Sejak gladi, suasana rumah terasa berbeda. Aku masih mengingat singkatnya percakapan kami malam sebelumnya. Memo Ethan masih menempel di kulkas. Aku tidak mencabutnya, meskipun setiap kali mengambil air mataku tertumbuk pada kalimat tentang batas. Pagi tadi Ethan berangkat lebih dahulu. Malam sebelumnya kami hanya sempat bertemu sebentar di lorong sebelum aku masuk kamar.
'Kau mau makan?' tanyanya.
'Aku sudah makan di kampus.'
'Baik.'
Aku ingin bertanya apakah ia akan terus menjawab dengan satu kata, tetapi ia sudah membuka pintu kamar. Aku menutup mulut dan menahan diri. Kalau ia memang membutuhkan ruang, aku tidak ingin mengejarnya hanya untuk meredakan rasa tidak nyamanku.
Di kampus, aku mencoba menyelesaikan tugas, tetapi pikiranku terus kembali ke percakapan di toko. Daren menyukaiku. Ethan mendengarnya. Aku belum memberi Daren jawaban dan belum memahami kenapa sikap Ethan membuatku lebih gelisah daripada pengakuan itu sendiri.
Ningning mengirim pesan menanyakan apakah aku bisa mampir ke kafe setelah kelas. Jayden juga akan datang. Aku menerima ajakan itu, berharap bicara dengan mereka bisa membantuku melihat situasi dengan lebih jernih.
**
Ningning sudah memesan minuman ketika aku tiba. Jayden duduk di sebelahnya dan menyingkirkan kursi untukku.
'Kau kelihatan seperti sedang menulis daftar pro dan kontra,' kata Ningning.
'Aku sedang mencoba memahami sesuatu.'
'Tentang Daren?' tanya Jayden.
Aku mengaduk minuman. 'Dia bilang menyukaiku. Aku minta waktu. Itu seharusnya mudah, tapi Ethan mendengarnya dan sekarang dia memasang memo dingin di kulkas.'
Sebelum menjawab, aku menceritakan bagaimana Daren menyatakan perasaannya dan bagaimana aku meminta waktu. Aku berusaha menyampaikan semuanya dengan adil, tanpa menjadikan pengakuannya sebagai kesalahan atau Ethan sebagai penjahat.
'Daren tidak menuntut jawaban,' kataku. 'Dia malah bilang apa pun yang kupilih, dia ingin tetap bekerja sama. Itu membuatku makin merasa harus berhati-hati.'
'Kau bisa menghargai dia tanpa menerima perasaannya,' kata Jayden. 'Kebaikan bukan utang.'
'Aku tahu, tapi aku tidak ingin kehilangan pertemanan kami.'
Ningning meraih cangkirnya. 'Kalau persahabatan kalian kuat, kejujuran tidak seharusnya menghancurkannya. Mungkin ada rasa canggung, tapi itu berbeda dari kehilangan.'
Aku mengaduk minuman yang mulai dingin. 'Aku takut memberikan jawaban yang salah.'
'Tidak ada jawaban sempurna,' kata Jayden. 'Yang ada jawaban jujur dan jawaban yang kau pilih karena takut membuat orang kecewa.'
Ningning mengerutkan kening. 'Memo apa?'
Aku mengulang kalimatnya. Jayden bersiul pelan.
'Itu terdengar seperti Ethan sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa kalian cuma berbagi tempat tinggal,' katanya.
'Mungkin memang begitu. Kami punya kesepakatan tiga bulan.'
'Itu menjelaskan kenapa kalian tinggal bersama. Bukan berarti perasaanmu harus berhenti di sana,' ujar Ningning.
Aku menggeleng. 'Aku tidak tahu apa yang kurasakan. Daren baik. Kami mudah bicara, dan aku senang bekerja dengannya. Aku seharusnya bisa memberi jawaban yang jelas.'
'Kau bisa bilang belum tahu,' kata Jayden. 'Yang penting jangan membuat dirimu memilih karena orang lain menunggu.'
Aku memandangi cangkir. 'Aku juga tidak mau menggunakan Daren untuk membuat Ethan bereaksi. Aku tidak pernah berniat begitu.'
'Kami tahu,' kata Ningning. 'Tapi kau perlu jujur pada dirimu sendiri tentang kenapa memo Ethan membuatmu sakit hati.'
Aku terdiam. Mungkin karena memo itu mengingatkanku bahwa kesepakatan kami tidak selamanya. Mungkin karena aku baru saja sadar aku ingin lebih dari sekadar tinggal bersama. Atau mungkin aku hanya tidak suka Ethan menjauh setelah aku mulai merasa nyaman dengannya.
'Aku akan memikirkannya,' kataku.
Jayden mengangkat bahu. 'Jangan pikirkan sampai semua pilihan terlihat aman. Kadang kau baru tahu apa yang kauinginkan setelah berani menyebutkannya.'
Ningning meraih tanganku sebentar. 'Kau tidak harus menjawab malam ini. Tapi jangan berbohong pada dirimu sendiri supaya tidak ada yang terluka. Itu biasanya membuat semua orang lebih terluka nanti.'
Aku mengangguk. Mereka tidak mendesakku memilih Daren atau Ethan. Mereka hanya meminta agar aku berhenti berpura-pura bahwa memo itu tidak memengaruhiku.
Kami masih duduk cukup lama setelah minuman kami habis. Ningning bercerita tentang rencananya akhir pekan, sementara Jayden mengeluh bahwa ia terlalu sering diminta mencoba rasa baru di toko. Aku ikut tertawa, dan untuk beberapa menit pikiranku berhenti berputar.
'Aku tidak ingin kehilangan persahabatanku dengan Daren,' kataku saat percakapan kembali ke topik tadi. 'Dia sudah menjadi bagian penting dari hidupku, meskipun aku belum tahu apakah perasaanku sama.'
'Kau bisa menghargai persahabatan itu dengan berkata jujur,' jawab Ningning. 'Menyimpan jawaban karena takut mengubah keadaan justru bisa membuatnya menunggu dengan harapan yang salah.'
'Aku juga tidak ingin membuat Ethan cemburu. Itu bukan alasan aku meminta waktu kepada Daren.'
Jayden mengangguk. 'Bagus. Jangan menjadikan satu orang alat untuk menguji orang lain. Kalau kau suka Ethan, akui pada dirimu sendiri dulu. Kau tidak harus langsung mengatakan kepadanya.'
Aku memutar cangkir kosong. 'Aku bahkan belum tahu apakah dia merasakan hal yang sama.'
'Itu urusan berikutnya,' kata Ningning. 'Perasaanmu sendiri bisa kauketahui tanpa menunggu pengakuan dari dia.'
Ningning meraih tasnya dan berdiri. 'Kalau kau ingin tetap menjadi teman Daren, jangan membuat dirimu menjawab dengan terburu-buru hanya karena takut ia akan berubah pikiran.'
'Aku akan bicara dengannya setelah aku lebih paham perasaanku sendiri.'
Jayden mengangkat cangkir kosong. 'Dan kalau Ethan terus menempelkan memo, kau boleh bilang langsung bahwa itu menyakitkan. Jangan berharap dia membaca pikiranmu.'
'Aku sudah mencoba bicara. Dia bilang akan memikirkannya.'
'Kalau begitu, beri dia kesempatan. Tapi kesempatan juga perlu diikuti tindakan,' kata Ningning. 'Kalian berdua harus mau berbicara, bukan hanya meninggalkan catatan di kulkas.'
Aku mengangguk. Aku tahu mereka benar. Di perjalanan pulang, aku tidak lagi berusaha merancang jawaban yang akan menyenangkan semua orang. Aku hanya perlu bersikap jujur dan memberi Ethan kesempatan untuk melakukan hal yang sama. Aku menyimpan ponsel di tas dan berjanji tidak akan mengirim pesan tambahan malam itu.
Mereka tidak memaksaku membuat keputusan malam itu. Saat kami akhirnya berpisah, aku membawa pulang pertanyaan yang sama, tetapi kali ini aku tidak lagi menganggapnya sesuatu yang bisa kuabaikan begitu saja.