Pagi itu aku sedang menyiapkan kopi ketika ponsel berdering. Nama Papa muncul di layar. Sudah beberapa hari kami tidak berbicara, dan setiap kali melihat namanya, aku selalu teringat pertengkaran terakhir kami. Aku membiarkan dering kedua lewat sebelum akhirnya menjawab.
'Halo, Pa.'
'Shopia, apa kabar? Kamu sibuk?'
'Aku sedang di rumah. Ada apa?'
Papa menarik napas. 'Papa ingin mengajakmu makan malam. Miranda juga ingin bertemu. Sudah lama kita tidak duduk bersama.'
Aku menggenggam cangkir lebih erat. 'Kenapa sekarang?'
'Karena Papa merindukanmu. Dan mungkin kita perlu bicara tanpa berteriak atau pergi sebelum makan selesai.'
Aku menunduk. 'Aku tidak tahu apakah aku siap.'
'Papa tidak akan memaksamu. Tapi kalau kamu bersedia, datanglah malam lusa. Kita bisa makan di rumah.'
Aku tidak menjawab langsung. Ada banyak hal yang ingin kukatakan kepada Papa, tetapi selama ini aku selalu menundanya karena takut ia membela Miranda atau menganggapku berlebihan.
'Aku akan pikirkan,' kataku.
'Baik. Beri tahu Papa besok. Apa pun jawabanmu, Papa ingin kamu tahu bahwa rumah ini tetap rumahmu.'
Kalimat itu membuat dadaku sesak. Rumah itu memang pernah menjadi tempatku merasa aman. Setelah Miranda tinggal bersama kami, aku merasa harus meminta ruang untuk setiap kenangan dan kebiasaan yang dulu hanya milikku.
'Aku dengar, Pa,' jawabku pelan.
Setelah menutup telepon, aku masih berdiri di dapur. Ethan masuk membawa tas kerja. Ia melihat cangkirku yang belum tersentuh.
'Papa?' tanyanya.
Aku menoleh. 'Dia mengundangku makan malam keluarga. Miranda juga ada.'
'Kau mau pergi?'
'Aku belum tahu. Ada banyak hal yang ingin kukatakan, tapi aku takut semuanya berubah jadi pertengkaran.'
Ethan menaruh tasnya. 'Kalau kau ingin pergi, aku bisa mengantarmu dan menunggu di mobil. Kau tidak perlu pulang sendirian kalau malamnya terasa berat.'
Aku memandangnya. 'Kau mau menunggu selama makan malam?'
'Kalau itu membuatmu lebih nyaman. Aku tidak akan masuk atau ikut bicara.'
'Aku tidak mau kau merasa harus menjagaku.'
'Aku menawarkan. Keputusannya tetap milikmu.'
Aku mengangguk pelan. 'Terima kasih. Aku akan menjawab Papa besok.'
Ethan mengambil cangkir kopinya. 'Apa pun pilihanmu, kau tidak harus menyelesaikan semuanya dalam satu malam.'
Kalimat itu sederhana, tetapi membuat pikiranku sedikit lebih tenang. Aku tidak perlu memutuskan apakah hubungan kami akan pulih sepenuhnya. Aku hanya perlu memutuskan apakah aku mau datang dan mengatakan apa yang selama ini kupendam.
**
Siang harinya aku bertemu Ningning di kampus. Ia memperhatikan bahwa aku lebih diam dari biasanya.
'Ada apa?' tanyanya.
'Papa menelepon. Dia mengundangku makan malam di rumah. Miranda juga akan ada.'
'Kau ingin pergi?'
'Aku ingin bicara. Tapi aku takut Papa menganggapku menyalahkan Miranda untuk semuanya.'
Ningning menutup buku catatannya. 'Kau bisa membicarakan perasaanmu tanpa menuduh. Katakan apa yang kau alami dan apa yang kau butuhkan.'
'Aku tidak ingin membuat Papa memilih antara aku dan Miranda.'
'Mungkin kau tidak meminta itu. Kau hanya ingin Papa mendengarkanmu sebagai anaknya.'
Aku memikirkan kata-katanya. 'Ethan menawarkan mengantar dan menunggu di mobil.'
'Itu baik. Kau sudah bilang iya?'
'Belum. Aku akan menjawab Papa besok.'
Ningning mengangguk. 'Ambil waktu. Tapi kalau kau pergi, jangan pulang dengan semua kata-katamu masih tersimpan.'
Aku mengangguk. 'Aku ingin Papa tahu bahwa aku tidak membencinya. Aku cuma kecewa karena merasa harus bersaing mendapatkan perhatiannya.'
'Kau tidak perlu menyembunyikan rasa sayangmu supaya bisa bicara tentang kecewa,' kata Ningning. 'Keduanya bisa ada bersamaan.'
Aku menyimpan kalimat itu dalam pikiranku. Selama ini aku mengira jika mengakui sakit hati, berarti aku tidak menghargai Papa. Padahal aku bisa menyayanginya dan tetap meminta ia bertanggung jawab atas caranya memperlakukanku.
Aku mengaduk kopi yang mulai dingin. 'Aku bahkan tidak tahu bagaimana harus memulai. Selama ini setiap kali mencoba bicara, aku malah menjelaskan semua pertengkaran lama sekaligus. Akhirnya aku sendiri lupa apa yang ingin kusampaikan.'
'Pilih satu hal yang paling penting,' kata Ningning. 'Kau merasa tersisih. Itu bukan tuduhan. Itu pengalamanmu.'
'Bagaimana kalau Papa bilang itu tidak benar?'
'Kau bisa bilang bahwa ia mungkin tidak bermaksud begitu, tapi itulah yang kaurasakan. Niat dan dampak tidak selalu sama.'
Aku mengangguk. 'Aku juga takut kalau Miranda menganggapku masih belum menerima dia sebagai keluarga.'
'Kau tidak harus berpura-pura dekat. Kau bisa mulai dengan meminta ia menghormati kenanganmu tentang ibumu.'
Perkataan itu terasa pas. Aku tidak ingin Miranda menggantikan siapa pun. Aku hanya ingin ia tidak menghapus tempat yang sudah ada sebelum dirinya datang.
'Aku akan mencoba mengatakannya tanpa berteriak,' kataku.
'Dan kalau kau mulai kewalahan, tarik napas. Kau boleh berhenti sebentar, bukan pergi tanpa menjelaskan.'
Aku tersenyum tipis. 'Kedengarannya sederhana kalau kau yang mengatakannya.'
'Karena aku tidak sedang duduk di meja makan itu. Tapi aku percaya kau bisa menjalaninya.'
Aku berjanji akan mencoba. Sepanjang sore, aku memikirkan apa yang ingin kusampaikan. Aku tidak ingin membahas setiap pertengkaran lama. Aku hanya ingin Papa tahu bahwa sejak Miranda datang, aku merasa kehilangan tempat di rumah sendiri, dan bahwa diamnya Papa sering terasa seperti memilih pihak lain.
Setiba di apartemen, aku duduk di ruang makan dan memeriksa kembali daftar yang kutulis setelah berbicara dengan Ningning. Aku mengubah 'Papa selalu memilih Miranda' menjadi 'Aku merasa Papa lebih cepat membela Miranda daripada mendengarkan versiku.' Kalimat kedua terasa lebih jujur. Aku tidak tahu apa yang Papa pikirkan, tetapi aku tahu bagaimana sikapnya membuatku merasa.
Aku menambahkan satu hal lagi: aku ingin mereka bertanya tentang ibuku tanpa menganggapku sedang menyerang Miranda. Aku tidak ingin membandingkan kedua perempuan itu. Aku hanya ingin tetap bisa menyebut Ibu tanpa melihat ketegangan muncul di wajah orang lain.
Kertas itu kulipat dan kusimpan di tas. Besok, aku akan memberi Papa jawaban. Malam lusa, aku akan duduk di meja yang sama lagi. Kali ini aku tidak akan menunggu sampai marah untuk mengatakan bahwa aku terluka.
Malam itu Ethan tidak bertanya lagi. Sebelum masuk kamar, ia hanya berkata, 'Kalau kau memutuskan pergi, bilang saja kapan. Aku akan mengatur waktu di toko.'
Aku menjawab, 'Baik.' Untuk pertama kalinya, undangan itu terasa seperti kesempatan, bukan kewajiban.