pernah mencoba mengatakannya. Tapi biasanya pembicaraan berakhir dengan aku diminta menghormati Miranda. Aku tidak meminta Papa memilih antara kami. Aku hanya ingin Papa mendengarkan sebelum menyuruhku diam.'
Miranda meletakkan serbet. Wajahnya sulit kubaca. Aku menahan napas, menunggu apakah ia akan membantah.
'Aku memang pernah mengatakan kamu tidak tahu apa-apa,' katanya akhirnya. 'Aku pikir aku sedang menenangkanmu, tapi sekarang aku mengerti kata-kata itu membuatmu merasa tidak berhak mengingat ibumu dengan caramu sendiri.'
Aku tidak menjawab. Miranda menunduk dan memutar cincin di jarinya.
'Aku minta maaf,' katanya kaku. 'Aku seharusnya tidak mengatakan itu. Aku juga seharusnya tidak membuatmu merasa seperti tamu di rumah sendiri. Aku tidak tahu cara memperbaiki semuanya, tapi aku menyesal sudah membuatmu sakit hati.'
Kata-katanya tidak menghapus semua pertengkaran. Namun, aku bisa melihat ia berusaha mengatakannya tanpa membela diri.
Aku menyentuh ujung serbet dan mencoba mengatur napas. 'Aku sering merasa kalau aku mengingat Ibu, aku membuat kalian tidak nyaman. Aku tidak ingin harus memilih antara menyimpan kenangan dan membangun hubungan baru denganmu.'
Miranda menggeleng pelan. 'Kamu tidak perlu memilih. Aku tidak akan menggantikan ibumu. Aku seharusnya memahami itu sejak awal.'
Papa menyela dengan suara rendah. 'Papa juga salah karena membiarkan kalian berdua menyelesaikan semuanya sendiri. Seharusnya Papa menjadi orang yang memastikan kamu tetap punya tempat untuk bicara.'
'Aku tidak berharap kalian selalu setuju denganku,' kataku. 'Aku hanya ingin didengar sampai selesai.'
'Kami akan berusaha,' kata Papa.
Aku mengangguk. Aku tahu usaha tidak otomatis menjadi perubahan. Namun, malam itu mereka tidak memintaku menarik kata-kataku atau menganggap semuanya kesalahpahaman. Itu sudah terasa berbeda.
'Terima kasih sudah meminta maaf,' kataku. 'Aku juga tahu aku sering menjauh dan langsung marah. Aku tidak ingin kita terus seperti itu.'
Papa berdiri dan berjalan ke sisiku. Ia memelukku erat. Aku menahan napas, lalu membalas pelukannya. Air mataku mulai jatuh sebelum sempat kutahan.
'Maaf Papa tidak mendengarkanmu lebih awal,' katanya. 'Papa seharusnya memastikan kamu tetap merasa punya tempat di rumah ini.'
Aku menangis di bahunya. Miranda berdiri di sisi lain meja, matanya berkaca-kaca, tetapi ia tidak memaksa ikut memelukku. Setelah beberapa saat, aku melepaskan diri dan menghapus pipi.
'Aku tidak bisa langsung melupakan semuanya,' kataku.
'Papa tidak memintamu melupakan,' jawabnya. 'Kita mulai dengan bicara lebih jujur.'
Miranda bertanya apakah aku masih tinggal di apartemen yang sama dan apakah pemilik rumah sudah membantu menyelesaikan masalah kontrak. Aku menjelaskan bahwa aku menyewa tempat itu dari orang yang ternyata tidak berhak menyewakannya, lalu akhirnya tinggal bersama Ethan setelah semuanya terbuka.
Papa mengernyit. 'Kamu menghadapi semua itu sendirian?'
'Aku membuat laporan dan Selena membantu memeriksa dokumennya. Ethan juga menemaniku.'
Miranda tampak ingin menanggapi, lalu menahan diri. 'Aku tidak tahu. Seharusnya kami tahu lebih cepat bahwa kamu sedang kesulitan.'
'Aku juga tidak banyak bercerita. Aku takut dianggap membuat masalah lagi.'
Papa menatapku. 'Kalau kamu butuh bantuan, kamu boleh meminta. Papa mungkin tidak selalu tahu cara terbaik untuk mendengarkan, tapi Papa ingin mencoba.'
'Aku akan berusaha bicara sebelum semuanya menumpuk,' kataku. 'Tapi aku perlu kalian mendengarkan dulu sebelum memberi nasihat.'
Miranda mengangguk pelan. 'Aku bisa mencoba. Kalau aku mengatakan sesuatu yang membuatmu merasa dibandingkan dengan Ibumu, beri tahu aku. Aku akan berusaha tidak membela diri dulu.'
Aku tidak langsung tahu harus menjawab apa. Aku hanya berkata, 'Baik. Aku juga akan mencoba mendengarkanmu.' Itu bukan janji bahwa kami akan langsung dekat, tetapi cukup untuk membuka percakapan berikutnya.
Kami melanjutkan makan malam dengan suasana yang masih canggung, tetapi lebih ringan. Miranda bertanya tentang naskahku dan mendengarkan saat aku menjelaskan premisnya. Papa menanyakan apakah aku akan datang lagi. Aku bilang mungkin, kalau kami terus berusaha bicara seperti malam ini.