Pagi itu aku membawa map berisi salinan perjanjian sewa, bukti transfer, dan tangkapan layar percakapanku dengan Daniel. Aku baru selesai memeriksa daftar dokumen ketika Ethan masuk ke dapur sambil mengenakan jaket.
'Kau sudah siap?' tanyanya.
'Hampir. Selena memintaku datang pukul satu. Aku akan berangkat setelah makan siang.'
'Aku ikut.'
Aku menatapnya. 'Kau ada di toko hari ini. Daren bisa mengurusnya.'
'Aku sudah bicara dengan Daren. Dia setuju menjaga toko sampai aku kembali.'
'Aku bisa pergi sendiri. Ini hanya menyerahkan dokumen.'
Ethan berdiri di sisi meja, menatap map yang kupegang. 'Aku ingin menemanimu kali ini. Kalau kehadiranku justru membuatmu tidak nyaman, katakan. Aku tidak mau memutuskan perjalananmu sendiri.'
Aku teringat hari ketika ia pernah meninggalkanku di jalan setelah pencarian Daniel. Aku belum melupakan hujan dan perjalanan pulang itu. Tawaran hari ini tidak mengubahnya, tetapi ia kini menunggu jawabanku sebelum ikut.
'Aku tidak mau merepotkanmu.'
'Menemanimu bukan kerepotan.'
'Kalau begitu, aku yang menyetir.'
'Kita naik taksi. Kau bisa membaca dokumen selama perjalanan.'
'Aku tidak akan membaca dokumen di mobil. Aku bisa pusing.'
'Kalau begitu, kita tidak perlu berdebat soal siapa yang menyetir.' Ia meraih kunci dan menyimpannya kembali. 'Kau sudah makan?'
Aku menghela napas. 'Belum. Tapi jangan jadikan makan siang sebagai syarat sebelum berangkat.'
'Aku hanya bertanya.'
'Kau bertanya dengan wajah seperti sedang menempelkan memo baru.'
Senyum tipis muncul di wajahnya. 'Tidak ada memo. Hari ini aku hanya ingin memastikan kau tidak berangkat dengan perut kosong.'
Aku mengangguk ke arah roti di meja. 'Aku bisa makan sambil menunggu taksi. Tapi aku tetap akan bicara sendiri dengan Selena.'
'Tentu. Itu urusanmu. Aku hanya menemani.'
Kami makan dengan cepat. Sepanjang perjalanan, aku memegang map di pangkuan dan memeriksa ulang daftar. Ethan duduk di sampingku tanpa mencoba membaca dokumen. Saat aku berhenti pada bukti transfer, ia bertanya apakah aku baik-baik saja.
'Kau sudah membaca semua ini berkali-kali,' katanya.
'Aku ingin memastikan tidak ada yang tertinggal. Selena mungkin memerlukan tanggal atau bukti tertentu.'
'Kau bisa bertanya kepadanya kalau ada yang kurang. Tidak perlu menghafal setiap angka.'
'Aku tahu. Tapi angka-angka ini yang membuatku sadar semuanya nyata. Waktu itu aku berharap Daniel hanya membuat kesalahan administrasi. Aku tidak mau langsung menganggap seseorang menipuku.'
Ethan tidak menyela. Ia menunggu sampai aku melipat kembali kertas itu.
'Aku tidak akan menyalahkanmu karena percaya pada orang,' katanya.
'Aku sendiri masih melakukannya.'
'Maka berhentilah menghukum dirimu untuk sesuatu yang tidak kauketahui saat itu.'
'Aku tidak suka mengingat berapa banyak uang yang hilang,' jawabku. 'Tapi aku juga tidak mau menghindari pembicaraan ini lagi.'
'Kau tidak harus menjelaskan lebih dari yang Selena perlukan.'
'Aku tahu. Aku sudah pernah membuat laporan. Kali ini mungkin ada informasi baru.'
'Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, katakan. Kita bisa berhenti sebentar.'
'Aku bisa mengurus diriku sendiri, Ethan.'
'Aku tahu. Menemanimu tidak berarti aku menganggapmu tidak mampu.'
Aku menoleh kepadanya. Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat bantahanku tertahan. Aku kembali melihat map, tetapi kali ini genggamanku sedikit lebih rileks.
**
Kantor Unit Kejahatan Finansial berada di gedung yang sama dengan kantor polisi tempat aku membuat laporan terdahulu. Selena menunggu di ruang konsultasi kecil. Ia menyambutku dan Ethan, lalu menunjukkan kursi untuk kami.
'Terima kasih sudah datang, Shopia. Dokumennya bisa saya lihat?'
Aku menyerahkan map. Selena membandingkan salinan perjanjian dengan bukti transfer dan catatan yang ia bawa. Ethan duduk di sebelahku, diam, membiarkanku menjawab semua pertanyaan.
'Apakah ini rekening yang sama dengan yang Anda gunakan saat membayar sewa?' tanya Selena.
'Ya. Pembayaran dilakukan setelah Daniel mengirimkan nomor rekening ini. Dia mengatakan rekening itu milik pengelola properti.'
'Anda masih menyimpan pesan yang menjelaskan hal tersebut?'
'Ada tangkapan layarnya. Saya juga punya riwayat percakapan sebelum kontrak ditandatangani.'
Aku menunjuk kata sewa pada perjanjian. 'Ada yang perlu saya luruskan. Saya pernah menyebut apartemen itu saya beli. Saya juga pernah mengatakan membayar sebagian besar harganya. Tetapi yang tertulis di sini pembayaran tempat tinggal untuk tiga bulan.'
Selena menggeser kertas agar aku bisa membacanya. 'Keterangan Anda perlu mengikuti transaksi yang benar-benar dilakukan. Apakah ada pembayaran pembelian lain?'
'Tidak ada bukti pembayaran lain yang bisa saya tunjukkan. Saya memakai istilah yang salah ketika menceritakannya.'
Aku menatap Ethan sebentar. Dokumen kepemilikannya tidak memberiku bagian apartemen hanya karena uangku telanjur hilang.
'Catat koreksi itu pada keterangan tambahan,' kata Selena. 'Salinan laporan lama tetap disimpan. Kita jelaskan perbedaannya, bukan menutupi kalimat sebelumnya.'
Aku membacakan kalimat yang baru kutulis sebelum menandatanganinya. Tanganku masih terasa dingin, tetapi kali ini aku berhenti berusaha membuat ceritaku terdengar lebih rapi daripada bukti yang kumiliki.
Selena menandai beberapa bagian. 'Kami menerima laporan dari orang lain dengan pola serupa. Jumlahnya berbeda, tetapi ada kesamaan pada cara pembayaran diarahkan. Saya ingin mencocokkan tanggal dan nomor rekening dari dokumen Anda dengan catatan korban lainnya.'
Aku berusaha tidak menunjukkan keterkejutanku. 'Apakah uang mereka juga hilang?'
'Sebagian besar belum kembali. Namun, informasi yang Anda berikan dapat membantu kami menghubungkan transaksi yang sebelumnya terlihat terpisah.'
Ethan akhirnya berbicara. 'Apakah ada risiko Shopia dihubungi oleh Daniel lagi?'
Selena menoleh kepadanya. 'Shopia masih tinggal di unit yang menjadi objek laporan. Saya belum bisa memastikan apakah Daniel akan menghubunginya lagi. Jika ada pesan atau panggilan mencurigakan, jangan membalas. Simpan bukti dan hubungi saya.'
'Saya akan melakukannya,' kataku.
Selena mengeluarkan lembar pencatatan transaksi dan meminta izin memfotokopi beberapa halaman. Aku menyetujuinya. Ia menjelaskan bahwa pemeriksaan membutuhkan waktu, tetapi ia akan memberi tahu jika menemukan kecocokan yang bisa dibagikan. Tak ada janji bahwa uangku segera kembali, namun setidaknya kali ini berkas-berkasku berada di tangan seseorang yang dapat menggunakannya.
Sebelum kami pergi, Selena mencatat nomor telepon Ethan sebagai kontak pendamping untuk hari itu, bukan sebagai pihak dalam laporan. Ethan tidak memprotes atau mencoba mengambil alih percakapan. Ia hanya menunggu sampai aku selesai menandatangani tanda terima dokumen. Selena lalu mengembalikan salinan perjanjian dan menyimpan bukti transfer dalam map pemeriksaan.
'Saya mungkin perlu memanggil Anda kembali setelah membandingkan beberapa tanggal,' katanya. 'Ada satu kuitansi dari korban lain yang harus saya cocokkan dengan transaksi Anda.'
'Saya akan menjawab kalau Anda menghubungi,' kataku.
Selena menutup map. 'Untuk sekarang, cukup. Saya tidak ingin Anda mencari informasi tambahan sendiri. Kami yang akan memeriksa jalur rekening dan alamat yang tercantum.'
'Saya mengerti. Saya tidak akan mendatangi siapa pun.'
Ethan mengangguk, tetapi tidak bicara sampai kami berada di luar ruangan. Aku menghargai bahwa ia membiarkanku menjawab Selena sendiri.
Saat keluar, aku berkata, 'Terima kasih sudah ikut.'
'Kau tidak perlu berterima kasih.'
'Aku tetap mau. Tapi lain kali, beri tahu dulu sebelum mengatur perjalanan denganku.'
'Aku tidak mengatur perjalanan. Aku menawarkan diri.'
'Kau bilang, 'Aku ikut.' Itu terdengar seperti keputusan sepihak.'
Ia mengangkat tangan sedikit. 'Baik. Lain kali aku bertanya dulu.'
Aku tersenyum. 'Bagus. Kemajuan besar untuk orang yang punya banyak aturan.'
Ia membuka pintu gedung untukku. 'Kau akan menggunakan kalimat itu setiap kali aku setuju denganmu?'
'Mungkin.'
Di luar, langit tampak lebih gelap daripada saat kami datang. Ethan memeriksa ponselnya dan membaca pesan dari Daren bahwa toko sedang ramai. Ia segera menghubungi Daren untuk memastikan semuanya terkendali.
'Kita bisa kembali ke toko,' katanya setelah menutup telepon.
'Aku perlu menyimpan dokumen yang tersisa di rumah dulu.'
'Baik. Kita pulang sebentar, lalu aku ke toko.'
Taksi tiba. Aku naik lebih dulu dan duduk di dekat jendela. Map di pangkuanku terasa lebih ringan meskipun isinya masih sama. Kali ini aku tidak merasa harus menanggung seluruh persoalan itu sendirian.