Pagi berikutnya, aku bangun lebih awal dan menemukan Ethan sudah menyiapkan kopi di meja. Ia membaca pesan di ponselnya sambil berdiri dekat jendela. Memo dingin itu masih menempel di kulkas.
'Selamat pagi,' kataku.
'Pagi.'
Ia mengisi cangkirnya lalu mengambil jaket.
'Kau berangkat sekarang?' tanyaku.
'Ada kiriman lebih awal.'
'Baik.'
Aku hampir bertanya apakah ia akan pulang untuk makan malam, tetapi ia sudah membuka pintu. Ia tidak kasar. Justru sikapnya yang sopan dan datar membuat jarak di antara kami terasa disengaja.
Di kampus, aku mencoba fokus pada kuliah. Ningning mengirim pesan bahwa ia bisa menelepon saat istirahat. Aku keluar ke halaman dan menghubunginya.
'Kau sudah menemukan jawaban?' tanyanya.
'Aku menemukan sesuatu yang tidak ingin kuakui.'
'Tentang Ethan?'
Aku memandang mahasiswa lain yang berjalan melewati halaman. 'Aku terus memikirkan dia. Bukan cuma karena kami tinggal serumah atau karena dia membantu soal Daniel. Aku suka berada di dekatnya. Aku suka saat dia tertawa. Dan aku benci saat dia memasang memo itu seolah aku tidak penting baginya.'
Ningning menghela napas lega. 'Akhirnya kau mengatakannya.'
'Jangan terdengar terlalu puas. Aku belum tahu harus bagaimana. Daren juga menyukaiku. Aku tidak ingin menyakitinya.'
'Jujur kepadanya saat kau sudah siap. Jangan menjanjikan sesuatu yang tidak kau rasakan hanya karena dia baik.'
'Aku tahu. Aku juga tidak akan memakai Daren untuk membuat Ethan cemburu.'
'Bagus. Kau tidak perlu memutuskan semuanya hari ini. Tapi sekarang setidaknya kau tahu perasaanmu sendiri.'
**
Sore harinya, Jayden dan Ningning datang ke Cross & Co. untuk mengambil pesanan. Daren sedang di belakang, memeriksa daftar kompetisi. Aku membantu membungkus kotak dan mencoba bersikap biasa.
'Kau sudah bicara dengan Ningning?' tanya Jayden pelan.
Aku menatapnya. 'Bagaimana kau tahu?'
'Dia bilang kau akan menelepon. Aku tidak tahu isi percakapannya dan tidak akan bertanya. Aku cuma mau memastikan kau tidak mengubur perasaanmu lagi.'
Aku menurunkan pita dari kotak. 'Aku sudah mengaku pada diriku sendiri bahwa aku terus memikirkan Ethan. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, tapi setidaknya aku tidak akan bilang bahwa memo itu tidak berarti apa-apa.'
Ningning tersenyum. 'Itu sudah langkah besar.'
Daren keluar dari dapur membawa dua loyang. Aku menyapanya dan menawarkan bantuan. Ia menerimanya seperti biasa, tanpa menyinggung pengakuannya atau meminta jawaban.
Kami bekerja berdampingan selama beberapa menit, menyiapkan kotak dan menempelkan label. Daren bercanda tentang tulisan tanganku yang miring, lalu menawarkan spidol yang ujungnya lebih tebal. Aku berterima kasih, dan percakapan kami mengalir seperti biasanya. Tidak ada yang berubah dalam cara ia memperlakukanku.
Justru itu membuatku semakin menghormatinya. Ia memberi ruang tanpa membuatku merasa bersalah. Aku tahu nanti jawabanku mungkin menyakitinya, tetapi aku tidak boleh mengubahnya hanya untuk menunda rasa tidak nyaman itu.
Saat aku selesai mengikat pita, Daren berkata, 'Terima kasih sudah tetap datang hari ini.'
'Aku sudah bilang akan membantu.'
'Aku tahu. Aku hanya ingin bilang bahwa aku menghargainya.'
'Aku juga menghargai caramu memberiku waktu.'
Ia mengangguk dan kembali ke loyang. Aku ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi kata-kataku belum siap. Untuk saat ini, itu cukup. Aku merasa lega, tetapi juga makin sadar bahwa aku harus memberinya jawaban yang pantas setelah aku memahami perasaanku sepenuhnya.
Ethan datang dari ruang penyimpanan. Matanya bertemu denganku sebentar, lalu beralih ke kotak-kotak pesanan. Ia tidak melihat kami bicara dengan Ningning dan Jayden. Aku tidak tahu apakah ia masih marah atau hanya berusaha menjaga batas.
Di toko, Daren menyapaku dan bertanya apakah aku sudah memikirkan jawabannya. Aku mengatakan belum, dan ia mengangguk tanpa mengubah nada bicaranya. Sikapnya membuatku semakin yakin bahwa aku harus menjawabnya dengan hormat, bukan mengulur waktu demi menghindari rasa bersalah.
'Aku tidak ingin kau merasa harus memilih sekarang,' katanya. 'Aku hanya ingin tahu bahwa kau sedang mempertimbangkannya dengan jujur.'
'Aku sedang berusaha. Dan aku tidak akan menjadikanmu alasan untuk menguji Ethan.'
'Aku tahu,' jawabnya. 'Kau tidak pernah melakukan itu.'
Kami kembali bekerja. Daren tidak menanyakan apa yang kubicarakan dengan Ningning, dan aku tidak menawarkan cerita yang belum siap kubagikan. Menjelang tutup toko, ia mengingatkanku bahwa gladi berikutnya masih menunggu. Kami bisa menjadi rekan kerja tanpa menghapus percakapan kemarin.
Malamnya, aku kembali ke apartemen bersama Ethan. Ia menggantung jaket dan pergi ke dapur tanpa menyapaku lebih jauh. Aku berdiri di depan memo itu. Kalimatnya masih dingin, tapi kini aku tahu kenapa aku tidak ingin mencabutnya atau mengabaikannya: aku ingin Ethan sendiri yang menjelaskan kenapa ia merasa perlu menulisnya.
Sepanjang hari aku membayangkan percakapan itu berkali-kali. Aku mencoba menyusun kalimat yang tidak terdengar seperti tuduhan, tetapi juga tidak menyembunyikan apa yang kurasakan. Setiap versi terasa terlalu panjang atau terlalu hati-hati.
Aku akhirnya berkata, 'Ethan, aku tidak ingin kita terus berpura-pura tidak ada yang berubah.'
Ia berhenti di ambang dapur, tetapi belum berbalik. 'Aku juga tidak tahu harus mengatakan apa.'
'Kalau begitu, jangan katakan apa-apa dulu. Tapi jangan tutup pintu setiap kali aku mencoba bicara.'
Ia menoleh. Untuk pertama kalinya sejak gladi, ia menatapku tanpa menghindar.
'Aku akan mencoba,' katanya.
Aku mengangguk, mengingat kembali percakapan dengan Ningning dan Jayden yang tadi kupikirkan selama perjalanan pulang. Mengakui perasaanku kepada mereka tidak membuatku langsung tahu apa yang harus kulakukan. Namun, kini aku bisa membedakan mana yang kurasakan dan mana yang hanya kutakuti. Aku tidak ingin menerima Daren hanya karena ia baik, dan aku tidak ingin menuntut Ethan membalas perasaanku hanya karena aku mulai berharap.
Ethan masih di depan kulkas. Ia meratakan sudut memo yang mulai terangkat. Ia melihatku, lalu tangannya berhenti.
'Kita baik-baik saja?' tanyanya.
'Aku belum tahu. Tapi aku tidak ingin bertengkar.'
'Aku juga tidak.'
Aku melangkah ke kamar tanpa menambahkan apa-apa. Ada banyak hal yang belum selesai, tetapi setidaknya kami tidak menutup percakapan dengan membanting pintu.
Aku belum menjawab Daren dan belum tahu apakah Ethan akan membalas perasaanku. Namun, aku sudah berhenti berbohong pada diri sendiri. Hubunganku dengan Papa dan Miranda juga masih menyisakan luka. Aku tidak tahu kapan kami akan siap bicara lagi, tetapi jika kesempatan itu datang, aku ingin mencoba menyampaikan perasaanku tanpa kembali diam.