Selena mengirim pesan setelah makan siang, meminta izin agar aku datang lagi membawa salinan bukti pembayaran pertama yang lebih jelas; angka pada salinan sebelumnya terlalu buram. Ia ingin memastikan nomor rekening yang tercantum di sana sesuai dengan catatan korban lain. Ethan membaca pesanku dari seberang meja, tetapi tidak langsung memberi pendapat.
'Aku akan ke kantor,' kataku. 'Kali ini mungkin tidak perlu kau ikut.'
'Selena meminta dokumen tambahan. Kau mau aku menemanimu?'
'Aku bisa pergi sendiri. Tapi kalau kau memang ingin ikut, kau boleh. Aku tidak mau kau meninggalkan toko hanya karena merasa harus menjagaku.'
'Daren bilang ia bisa mengurus beberapa jam. Aku juga ingin memahami apa yang ditemukan Selena. Tapi keputusan tetap di tanganmu.'
Aku memikirkan tawarannya. 'Baik. Kita pergi bersama. Tapi aku yang akan menjawab pertanyaan.'
'Sepakat.'
Aku kembali ke kamar dan mengambil salinan bukti pembayaran yang diminta. Kertas itu sudah agak kusut di bagian tepi. Aku merapikannya, memasukkannya ke map, lalu mengirim pesan kepada Selena bahwa kami akan tiba pukul tiga.
**
Selena menunggu kami di ruang yang sama. Kali ini ada beberapa lembar laporan tersusun di hadapannya. Ia mengucapkan terima kasih atas salinan tambahan, lalu mencocokkan tanggal transaksi dengan catatan yang sudah ia kumpulkan.
'Pembayaran Anda masuk pada tanggal ini?' tanyanya.
'Benar. Saya mentransfer setelah Daniel mengirimkan instruksi.'
'Rekeningnya bukan atas nama Daniel Carter,' kata Selena. 'Nama pemilik rekening berbeda, tetapi rekening itu digunakan dalam beberapa transaksi yang sedang kami periksa. Kami belum bisa memastikan siapa yang mengendalikannya, jadi saya tidak akan menyebut nama yang belum terverifikasi.'
Aku mengangguk. 'Saya mengerti.'
Selena memperbesar salinan angka rekening di layar. Ethan mendekat sedikit, tetapi tetap menunggu sampai Selena mempersilakannya melihat.
'Tanggal pada bukti korban lain ini hanya berbeda dua hari dari transfer Shopia,' katanya. 'Namun, alamat properti yang disebutkan tidak sama.'
'Itu salah satu alasan kami menghubungkan transaksi melalui rekening dan nomor kontak,' jawab Selena. 'Kami sedang mengecek apakah ada dokumen sewa yang dibuat dengan pola serupa.'
Aku menatap layar. Nomor rekening itu membuat perutku terasa kencang. Ada rasa marah karena jejak yang sama mungkin sudah menimpa orang lain, juga rasa bersalah yang tak masuk akal karena aku tak bisa mencegahnya.
'Kau tidak bertanggung jawab atas tindakan Daniel,' ujar Ethan pelan.
Aku bahkan belum sempat mengatakan apa pun. Selena ikut mengangguk. 'Shopia adalah korban dan saksi. Yang bertanggung jawab adalah orang yang melakukan penipuan.'
Aku menarik napas. 'Aku tahu. Hanya saja, kalau aku lebih cepat melapor, mungkin—'
'Tidak ada gunanya menyalahkan diri sendiri berdasarkan hal yang tidak mungkin Anda ketahui saat itu,' kata Selena. 'Informasi yang Anda berikan sekarang tetap berguna.'
Ia membuka berkas lain yang memuat salinan kuitansi sewa dari korban baru. Ada alamat yang tertera di bagian atas, tetapi nomor unitnya tampak tidak lengkap.
'Kuitansi ini diterbitkan untuk penyewaan ruang usaha,' jelas Selena. 'Tanggalnya berdekatan dengan transaksi Anda. Kami menemukan pembayaran lain yang menggunakan rekening terkait, lalu membandingkannya dengan dokumen sewa ini.'
Ethan membaca lembar itu dengan teliti. Ia tidak menyentuhnya sampai Selena menggeser salinan ke arahnya.
'Alamatnya kawasan pertokoan lama di Jalan Melati,' katanya. 'Nomor rukonya seperti terpotong. Di bagian catatan ada kode yang mungkin nomor bangunan.'
Selena melihat lagi. 'Itu yang sedang kami periksa. Alamat ini muncul pada dua dokumen berbeda, tapi format penulisannya tidak konsisten. Salah satunya hanya mencantumkan blok dan nomor ruko.'
Aku membungkuk agar bisa melihat. 'Saya pernah melihat kawasan itu. Dari kampus tidak terlalu jauh, tapi saya tidak tahu rukonya yang mana.'
'Jangan pergi ke sana sendiri,' kata Selena dengan tegas. 'Kami akan memeriksa alamat itu melalui jalur resmi. Saya hanya ingin tahu apakah Anda mengenali nomor rekening atau cara penulisan pada kuitansi.'
'Nomor rekeningnya sama dengan salah satu bukti yang saya serahkan. Format tanggalnya juga mirip dengan kontrak saya.'
Selena menulis catatan. 'Itu cukup membantu. Kami akan menambahkan kecocokan ini ke pemeriksaan. Saya belum bisa menyimpulkan bahwa Daniel berada di sana, jadi jangan menganggap ruko itu tempat persembunyiannya.'
Ethan membaca seluruh kuitansi dari awal sampai akhir. Ia memeriksa tanda tangan, tanggal, dan keterangan pembayaran, lalu mengembalikannya kepada Selena.
'Keterangan ruang usahanya menyebut nama pengelola?' tanyanya.
'Tidak. Hanya kode transaksi dan alamat. Kami perlu memastikan apakah tempat itu benar-benar pernah disewakan atau hanya dicantumkan dalam dokumen.'
Aku memandang Ethan. Ketelitian yang ia bawa ke resep ternyata juga muncul saat membaca berkas. Ia tidak terburu-buru membuat kesimpulan. Ia melihat hal kecil yang mungkin mudah terlewat.
'Kau menemukan sesuatu?' tanyaku setelah kami keluar dari ruang konsultasi.
'Belum. Aku hanya membaca apa yang tertulis. Selena yang akan memeriksanya.'
'Kau bisa saja pura-pura menjadi detektif dan membuat teori panjang.'
'Aku bukan detektif. Aku pemilik toko roti.'
'Pemilik toko roti yang membaca kuitansi seperti sedang menilai resep.'
'Kuitansi juga punya bahan-bahan: tanggal, angka, tanda tangan. Kalau satu tidak cocok, hasilnya bisa salah.'
Aku tertawa. 'Kau membandingkan kuitansi dengan kue?'
'Aku membandingkan pekerjaan yang perlu teliti.'
Di depan gedung, aku menunggu taksi sambil menutup map. Ada dorongan untuk memotret kembali alamat ruko itu dan mencari letaknya sendiri. Aku menghentikan tanganku sebelum membuka aplikasi peta. Selena sudah menjelaskan mengapa nomor yang terpotong belum cukup untuk mengenali sebuah tempat.
'Aku perlu mengembalikan catatan ini ke urutan yang benar,' kataku.
Ethan menahan ujung map agar kertasnya tidak tertiup. Aku meletakkan salinan bukti transferku di bagian depan dan catatan alamat dari dokumen korban lain di belakang. Keduanya berhubungan dalam pemeriksaan, tetapi bukan transaksi yang sama. Aku tidak pernah menyewa ruang usaha itu.
Saat taksi berhenti, aku memasukkan map ke tas sebelum membuka pintu. Ethan menunggu sampai aku selesai, lalu naik dari sisi lain. Kali ini kami tidak membawa kesimpulan tentang siapa yang tinggal di ruko tersebut. Kami hanya membawa tanda terima dokumen dan instruksi menunggu kabar.
Di dalam taksi, aku melihat kembali catatan alamat ruko lama. Aku tidak akan mencoba menyelidikinya, tetapi kini ada sesuatu yang konkret untuk diperiksa. Aku memasukkan catatan itu ke dalam map dan mengirim pesan singkat kepada Selena, memastikan aku memahami permintaannya. Ia membalas bahwa aku tidak perlu melakukan apa pun lagi untuk sementara. Setidaknya, aku tidak akan menebak-nebak langkah berikutnya.
Ethan melirik ponselku. 'Sudah ada jawaban?'
'Selena bilang tunggu. Aku akan melakukan itu.'
'Bagus. Kalau nanti ada yang berubah, kau bisa memutuskan setelah tahu informasinya.'
'Kau tidak akan mengingatkanku untuk tidak pergi ke ruko?'
'Kau sudah bilang tidak akan pergi.'
Aku memandangnya. 'Kau percaya begitu saja?'
'Aku memilih percaya sampai kau memberiku alasan untuk tidak melakukannya.'
Kalimat itu menetap di pikiranku lebih lama daripada seharusnya.