Hari itu, aku menunggu kabar Selena sambil kembali menjalani rutinitas kuliah dan menulis. Aku tidak pergi ke kawasan ruko lama. Ethan pun tidak bertanya apakah aku ingin melihatnya. Ia hanya memastikan map dokumen tersimpan di tempat aman dan mengingatkanku untuk menghubungi Selena jika menerima pesan mencurigakan.
Malam itu, kami duduk di meja makan dengan buku resep Ethan di satu sisi dan laptopku di sisi lain. Aku sedang mengoreksi paragraf ketika ia menggeser piring berisi roti ke tengah meja.
'Kau belum makan sejak pulang,' katanya.
'Aku sudah makan siang.'
'Itu beberapa jam lalu.'
'Aku sedang menyelesaikan satu halaman.'
'Halaman itu tidak akan kabur kalau kau makan dulu.'
'Tokohku mungkin kabur.'
'Kalau begitu, tulis dia membawa roti.'
Aku mengangkat wajah. 'Itu ide yang bagus. Tokohku bisa berhenti bertengkar karena salah satu dari mereka kelaparan.'
'Itu bukan konflik yang rumit.'
'Justru konflik paling mudah diselesaikan.'
Ia duduk di seberangku. Kami makan sambil membicarakan resep kompetisi dan tugas kuliahku. Ethan tidak menyinggung berkas, tetapi aku tahu ia mengingat alamat ruko itu. Aku memilih tidak membicarakannya sampai ada kabar dari Selena.
Aku menutup laptop sejenak dan mengambil roti itu. 'Kau tidak perlu mengawasiku setiap kali aku bekerja.'
'Aku tidak mengawasi. Aku hanya melihat kau sudah lama di depan layar.'
'Itu hampir sama.'
'Kalau begitu, aku akan bertanya dulu lain kali. Kau mau makan?'
Aku memandang roti di piring. 'Ya. Terima kasih sudah bertanya.'
Ethan mengangguk dan kembali ke catatan resepnya. Tidak ada teguran atau aturan baru. Aku menyadari betapa mudahnya suasana berubah ketika ia memberiku pilihan, bukan keputusan yang sudah dibuat atas namaku.
**
Tak lama setelah makan malam, Selena menelepon. Ia berkata sudah memeriksa alamat yang tercantum dalam kuitansi dan menemukan satu ruko lama yang cocok dengan nomor di catatan transaksi. Ada beberapa tanda bahwa tempat itu pernah digunakan sebagai alamat surat-menyurat, tetapi ia tidak mengatakan bahwa Daniel berada di sana.
'Apakah Anda ingin kami datang untuk melihatnya?' tanyaku.
'Tidak. Kami sedang melakukan pemeriksaan sendiri. Saya hanya menghubungi Anda karena alamat itu terkait dengan dokumen yang Anda serahkan. Anda tidak perlu datang atau menghubungi siapa pun di sana.'
'Saya mengerti. Apa ada hal lain yang perlu saya lakukan?'
'Untuk sekarang, simpan semua bukti dan jangan menghapus pesan lama. Jika ada komunikasi baru, beri tahu saya.'
Aku mengucapkan terima kasih dan mengakhiri panggilan. Ethan meletakkan daftar bahan yang sejak tadi dibacanya dan menghampiriku. Ia melihat wajahku dan bertanya, 'Selena?'
'Ia menemukan alamat ruko lama yang cocok dengan kuitansi. Tapi polisi yang akan memeriksa. Aku diminta tidak pergi ke sana.'
'Bagus. Kau tidak perlu terlibat lebih jauh.'
'Aku tidak berniat pergi. Aku hanya berharap alamat itu bisa membantu mereka menemukan Daniel.'
Ethan menggeser buku resepnya agar mapku bisa kuletakkan di meja. 'Aku juga berharap begitu. Tapi jangan biarkan harapan itu membuatmu mengambil risiko.'
'Aku tidak akan. Aku sudah janji pada Selena.'
'Dan padaku?'
Aku menatapnya. 'Kau tidak pernah meminta janji itu.'
'Benar. Aku seharusnya bertanya dulu.'
'Tapi aku tidak akan pergi ke sana diam-diam. Kau tidak perlu khawatir.'
Ia terlihat hendak menjawab, lalu mengangguk pelan. 'Terima kasih sudah memberitahuku.'
'Aku belum tentu akan langsung memberitahumu semua hal. Tapi soal ini, aku tidak mau kau mendengarnya dari orang lain.'
'Itu sudah cukup.'
Kami kembali ke aktivitas masing-masing. Aku mengerjakan tugas kuliah di meja, sementara Ethan membaca daftar bahan. Tak lama, Daren mengirim pesan bahwa ia membutuhkan Ethan di toko. Ethan mengambil jaket dan pergi, meninggalkan aroma roti yang baru dipanggang.
Beberapa waktu kemudian aku menerima pesan dari Selena, menjelaskan bahwa alamat ruko sudah dicatat sebagai petunjuk pemeriksaan. Ia tidak memberikan detail lebih jauh. Aku menyimpan pesannya dan menahan diri agar tidak mencari alamat itu di internet. Aku tak ingin mengubah rasa penasaran menjadi tindakan yang justru mengganggu pekerjaan mereka.
Saat Ethan kembali, hujan mulai turun. Ia berdiri di pintu dengan rambut sedikit basah dan sebuah payung hitam di tangan.
'Kau kehujanan?' tanyaku.
'Hanya dari mobil ke pintu. Aku punya payung.'
'Kau bisa menyimpannya di dekat rak. Lantainya baru saja kupel.'
'Aku akan mengeringkannya dulu.'
Ia melepas sepatu dan meniriskan payung di dekat pintu agar airnya tidak menetes ke dalam. Aku memperhatikannya melakukan itu dengan hati-hati. Sesuatu yang kecil, tetapi selalu sama: ia memikirkan hal-hal praktis sebelum membiarkan dirinya merasa apa pun.
'Kau mau teh?' tanyaku.
'Boleh. Hujannya mungkin akan lama.'
Aku menyiapkan dua cangkir. Kami duduk di ruang tengah dan mendengarkan hujan mengetuk jendela. Aku bercerita bahwa Selena belum memberi kabar baru selain alamat ruko. Ethan tidak mendorongku untuk mengatakan lebih banyak.
'Kau terlihat lebih tenang,' katanya.
'Mungkin karena sekarang aku tahu ada orang yang menangani kasus itu. Aku masih kesal, tapi tidak merasa harus melakukan semuanya sendiri.'
'Bagus.'
'Kau selalu bilang begitu kalau aku membuat keputusan yang kau setujui.'
'Karena itu memang bagus.'
Aku tertawa. Di luar, hujan semakin deras. Payung hitamnya menunggu di dekat pintu, dan aku belum tahu bahwa dalam perjalanan pulang besok, aku akan berdiri di bawahnya bersamanya.
Cangkir kami hampir kosong ketika Daren menelepon lagi. Salah satu pesanan esok perlu diperiksa sebelum adonannya disimpan. Ethan menutup buku resep dan memindahkan cangkirnya. 'Aku harus kembali sekali lagi. Daren masih menunggu.'
'Hujan deras. Kau yakin?'
'Aku membawa payung. Toko juga tidak bisa menunggu sampai cuaca cerah.'
'Kau selalu punya jawaban untuk semuanya.'
'Tidak selalu. Hanya untuk alasan meninggalkan toko.'
Ia mengenakan jaketnya dan mengambil payung. Sebelum keluar, ia menoleh. 'Kalau Selena mengirim kabar lagi, beri tahu aku kalau kau mau. Aku tidak akan meminta detail yang tidak bisa kaubagikan.'
'Aku akan memberitahumu kalau ada sesuatu yang perlu kauketahui.'
Ia menerima jawabanku tanpa meminta lebih. Pintu tertutup, dan suara hujan kembali memenuhi ruangan. Aku menatap bekas tetesan di dekat rak, lalu mengambil lap. Payung itu dibawanya lagi. Sebelum tidur, aku mendengar kunci berputar dan Ethan kembali menaruh payung basahnya di dekat pintu. Aku hanya mengucapkan selamat malam dari kamar; pemeriksaan pesananku sendiri untuk Emily sudah menunggu pagi.