Aku pulang dari kafe menjelang malam. Ethan sedang duduk di meja makan dengan buku resep terbuka, tetapi halaman yang sama masih terlipat di sudutnya. Ia mengangkat wajah ketika aku masuk.
'Kau sudah makan?' tanyanya.
'Sudah. Aku bertemu Ningning dan Jayden.'
'Bagus.'
Aku menggantung tas dan berdiri dekat kulkas. Memo itu masih ada di sana.
'Kau akan membiarkannya tetap menempel?' tanyaku.
Ethan melihat memo yang kumaksud. 'Kalau kau ingin melepasnya, silakan.'
'Aku tidak bertanya apakah aku boleh melepasnya. Aku bertanya kenapa kau menulisnya.'
Ia menutup buku resep. 'Aku sudah menjelaskannya. Batas kita perlu jelas.'
'Batas itu selalu jelas. Kita sepakat tinggal bersama tiga bulan. Aku tidak pernah meminta lebih.'
'Kalau begitu, memo itu tidak seharusnya mengganggumu.'
'Memang menggangguku. Aku sudah mengatakannya lewat pesan. Sekarang aku bertanya kenapa kau merasa harus menempelkannya tepat setelah mendengar Daren menyatakan perasaan.'
Ia diam. Aku merasakan dorongan untuk mengisi hening, tetapi kali ini kutahan.
'Aku tidak ingin ikut campur dalam urusan kalian,' katanya akhirnya.
'Kau tidak ikut campur. Kau hanya berubah sikap padaku.'
'Aku punya pekerjaan.'
'Kau selalu punya pekerjaan. Biasanya kau tetap sempat bicara denganku.'
Ethan berdiri dan membawa bukunya ke rak. 'Aku lelah, Shopia. Kita bicarakan lain kali.'
Aku menatap punggungnya. 'Baik. Tapi jangan bilang semuanya baik-baik saja kalau kau jelas-jelas menghindariku.'
Ia berhenti di lorong, tetapi tidak menoleh. Beberapa detik kemudian ia masuk ke kamarnya dan menutup pintu.
**
Aku masuk ke kamar sendiri dan mencoba menulis. Naskah Emily terbuka di layar, tetapi kalimat-kalimatnya tidak mau bergerak. Aku menutup dokumen dan mengambil buku catatan kecil. Di sana ada beberapa ide dari dapur: tepung di rambut, tangan yang meminta izin, seseorang yang menawarkan roti tanpa menyebut itu perhatian.
Aku membaca catatan itu satu demi satu. Semua momen kecil tersebut terasa lebih penting daripada seharusnya. Aku bisa saja berkata bahwa aku hanya memanfaatkannya untuk menulis, tetapi itu bukan seluruh kebenaran. Aku menikmati saat Ethan tertawa. Aku menyukai cara ia berhenti sebelum menyentuhku. Aku bahkan merasa kehilangan ketika ia tidak lagi berbicara denganku seperti sebelumnya.
Ponselku berbunyi. Pesan dari Daren masuk: 'Aku tidak berharap kau segera menjawab. Aku cuma ingin memastikan kau tidak merasa harus menghindariku di toko. Kita tetap bisa bekerja seperti biasa.'
Aku membalas, 'Terima kasih sudah memberiku waktu. Aku tidak akan menghindarimu. Aku hanya perlu jujur pada diriku dulu.'
Daren menjawab dengan emoji jempol. Aku tersenyum kecil, lega karena ia tidak menambahkan tekanan.
Dari balik dinding terdengar Ethan membuka lemari lalu menutupnya. Aku berdiri dan hampir mengetuk pintunya. Tanganku terangkat, tetapi aku menurunkannya lagi. Aku tidak bisa memaksanya menjelaskan perasaannya sebelum ia siap. Namun, aku juga tidak bisa terus berpura-pura tidak punya perasaan sendiri.
Malam itu aku duduk di tepi ranjang dengan lampu utama mati, memikirkan pertanyaan Ningning. Kenapa memo Ethan membuatku sakit hati? Aku akhirnya tahu jawabannya, tetapi mengucapkannya terasa jauh lebih sulit daripada memikirkannya.
Dalam gelap kamar malam itu aku juga bertanya-tanya apakah Ethan sengaja menempelkan memo untuk membuatku mundur dari Daren, atau ia hanya mencoba menahan dirinya sendiri. Aku tidak punya hak untuk menyimpulkan isi pikirannya. Ia belum mengatakan bahwa ia cemburu, dan aku tidak akan memaksanya mengaku hanya karena aku ingin jawaban.
Namun, mengabaikan perasaanku sendiri juga tidak membuat apa pun lebih mudah. Setiap kali kubayangkan masa tiga bulan itu berakhir, aku merasa kehilangan sesuatu yang belum pernah benar-benar kumiliki. Aku tidak ingin mengikat Ethan dengan janji yang belum siap ia berikan. Tapi aku juga tidak ingin menyebut hubungan kami sekadar kesepakatan kalau hatiku sudah melangkah lebih jauh.
Aku membiarkan pertanyaan itu tinggal tanpa menyelesaikannya. Untuk sementara, percakapanku dengan Ningning di kafe tadi membantuku melihat apa yang selama ini kuhindari.
Aku menyalakan lampu meja di kamarku dan mencoba membuka naskah lagi. Aku menghapus beberapa kalimat yang membuat tokoh perempuanku terlalu cepat menyatakan perasaannya. Jika ia masih bingung, ia seharusnya terdengar bingung. Aku tidak perlu memberinya jawaban yang bahkan belum kupunya.
Ponselku bergetar. Ethan akhirnya membalas pesanku: 'Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman. Aku sedang mencoba menjaga semuanya tetap sederhana.' Aku membaca kalimat itu pelan-pelan. Ia tidak meminta maaf sepenuhnya, tetapi setidaknya ia menjawab.
Aku mengetik, 'Aku mengerti. Tapi memo membuatku merasa seperti orang asing di rumah ini.' Jempolku berhenti di atas tombol kirim. Aku menarik napas dan mengirimkannya sebelum sempat menghapus.
Balasannya datang beberapa menit kemudian: 'Aku akan memikirkannya. Kita bicara kalau aku bisa menjelaskannya dengan baik.' Aku tidak tahu kapan itu akan terjadi, tetapi aku menghargai bahwa ia tidak berpura-pura punya jawaban.
Aku memastikan ponselku tersambung ke pengisi daya dan meletakkan buku catatan di meja. Aku tidak akan mencari-cari makna dari setiap gerakan Ethan. Besok, kalau ia siap bicara, aku akan mendengarkan. Kalau belum, aku tetap bisa menjalani hariku tanpa membatalkan apa yang sudah kuakui pada diri sendiri.
Aku menutup laptop. Malam itu aku tidak menulis lagi. Aku membiarkan rasa kecewa, rasa nyaman, dan rasa takut tinggal berdampingan tanpa memaksa salah satunya menang.
Aku memeriksa pesan Ethan lagi sebelum menaruh ponsel di meja. Tidak ada tambahan. Aku ingin membalas bahwa kesederhanaan bukan berarti berpura-pura tidak ada perasaan, tetapi aku belum tahu apakah ia akan memahami maksudku. Aku tidak akan mengirim pesan panjang hanya untuk memaksanya memberi penjelasan malam itu.
Sebagai gantinya, aku menulis tiga hal di buku catatan: aku nyaman bersama Ethan; aku menghargai Daren; dan aku tidak boleh membuat keputusan untuk menenangkan orang lain. Ketiganya terasa benar sekaligus sulit. Aku belum punya cara untuk menjaga semua orang tetap senang, dan mungkin itu memang bukan tugasku.
Dari kamar sebelah terdengar langkah Ethan mendekati dapur, lalu kembali menjauh. Aku tidak keluar untuk mengejarnya. Aku sudah berkata jujur tentang memo itu, dan ia bilang akan memikirkan jawabannya. Kali ini aku akan menunggu percakapan langsung, bukan menebak-nebak dari bunyi pintu atau tulisan di kulkas.