Cross & Co. dipenuhi kotak, loyang, dan catatan resep sejak pagi. Daren memimpin gladi kompetisi dengan teliti, sementara Ethan memeriksa waktu panggang dan memastikan setiap sampel diberi label. Aku membantu menata meja, membacakan nama variasi, lalu mencatat komentar mereka.
'Kita ulang dari urutan penyajian,' kata Daren. 'Shopia, kau berdiri di sisi kiri dan pura-pura menjadi juri. Ethan akan menyajikan sampel, lalu aku menjelaskan idenya.'
'Aku harus pura-pura tidak tahu resepnya?'
'Kalau bisa. Anggap kau juri yang baru pertama kali melihatnya.'
'Baik. Tapi aku tidak akan memberi nilai tinggi hanya karena kalian teman-temanku.'
Ethan mengangkat alis. 'Tidak ada yang meminta itu.'
'Bagus. Aku ingin tetap diundang makan kue setelah kompetisi.'
Daren tertawa. 'Kalau kau memberi kritik jujur, kami justru akan lebih percaya padamu.'
Sebelum latihan dimulai, Daren membagikan salinan urutan acara. Ia menjelaskan bahwa mereka hanya akan memiliki waktu singkat untuk menyajikan kue dan memaparkan gagasan. Ethan membaca lembar itu dari atas ke bawah, lalu menandai bagian yang perlu disiapkan lebih dulu.
'Apa yang paling membuat kalian khawatir?' tanyaku.
'Waktu,' jawab Ethan. 'Kalau ada jeda terlalu lama, kuenya akan kehilangan suhu yang kami inginkan.'
'Aku lebih khawatir kami bicara terlalu teknis,' kata Daren. 'Juri perlu memahami alasan kami, tapi mereka juga perlu menikmati rasanya.'
'Kalian bisa berlatih menjelaskan tanpa memakai istilah yang tidak dibutuhkan,' saranku. 'Anggap kalian sedang menjawab pelanggan yang baru pertama kali datang.'
Ethan mengangkat satu sampel. 'Kalau pelanggan bertanya kenapa kami memakai jeruk?'
'Jawab bahwa rasa segarnya menyeimbangkan mentega. Jangan mulai dari jumlah gram.'
Daren mencatat itu. 'Baik. Aku akan menjelaskan rasa dan pengalaman pembeli, Ethan menjelaskan proses panggang.'
'Jangan membagi jawaban terlalu kaku,' kataku. 'Kalau salah satu dari kalian ingin menambahkan sesuatu, lakukan saja. Kalian partner.'
Ethan melirik Daren. 'Kita bisa mencoba tanpa pembagian kalimat.'
'Itu tujuan gladi,' jawab Daren. 'Kalau kacau, kita ulang.'
Kami mulai simulasi. Ethan mengangkat piring sampel, menjelaskan rasa mentega dan jeruk dengan kalimat singkat. Daren menerangkan kenapa ukuran kue dibuat praktis untuk dibawa. Aku mencicipi sedikit dan mengajukan pertanyaan tentang tekstur setelah dingin.
'Kalau juri meminta kami memilih antara rasa dan bentuk, kami akan menjelaskan bahwa keduanya seimbang,' kata Ethan.
'Jangan menghafal jawaban seperti robot,' kataku. 'Kalian yang membuatnya. Ceritakan apa yang kalian pikirkan saat merancang resep.'
Daren menatap Ethan. 'Itu lebih baik. Aku bisa menjelaskan prosesnya tanpa terdengar seperti sedang membaca brosur.'
Ethan menutup buku catatan. 'Kita ulang lagi. Kali ini tanpa catatan di tangan.'
Latihan berikutnya berjalan lebih lancar. Daren berbicara dengan percaya diri, sedangkan Ethan tampak lebih santai setelah menyadari ia tidak perlu menjawab semua hal dengan angka. Aku memberi beberapa saran tentang urutan penjelasan. Menjelang sore, mereka sudah bisa memperkenalkan kue dengan cara yang terdengar alami.
'Kita cukup untuk hari ini,' ujar Daren. 'Shopia, terima kasih sudah membantu. Kalau kau tidak keberatan, aku ingin bicara sebentar di dapur setelah Ethan memeriksa daftar perlengkapan.'
Aku mengangguk. 'Tentu. Ada sesuatu yang perlu kita bahas?'
'Ada. Tapi bukan soal kompetisi.'
Ethan mengambil daftar dan berjalan ke ruang penyimpanan di belakang. Daren menunggu sampai langkahnya menjauh, lalu menunjuk kursi dekat meja dapur.
**
Aku duduk, tetapi Daren tetap berdiri. Ia tampak lebih gugup daripada saat menjelaskan resep kepada juri khayal.
'Kau bilang ini bukan soal kompetisi,' kataku. 'Apa semuanya baik-baik saja?'
'Baik. Aku cuma tidak mau terus menunda. Selama ini aku mencoba dekat denganmu karena kita cocok sebagai teman, dan awalnya aku mengira perasaanku hanya bagian dari kesenangan bekerja bersama. Tapi ternyata lebih dari itu.'
Aku terdiam. Daren tidak pernah memaksaku menjawab cepat, tetapi pengakuannya membuatku sadar bahwa ia sudah lama menyimpan sesuatu.
'Aku menyukaimu, Shopia,' lanjutnya. 'Aku tahu kau mungkin perlu waktu, dan aku tidak ingin membuatmu merasa harus membalas. Aku hanya ingin jujur.'
'Daren, terima kasih sudah mengatakannya dengan baik. Aku tidak ingin menjawab asal-asalan. Kau penting bagiku, dan aku menghargai persahabatan kita. Tapi aku perlu waktu untuk memahami apa yang kurasakan.'
'Tentu. Aku tidak meminta jawaban malam ini.'
'Aku tidak mau membuatmu menunggu tanpa batas. Aku akan memikirkan ini dengan sungguh-sungguh.'
'Itu sudah cukup. Apa pun jawabanmu nanti, aku ingin kita tetap bisa bekerja bersama.'
Aku menarik napas lega. 'Aku juga menginginkan itu.'
Dari arah ruang penyimpanan terdengar bunyi benda diletakkan di atas rak. Aku mengira Ethan masih sibuk dengan perlengkapan. Daren mengambil celemeknya dan bertanya apakah aku mau pulang bersama. Aku bilang akan menunggu sebentar untuk mengirim pesan kepada Emily tentang jadwal revisi.
Saat aku melangkah ke lorong, Ethan muncul dari pintu samping yang mengarah ke ruang kerja. Ia membawa buku perlengkapan di tangan. Wajahnya datar, tetapi matanya sempat bertemu dengan mataku.
'Kau sudah selesai?' tanyanya.
'Ya. Daren baru saja selesai menjelaskan sesuatu.'
'Aku dengar.'
Kalimat itu membuat langkahku tertahan. 'Apa?'
Ethan menutup buku. 'Tidak apa-apa. Aku hanya perlu mengembalikan ini ke kantor.'
Ia melewati kami tanpa menunggu jawaban. Daren melihat ke arah pintu yang tertutup, lalu kembali menatapku.
'Dia mendengar?' tanyanya pelan.
'Sepertinya.'
'Aku tidak ingin membuat masalah di antara kalian.'
'Kau tidak melakukan kesalahan. Aku yang harus jujur pada diriku sendiri.'
Daren mengangguk. Ia tidak bertanya siapa yang sedang kupikirkan. Aku juga belum punya jawaban yang siap kuucapkan.
Aku pulang sendiri beberapa menit kemudian. Di ruang depan, Ethan sedang menutup kotak catatan pesanan yang ia bawa pulang untuk diperiksa. Ia menoleh, lalu merapikan tutup kotak tanpa bertanya tentang percakapan kami. Aku ingin menjelaskan bahwa Daren tidak memaksaku, tetapi aku juga merasa bukan hakku untuk menjadikan pengakuannya bahan pembicaraan.
'Kau pulang duluan?' tanyaku.
'Aku harus memeriksa pesanan besok.'
'Baik.'
Ia mengangguk singkat. Aku melihatnya masuk ke ruang kerja. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan, tetapi malam itu aku memilih membiarkan semuanya diam sampai aku tahu apa yang sebenarnya ingin kukatakan.