Pagi berikutnya aku menelepon Papa dan mengatakan aku akan datang. Ia terdengar lega, tetapi aku bisa mendengar kehati-hatian dalam suaranya.
'Terima kasih sudah memberi kami kesempatan,' katanya.
'Aku datang untuk bicara, Pa. Aku tidak ingin kita berpura-pura semuanya baik-baik saja.'
'Papa mengerti. Kita akan bicara.'
Aku menutup telepon dan memberi tahu Ethan saat ia sedang membuat daftar pengiriman.
'Makan malamnya besok pukul tujuh,' kataku. 'Kau tidak perlu menunggu kalau tokonya sibuk.'
'Daren bisa menutup toko. Aku akan mengantarmu.'
'Kau yakin?'
'Ya. Aku sudah menawarkan.'
Aku mengangguk. 'Terima kasih. Tapi aku ingin menyelesaikan percakapanku sendiri.'
'Aku akan menunggu di mobil. Kau tidak perlu menjelaskan apa pun kepadaku kalau belum mau.'
Aku merasa lega. Aku tidak ingin Ethan menjadi pelindung atau penengah. Aku hanya ingin tahu bahwa ada seseorang yang bisa kuhubungi jika malam itu terlalu berat.
**
Sepanjang hari, aku mencoba menulis daftar hal yang ingin kusampaikan. Setiap kalimat terdengar seperti tuduhan. Aku menghapusnya dan mencoba lagi. Akhirnya aku menuliskan tiga hal sederhana: aku merasa tersisih, aku merindukan Papa, dan aku ingin didengar tanpa dibandingkan dengan Miranda.
Menjelang siang, aku membaca daftar itu kepada Ningning melalui telepon.
'Itu jelas dan tidak menyalahkan siapa pun,' katanya. 'Kau tidak harus mengucapkannya persis seperti itu. Tapi setidaknya kau tahu apa inti perasaanmu.'
'Aku takut Papa menjawab bahwa aku sudah dewasa dan harus menerima perubahan.'
'Kalau ia bilang begitu, kau bisa menjelaskan bahwa menerima perubahan tidak sama dengan berhenti merasa kehilangan.'
Aku menghela napas. 'Aku berharap Miranda mengerti. Tapi aku tidak tahu apakah dia akan meminta maaf atau malah marah.'
'Kau tidak bisa mengatur jawabannya. Kau hanya bisa jujur tentang bagianmu.'
Setelah telepon berakhir, aku menemukan Ethan di ruang makan. Ia sedang memperbaiki catatan resep yang kusut. Aku menunjukkan daftar kecil yang kubuat, tetapi tidak menjelaskan semua isinya.
'Kau sudah tahu apa yang ingin kaukatakan?' tanyanya.
'Sedikit. Aku tidak ingin membicarakan semua hal sekaligus.'
'Itu masuk akal.'
'Kau tidak akan memberiku saran tentang cara bicara dengan keluargaku?'
'Mereka keluargamu. Aku tidak tahu seluruh ceritanya. Aku bisa mendengarkan kalau kau ingin berlatih, tapi aku tidak akan menentukan kata-katamu.'
Aku tersenyum tipis. 'Aku ingin mencoba sendiri dulu.'
'Baik.'
Sore itu aku sempat mengirim pesan kepada Papa untuk memastikan jam makan malam. Ia membalas bahwa kami akan makan pukul tujuh dan tidak perlu membawa apa pun. Aku menatap pesan itu lama-lama, mencoba membaca apakah ia gugup atau hanya ingin semuanya terdengar biasa.
Aku bertanya kepada Ethan apakah ia masih bersedia mengantar. Ia sedang menutup buku resep ketika aku menyebutnya.
'Tentu,' katanya. 'Aku akan jemputmu setelah toko tutup.'
'Kalau kau berubah pikiran karena ramai, bilang saja. Aku bisa naik taksi.'
'Aku tidak berubah pikiran. Daren sudah mengatur jadwal.'
'Kau tak perlu menunggu di depan rumah. Aku bisa mengirim pesan kalau selesai.'
'Aku akan menunggu di mobil seperti yang kita bicarakan. Kau yang menentukan kapan pulang.'
Aku berterima kasih. Ia tidak mencoba memberiku saran tentang Papa dan Miranda, dan itu membuatku lebih tenang. Aku ingin datang sebagai anak yang ingin berbicara, bukan sebagai seseorang yang membawa pendamping untuk berdebat.
Aku membayangkan Papa membuka pintu dan menyambutku seperti dulu, sebelum rumah itu berubah. Lalu aku mengingat bahwa aku tidak bisa kembali ke masa itu. Yang bisa kulakukan hanya mencari tahu apakah kami mampu membuat cara baru untuk menjadi keluarga.
Aku memutuskan tidak akan membaca daftar saat makan malam kecuali benar-benar kehilangan kata-kata. Aku ingin bicara kepadanya, bukan menyampaikan pidato yang sudah kuhafalkan. Aku juga akan memberi Miranda kesempatan menjawab, sekalipun jawabannya tidak langsung sempurna.
Menjelang petang, aku menaruh daftar itu di meja samping ranjang. Aku merapikan buku dan menyiapkan tas untuk esok, lalu membaca kembali tiga kalimat tadi. Aku mengganti satu kata yang terdengar seperti tuntutan. Setelah itu kututup bukunya agar tidak terus mengubah hal yang sebenarnya sudah jelas.
Aku kembali ke kamar dan berlatih mengucapkan daftar itu pelan-pelan. Kata-katanya masih terasa berat, tetapi tidak lagi kabur. Aku bisa mengatakan bahwa aku merasa kehilangan tempat tanpa meminta Papa berhenti mencintai Miranda. Aku bisa meminta Papa mendengarkan tanpa menuduhnya tidak pernah peduli.
Aku kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam sambil berusaha memikirkan hal lain. Ethan bertanya apakah aku membutuhkan bantuan menyiapkan pakaian atau mencari kendaraan, tetapi aku bilang semuanya sudah beres.
'Kau terdengar tegang,' katanya.
'Aku sedang mencoba tidak memikirkan besok malam.'
'Kau bisa melakukan satu hal pada satu waktu. Sekarang makan. Besok perjalanan. Setelah itu, percakapannya.'
Aku tersenyum. 'Kau membuatnya terdengar seperti daftar persiapan toko.'
'Daftar membantu.'
'Tapi aku tidak bisa menandai kotak untuk perasaan orang lain.'
'Tidak. Kau hanya bisa menandai apa yang sudah kaukatakan dengan jujur.'
Aku mengingat ucapannya saat melanjutkan menyiapkan makanan. Aku tidak tahu apakah percakapan dengan Papa akan berjalan baik, tetapi aku bisa memastikan bahwa aku tidak menutupi perasaanku sendiri.
Aku berdiri di depan lemari cukup lama, lalu menyadari bahwa aku sedang mencari pakaian yang bisa membuatku merasa lebih berani. Tidak ada pakaian yang akan mengubah isi percakapan itu. Aku memilih baju yang nyaman dan menaruhnya di kursi.
Aku kembali membaca pesan Papa. Ia menyebutku 'Nak', seperti dulu. Sapaan itu menghangatkan sekaligus menyakitkan. Aku tidak ingin menganggap satu pesan sebagai bukti bahwa semuanya sudah berubah. Tapi aku juga tidak mau menolak setiap usaha mendekat hanya karena takut kecewa.
Besok malam aku akan datang, duduk, dan berbicara. Setelah itu, aku akan melihat bagaimana rasanya.
Sebelum tidur, aku memastikan pakaian yang tadi kupilih sudah tersiap di kursi untuk makan malam besok. Aku tidak ingin penampilanku menjadi alasan untuk menghindari percakapan. Ponselku bergetar dengan pesan Papa: 'Sampai besok, Nak. Papa senang kamu datang.' Aku membaca pesan itu, lalu membalas, 'Sampai besok, Pa.' Aku belum tahu bagaimana malam itu akan berakhir, tetapi kali ini aku akan datang dengan niat untuk bicara.