Pagi setelah hujan, aku menemukan payung Ethan sudah kering dan terlipat rapi dekat pintu. Ia menempelkan catatan kecil di gagangnya: 'Jangan lupa bawa kalau langit mendung.' Aku mengangkatnya dan membaca tulisan itu.
'Kau akhirnya menempel memo tentang payung,' kataku saat ia keluar dari kamar.
'Itu bukan memo. Itu pengingat.'
'Perbedaannya apa?'
'Memo berisi aturan. Pengingat hanya membantu.'
'Kau baru saja menciptakan kategori baru untuk catatan di rumah ini.'
'Kau keberatan?'
'Tidak. Aku hanya akan menambahkan satu: jangan lupa membawanya kembali ke tempat semula.'
Ethan mengambil payung dari tanganku dan meletakkannya lagi dekat rak. 'Sudah.'
Aku tersenyum. Kami masing-masing bersiap untuk menjalani hari. Aku ada kelas dan beberapa halaman naskah untuk direvisi; ia harus membuka toko. Sebelum berangkat, ia bertanya apakah Selena sudah menghubungiku lagi.
'Belum. Ia bilang akan memberi kabar kalau ada perkembangan. Aku tidak akan mengejarnya.'
'Bagus.'
'Aku akan mulai menghitung berapa kali kau mengatakan itu.'
'Silakan.'
**
Sore harinya, aku kembali ke apartemen lebih dulu. Aku meletakkan tas di kamar dan membuka laptop di meja makan. Adegan yang kukirim kepada Emily terasa lebih mudah dikerjakan setelah beberapa hari di dapur. Aku menulis dialog pendek antara dua tokoh yang mulai mempercayai satu sama lain, lalu menghapus bagian yang terasa terlalu cepat.
Ketika Ethan pulang dari toko, ia membawa kantong kertas berisi roti sisa produksi. Ia meletakkannya di meja.
'Daren bilang kau lupa makan siang lagi,' katanya.
'Aku makan biskuit di kampus.'
'Itu bukan makan siang.'
'Kau dan Daren membicarakan jadwal makanku?'
'Dia hanya bertanya kenapa kau terlihat pucat saat mampir ke toko.'
'Aku tidak pucat. Aku sedang fokus.'
'Makanlah dulu, lalu fokus lagi.'
Aku menutup laptop dan mengambil sepotong roti. 'Baik, tapi aku tidak mau kau menempel memo tentang jam makan.'
'Aku tidak pernah berniat melakukannya.'
'Kau bisa saja berpikir begitu.'
'Aku sedang belajar bertanya sebelum membuat aturan.'
Aku menatapnya. 'Itu terdengar seperti kemajuan.'
'Kau juga sedang belajar menerima bantuan tanpa menganggapnya sebagai perintah.'
Aku berhenti mengunyah. 'Mungkin. Tapi aku masih ingin bisa menentukan sendiri kapan harus meminta bantuan.'
'Dan kau bisa.'
Jawabannya sederhana. Tidak ada sindiran atau tambahan aturan. Aku merasa lebih ringan, seolah ia benar-benar mendengar apa yang kukatakan ketika kami berjalan di bawah payung.
Setelah makan, Ethan duduk di seberang meja sambil membaca beberapa catatan resep. Aku kembali ke laptop, tetapi kali ini tidak merasa canggung saat kami bekerja dalam diam. Sesekali ia bertanya apakah aku butuh lampu meja, dan aku bertanya tentang takaran kue. Percakapan kecil itu membuat ruang makan terasa lebih seperti tempat bersama, bukan wilayah yang harus kami bagi dengan garis-garis tak terlihat.
'Kau sudah nyaman tinggal di sini?' tanyanya tiba-tiba.
Aku melihatnya dari balik layar. 'Lebih nyaman daripada saat pertama kali pindah.'
'Karena furniturnya lengkap?'
'Karena aku mulai tahu kapan harus bertanya, dan kapan kau akan membuat roti tanpa menjadikannya peraturan rumah.'
'Aku tidak pernah membuat roti menjadi peraturan.'
'Belum.'
Ia menggeleng, tetapi tersenyum. 'Kalau ada yang mengganggumu, bilang saja. Aku tidak selalu sadar kalau kebiasaanku membuat orang lain merasa dibatasi.'
'Aku akan bilang. Tapi kau juga harus bilang kalau aku melakukan hal yang membuatmu tidak nyaman.'
'Sepakat.'
Kami kembali bekerja. Aku menyelesaikan satu halaman dan membacanya ulang. Ethan menutup buku resepnya.
'Aku tidak akan bertanya apa yang kau tulis,' katanya. 'Tapi kalau kau butuh pembaca, tawarkan saja.'
'Kau benar-benar mau membaca naskahku?'
'Kalau kau mengizinkan.'
'Nanti. Aku belum siap menunjukkan semuanya.'
'Tidak apa-apa.'
Di luar jendela, langit kembali mendung. Aku melirik payung di dekat rak, lalu melihat Ethan yang sudah kembali membuka buku resepnya. Tanpa sadar aku berpikir bahwa aku menyukai rutinitas ini: ia pulang dari toko, aku menulis, dan kami berbagi meja tanpa harus berpura-pura tidak saling memperhatikan.
Aku belum tahu apa artinya. Yang kutahu, kini aku tidak lagi ingin buru-buru meninggalkan ruangan saat ia masuk. Saat aku hendak menyimpan laptop, ponselku berbunyi. Pesan dari Daren muncul: 'Besok gladi kompetisi dimulai lebih awal. Bisa bantu kami di dapur? Ada satu hal yang ingin kubicarakan setelah semua selesai.'
Aku menatap pesan itu sejenak sebelum membalas, 'Aku datang. Kita bicara setelah gladi.'
Balasan Daren muncul hampir seketika: 'Terima kasih. Aku tidak ingin mengganggu persiapan, tapi ada sesuatu yang sudah lama ingin kusampaikan.'
Aku membaca pesannya sekali lagi. Ethan mengambil celemek tambahan dari rak dan melipatnya rapi.
'Sepertinya gladi besok akan lebih panjang dari yang kukira,' kataku.
'Kalau kau tidak nyaman, kau tidak harus tinggal setelah selesai.'
'Aku sudah bilang akan bicara dengannya. Aku akan mendengar dulu.'
Ethan mengangguk. 'Baik. Besok kita fokus pada gladi, lalu kau yang menentukan sisanya.'
Ethan menunjuk celemek yang sudah dilipatnya. 'Kau bisa memakai yang ini besok.'
'Terima kasih. Aku akan membawanya besok dan mengembalikannya setelah selesai.'
'Aku dengar,' katanya. Ia menyisihkan celemek itu di dekat tas bahan. Aku menangkap perubahan kecil di wajahnya sebelum ia berdiri, tetapi ia tidak menanyakan isi pembicaraan Daren.
Aku menyimpan laptop dan membantunya membereskan meja. Ia mengumpulkan catatan resep, sementara aku menumpuk buku kuliahku di sisi lain. Tidak ada yang meminta bantuan, tetapi kami bergerak tanpa saling menghalangi.
'Kau tahu, rumah ini terasa lebih mudah ditinggali sekarang,' kataku.
Ethan berhenti merapikan kertas. 'Karena kita sudah terbiasa?'
'Mungkin. Atau karena kita mulai bertanya sebelum menyimpulkan sesuatu.'
'Aku masih kadang menyimpulkan terlalu cepat.'
'Aku juga. Aku pernah yakin kau memasang memo hanya untuk menggangguku.'
'Aku memasangnya karena aku suka aturan.' Ia menatap memo lama di kulkas. 'Tapi aku tahu aturan itu kadang membuatmu merasa seperti tamu.'
'Aku tidak merasa begitu sekarang.'
Ia tidak langsung menjawab. Lalu ia merapikan kursi dan berkata, 'Bagus. Aku ingin kau merasa bisa tinggal di sini selama kesepakatan kita berjalan.'
Aku menyadari ia berhati-hati menyebut kesepakatan tiga bulan itu. Aku belum siap membicarakan apa yang terjadi setelahnya, dan ia juga tidak mendesak. Untuk malam ini, cukup bagiku mengetahui bahwa kami dapat berbagi meja, payung, dan percakapan tanpa saling memaksa.
Sebelum meja kosong, aku menyadari buku catatanku tercampur dengan lembar resep. Aku menariknya terlalu cepat dan selembar kertas jatuh. Ethan menahan kursi, membungkuk, lalu menyerahkan halaman itu tanpa membaliknya.
'Terima kasih. Itu catatan adegan yang belum kupakai.'
'Masukkan ke bukumu. Besok meja ini mungkin penuh bahan lagi.'
Aku menyelipkannya di antara buku kuliah, kemudian memeriksa tas agar tidak ada halaman lain tertinggal. Ethan membawa catatan takaran ke dapur. Untuk sesaat meja itu benar-benar kosong. Esok aku akan kembali membantu gladi dan mendengarkan Daren; malam ini aku masih punya tugas yang harus kuselesaikan sendiri sebelum tidur.