Hujan masih turun saat kelas terakhirku selesai. Aku berdiri di bawah kanopi kampus dan memeriksa ponsel. Ethan mengirim pesan bahwa ia baru selesai mengantar bahan ke toko dan bisa menjemputku jika aku belum mendapatkan kendaraan.
Aku membalas bahwa aku bisa naik taksi. Ia menjawab singkat, 'Aku sudah dekat. Tunggu di tempat teduh.'
Aku tidak ingin membuatnya memutar jalan, tetapi taksi sulit didapat karena hujan. Beberapa menit kemudian, mobil Ethan berhenti di tepi jalan. Ia menurunkan kaca.
'Masuk.'
'Kau bilang baru mengantar bahan. Bukankah toko lebih dekat?'
'Aku memang harus kembali ke toko. Kampus ada di jalan yang sama.'
Aku masuk dan menutup pintu. 'Kebetulan yang sangat praktis.'
'Memang.'
Ia tidak menyebut apa pun tentang berkas atau alamat ruko. Kami berbicara tentang tugas kuliahku dan rencana Daren untuk menguji resep lagi. Hujan membuat lalu lintas bergerak lambat. Ethan tetap tenang, sementara aku mengetuk-ngetuk map di pangkuan mengikuti irama lagu dari radio.
'Kau gugup?' tanyanya.
'Tidak. Aku cuma memikirkan presentasi besok.'
'Kau sudah siap?'
'Hampir. Aku tahu materinya, tapi aku benci bicara di depan kelas.'
'Kau bicara dengan editor dan polisi tanpa masalah.'
'Itu berbeda. Aku bisa menjelaskan hal yang terjadi padaku. Presentasi membuat semua orang menatapku sambil menunggu aku tidak salah.'
'Kalau kau salah, kau bisa memperbaikinya.'
'Kau membuat semuanya terdengar sederhana.'
'Tidak sederhana. Tapi bisa dilakukan.'
Aku menghela napas. 'Aku akan mengingat itu.'
Kami sampai di apartemen ketika hujan semakin lebat. Ethan memarkir mobil agak jauh dari pintu masuk karena tempat yang dekat sudah penuh. Ia mengambil payung hitam dari kursi belakang dan membukanya.
'Kau tidak harus mengantarku sampai pintu,' kataku. 'Kau bisa kembali ke toko.'
'Daren baru mengirim pesan. Pesanan selesai lebih cepat, dan dia yang mengunci. Aku tidak perlu kembali malam ini.'
'Kalau begitu kau bisa pulang duluan. Aku tahu jalan ke lobi.'
'Aku tahu kau tahu. Tapi kita sedang berdiri di tengah hujan, dan payung ini cukup untuk dua orang.'
Aku tidak menemukan alasan untuk membantah. Ia tidak memaksaku menerima bantuan; ia hanya menawarkan ruang di bawah payung. Ada perbedaan yang belakangan makin mudah kurasakan.
'Kita harus berlari,' kataku.
'Tidak. Lantainya licin. Jalan pelan saja.'
Aku berdiri di bawah payung bersamanya. Ruang di bawahnya cukup untuk dua orang, tetapi aku masih terkena cipratan air di lengan. Ethan menggeser payung ke arahku.
'Sekarang kau yang kehujanan,' kataku.
'Jaketku tahan air.'
'Itu alasan yang sangat praktis.'
'Memang.'
**
Kami berjalan perlahan menuju pintu masuk. Hujan membuat suara kota terdengar jauh. Aku bisa merasakan bahu Ethan dekat dengan bahuku, tetapi ia menjaga jarak agar tidak menyenggolku. Sesekali tangannya mengubah posisi payung agar air tidak jatuh ke sisi tempatku berjalan.
'Kau tidak perlu terus memiringkannya,' kataku. 'Aku punya jaket.'
'Kau membawa map dan tas. Kalau basah, dokumennya bisa rusak.'
Aku menatap map yang memang kubungkus dalam kantong plastik. 'Dokumennya aman.'
'Tetap saja.'
'Ethan, aku bisa berbagi payung tanpa kau harus melindungiku dari setiap tetes air.'
Ia menghela napas pendek. 'Aku tahu. Kebiasaan.'
'Kebiasaan mengatur segalanya?'
'Mungkin.'
Aku tidak mendesaknya. Kami berhenti sebentar untuk membiarkan sebuah mobil melewati genangan. Ethan memastikan tidak ada cipratan menuju kami, lalu memberi isyarat agar aku berjalan lebih dekat ke dinding.
'Kau seperti pemandu tur hujan,' kataku.
'Aku hanya tidak mau sepatumu basah.'
'Kau tahu, biasanya orang bilang mereka tidak mau temannya basah.'
'Kita bukan teman?'
Pertanyaan itu membuatku menoleh. Nadanya terdengar biasa, tetapi ia menunggu jawabanku.
'Kurasa kita sedang menuju ke sana,' kataku. 'Kita tinggal serumah, bekerja sama memilih kue, dan berbagi payung. Itu cukup banyak untuk dua orang yang dulunya bertengkar soal kamar mandi.'
'Kau yang masuk ke kamar mandi saat aku sedang di rumah.'
'Aku tidak tahu kau ada di sana. Dan kau yang membuka pintu.'
'Aku pikir unit itu kosong.'
'Kita sudah mengulang pertengkaran ini berkali-kali.'
'Karena kau selalu mengingatnya berbeda.'
Aku tertawa. 'Setidaknya sekarang kita bisa membicarakannya tanpa saling mengusir.'
Ia mengangguk, lalu membuka pintu masuk gedung untukku. Payung masih menaungi kami sampai tepat di bawah kanopi. Saat melangkah ke bawah kanopi, aku merasakan sesuatu yang hangat dan tenang. Aku nyaman berjalan di sampingnya. Kesadaran itu muncul begitu saja, tanpa ledakan atau pengakuan besar.
Aku berhenti sebentar. Ethan menoleh. 'Ada apa?'
'Tidak ada. Aku hanya berpikir, ternyata berjalan pulang di tengah hujan tidak terlalu buruk kalau ada yang berbagi payung.'
'Asal kau tidak berharap aku selalu menjemputmu.'
'Tenang. Aku tidak akan menulis memo permintaan jemputan.'
'Bagus. Aku juga tidak akan menempel memo soal payung.'
Di bawah kanopi, sebelum kami masuk, ia melipat payung dan mengguncangnya pelan agar airnya tidak menetes ke lantai. Aku menahan pintu untuknya.
'Tadi kau bilang akan belajar mendengarkan dulu,' kataku. 'Aku akan mengingatkanmu kalau kau lupa.'
'Dan aku akan mengingatkanmu kalau kau terus berjalan di tengah hujan tanpa melihat genangan.'
'Sepakat. Kita saling mengingatkan, bukan saling mengatur.'
Ethan menatapku sejenak, lalu mengangguk. 'Sepakat.'
Kami masuk ke lift bersama. Tidak ada percakapan besar setelah itu, hanya suara mesin dan bunyi hujan yang masih terdengar dari luar. Namun, diam kali ini terasa nyaman. Aku menyadari bahwa sejak tinggal bersama, aku sering mengira keheningan berarti ada sesuatu yang salah. Bersamanya, keheningan mulai terasa seperti ruang yang bisa kami bagi tanpa harus mengisinya dengan aturan.
Setiba di lantai lima, kami berjalan ke apartemen. Di dalam, Ethan menggantung payung hingga kering dan memeriksa apakah mapku tetap aman. Aku mengangkatnya untuk menunjukkan tidak ada bagian yang terkena air.
'Aman,' kataku.
'Bagus.'
'Kau mengatakan itu lagi.'
'Karena memang bagus.'
Aku meletakkan map di meja, lalu mengganti pakaian yang sedikit basah. Dari ruang tengah terdengar Ethan berbicara dengan Daren lewat telepon tentang persiapan kompetisi. Aku menyiapkan teh hangat untuk kami berdua, tanpa merasa harus mencari alasan khusus.
Saat menyerahkan cangkir kepadanya, ia berkata, 'Besok semoga presentasimu lancar.'
'Terima kasih. Dan semoga resep kue kalian tidak memberontak.'
'Kue tidak memberontak.'
'Kata orang yang belum pernah melihat adonan menyerang bajunya sendiri.'
Ia tertawa pelan. Aku tersenyum melihatnya. Mungkin inilah yang membuatku merasa nyaman: bukan hanya ia bersedia berjalan di sampingku, tetapi ia juga membiarkanku menjadi diriku sendiri di dekatnya.