Malam itu, setelah pulang sendiri dari toko, aku keluar kamar untuk mengambil air. Ethan telah selesai memeriksa pesanannya di ruang kerja. Aku mendengar kursi bergeser, lalu ia muncul di lorong. Aku sempat ingin menanyakan ucapannya kepada Daren tadi, tetapi ia melewatiku dan langsung menuju dapur. Ia mengambil selembar kertas, menulis sesuatu, lalu menempelkannya di kulkas.
Aku mendekat. Memo itu berbunyi: 'Harap ingat bahwa kita tinggal bersama karena kesepakatan tiga bulan. Jaga batas masing-masing.' Tulisan tangannya rapi, tetapi kata-katanya terasa seperti pintu yang ditutup.
'Ini karena percakapanmu dengan Daren?' tanyaku.
Ethan meraih gelas dari lemari. 'Ini pengingat tentang kesepakatan kita.'
'Kita tidak pernah punya aturan tentang siapa yang boleh kusukai.'
'Aku tidak mengatakan kau tidak boleh menyukai siapa pun.'
'Tapi kau menempel memo seolah aku melanggar sesuatu.'
Ia menuang air dan tidak menatapku. 'Aku hanya ingin semuanya jelas.'
'Jelas untuk siapa?' tanyaku. 'Aku tidak pernah mengatakan ingin mengubah kesepakatan kita.'
'Aku tahu.'
'Kau dengar aku meminta waktu kepada Daren. Aku tidak menerimanya, tidak menolaknya, dan tidak membuat janji apa pun.'
'Kau tidak perlu menjelaskan kepadaku.'
'Kalau begitu, jangan membuat memo seolah aku perlu diingatkan bahwa aku tinggal di sini atas izinmu.'
Rahangnya mengeras. 'Aku tidak bermaksud membuatmu merasa seperti itu.'
'Tapi itulah yang kurasakan saat membacanya.'
Ethan mengusap tengkuknya, lalu memalingkan wajah. 'Aku akan memikirkannya.'
'Aku juga.'
Ia mengangkat gelasnya dan berjalan ke arah lorong, tetapi aku memanggil namanya sebelum ia masuk kamar. Aku tetap berdiri di depan kulkas. Ia berhenti dan kembali menatapku. Aku tidak tahu apakah ia sedang mencoba menjaga jarak dariku atau justru menjaga dirinya sendiri.
'Apa yang perlu dijelaskan? Aku meminta waktu untuk menjawab Daren. Itu urusan antara kami.'
'Benar.'
'Lalu kenapa kau menghindariku?'
Ethan meletakkan gelas. 'Aku tidak menghindarimu. Aku lelah. Besok tokonya buka pagi.'
Ia berjalan ke kamarnya sebelum aku sempat membalas. Aku berdiri di depan memo itu. Kertasnya putih bersih, tetapi kalimatnya membawa kembali jarak yang sempat terasa mengecil di antara kami.
**
Keesokan paginya, Ethan sudah pergi sebelum aku bangun. Di meja ada roti untuk sarapan, tetapi tidak ada catatan atau pesan. Aku mencoba tidak menafsirkan ketiadaan memo tambahan sebagai bentuk perhatian. Mungkin ia memang sedang sibuk. Mungkin aku terlalu peka setelah melihat ekspresinya di toko.
Di Cross & Co., Daren bersikap sama seperti biasa. Ia bertanya apakah aku sudah sarapan dan memperlihatkan catatan gladi yang kami buat kemarin. Ethan berbicara denganku hanya tentang perlengkapan dan waktu pengiriman.
'Kau bisa bantu memeriksa daftar kotak?' tanyanya, tanpa melihat wajahku.
'Bisa.'
'Pastikan ukurannya cocok dengan loyang sampel.'
'Baik.'
Percakapan itu begitu singkat hingga aku merasa sedang berbicara dengan pemilik toko, bukan dengan orang yang tinggal serumah denganku. Setelah selesai, aku mendapati Ethan sudah kembali ke ruang belakang.
Aku menaruh daftar perlengkapan di atas meja dan mengurutkan kotak berdasarkan ukuran. Toko ramai, tetapi Daren tetap menyempatkan diri memeriksa apakah aku punya waktu untuk makan. Aku bilang sudah, meskipun sebenarnya hanya sempat membeli roti kecil di kampus.
'Kau tidak harus berpura-pura semuanya biasa saja,' katanya. 'Aku tahu pengakuanku membuatmu berpikir. Tapi aku tidak ingin kau merasa harus menjaga suasana hatiku.'
'Aku tidak tahu harus bagaimana bersikap saat kau ada di dekatku sekarang. Aku takut setiap jawaban atau senyumku akan terlihat seperti tanda bahwa aku sudah memilih.'
'Kau tetap bisa menjadi teman dan partner kerja. Aku tidak akan menafsirkan setiap hal kecil sebagai jawaban.'
'Terima kasih. Aku akan mencoba melakukan hal yang sama. Aku juga tidak ingin melihatmu hanya sebagai pilihan yang harus kuputuskan sebelum tenggat tertentu.'
Daren mengangguk. 'Kita bisa membicarakannya setelah kompetisi, kalau kau memang masih perlu waktu. Sekarang fokus saja pada gladi.'
Aku merasa lega mendengarnya. 'Aku akan datang membantu.'
'Aku tahu. Itu sebabnya aku mempercayakan catatan ini kepadamu.'
Ia menunjukkan daftar ukuran kotak. Kami memeriksa satu per satu, lalu mengukur sampel kue agar tak ada yang terguncang selama perjalanan. Pekerjaan sederhana itu membuat percakapan kami terasa lebih ringan.
Daren menghampiriku saat aku menyusun daftar. 'Aku minta maaf kalau pengakuanku membuat keadaan jadi rumit.'
'Kau tidak perlu minta maaf. Aku memang meminta waktu, dan kau sudah menghormatinya.'
'Ethan kelihatannya berubah sejak kemarin.'
'Dia mendengar percakapan kita.'
'Aku tidak bermaksud membuatnya cemburu atau apa pun. Aku hanya ingin jujur kepadamu.'
'Aku tahu. Jangan mengubah sikapmu hanya karena dia memasang memo.'
Daren menatapku dengan lembut. 'Kau juga tidak perlu mengambil keputusan demi menjaga perasaanku. Aku akan baik-baik saja, apa pun jawabanmu.'
Aku ingin mempercayainya. 'Aku akan mencoba menjawab dengan jujur, bukan karena merasa berutang.'
Sebelum pulang, aku melewati dapur belakang. Ethan sedang membaca daftar, tetapi saat melihatku ia mengangkat kertas seperti mencari alasan untuk tidak bicara.
'Kau pergi sekarang?' tanyanya.
'Ya. Ada kelas sore.'
'Baik.'
Aku menunggu apakah ia akan mengatakan sesuatu lagi. Ia kembali melihat daftar. Aku akhirnya pergi dengan perasaan berat, bertanya-tanya kenapa satu pengakuan Daren membuat Ethan mendadak menegaskan batas yang sudah lama kami sepakati.
Di perjalanan ke kampus, aku mencoba mengingat kapan Ethan dan aku mulai berbicara lebih mudah. Mungkin sejak ia menungguku pulang, atau sejak kami mencicipi kue bersama. Setiap kali menemukan satu jawaban, muncul kemungkinan lain yang sama masuk akal. Aku tidak ingin mengarang cerita di kepalaku lalu kecewa karena Ethan tidak mengikuti jalan yang kubayangkan.
Aku menulis pesan pendek kepadanya: 'Memo itu membuatku tidak nyaman. Kalau kau memang ingin membicarakan batas kita, kita bisa bicara langsung.' Pesan itu terkirim, tetapi tidak segera dibalas. Aku meletakkan ponsel dan memusatkan perhatian pada kelas. Ia berhak memerlukan waktu, pikirku, meski aku berharap ia mau menjawab sebelum hari berakhir.
Saat kelas selesai, layar ponselku masih kosong. Aku menyimpan pesan itu dan memutuskan tidak akan mengirim pesan lain. Aku sudah mengatakan apa yang kurasakan; sekarang aku harus memberinya ruang untuk merespons.