Keesokan harinya aku kembali ke Cross & Co. untuk uji konsistensi. Daren menyiapkan bahan dengan takaran yang sama, sementara Ethan memeriksa suhu oven. Aku datang membawa catatan dan sisa sampel dari malam sebelumnya.
'Kau benar-benar menyisakan sebagian,' kata Ethan saat melihat kotaknya.
'Aku ingin membandingkan rasa setelah semalam. Itu bagian dari penelitian.'
'Tentu,' jawabnya, tetapi senyumnya menunjukkan ia tidak sepenuhnya percaya alasan itu.
Daren mengambil satu potong kecil. 'Rasanya masih bagus. Teksturnya sedikit berubah, tapi tidak lembek. Ini bisa bekerja untuk perjalanan.'
Kami mengulang resep sesuai takaran. Aku membantu mengisi cetakan dan memeriksa bagian yang kemarin masih tidak rata. Ethan mengawasi oven, lalu mengajak Daren mengatur waktu pendinginan supaya mereka bisa membandingkan hasilnya dengan sampel sebelumnya.
'Kalau rasa dan teksturnya konsisten, berarti resep ini layak dibawa ke tahap berikutnya,' kata Ethan.
'Kau terdengar seperti sedang mengumumkan hasil ujian,' kataku.
'Aku sedang menyimpulkan percobaan.'
'Dengan kata lain, ujiannya lulus?'
'Belum. Kita perlu satu uji lagi dalam jumlah lebih banyak.'
Daren mengeluarkan loyang. 'Aku setuju. Tapi untuk hari ini, kita sudah punya arah.'
Kami mencicipi sampel baru. Rasanya sedikit kurang manis daripada yang pertama, tetapi lebih nyaman dimakan. Aku menuliskan catatan itu, lalu mengusulkan agar mereka menambahkan sedikit madu ke isian, bukan gula.
Ethan memikirkan usulanku. 'Bisa dicoba. Tapi jumlahnya kecil, supaya kelembapannya tidak mengubah adonan.'
'Aku tidak akan menyentuh apa pun tanpa izin,' kataku.
'Bagus. Besok kita uji satu porsi kecil.'
Ponselku bergetar di atas meja. Nama Selena Harris muncul di layar. Senyumku langsung hilang. Aku meminta izin keluar dari dapur agar bisa mendengar dengan jelas.
'Halo, Selena. Ada kabar?'
'Shopia, maaf mengganggu. Kami mendapat laporan korban baru yang diduga terkait Daniel Carter. Ada beberapa berkas sewa dan bukti pembayaran yang perlu kami cocokkan.'
Aku merapatkan ponsel ke telinga. 'Korban baru? Dia melakukan hal yang sama lagi?'
'Kami belum bisa memastikan semua rinciannya, tapi pola awalnya mirip. Karena kau pernah melaporkan transaksi dan punya salinan dokumen, aku ingin memintamu membawa berkas yang kau simpan ke kantor. Jangan kirim lewat orang lain.'
Jantungku berdetak lebih cepat. Ingatan tentang uang yang hilang dan rasa takut saat menyadari apartemen itu bukan milikku kembali muncul.
'Kapan aku harus datang?'
'Kalau memungkinkan, besok siang. Aku akan jelaskan apa saja yang dibutuhkan saat kau tiba. Jangan menghubungi Daniel atau mencoba mencari korban itu sendiri. Biarkan kami yang menangani.'
'Baik. Aku akan membawa dokumen yang kumiliki.'
'Terima kasih. Kalau ada hal lain yang kauingat, catat saja. Jangan mengambil risiko untuk mencari bukti tambahan.'
Panggilan berakhir. Aku tetap berdiri di lorong beberapa saat, menenangkan napas. Selena terdengar tenang, tetapi kata korban baru membuat semuanya terasa dekat lagi.
Ethan membuka pintu dapur sedikit. 'Kau baik-baik saja?'
Aku kembali masuk. Daren sudah menyingkirkan mangkuk agar ada ruang di meja.
'Selena Harris menelepon,' kataku. 'Ada korban baru yang diduga terkait Daniel Carter. Ia meminta aku membawa berkas sewaku ke kantor polisi besok.'
Ekspresi Ethan berubah serius. 'Kau akan pergi sendiri?'
'Dia hanya meminta dokumen. Aku belum tahu berapa lama.'
'Kantor polisi jauh dari kampus?'
'Tidak terlalu. Aku bisa naik taksi atau kendaraan umum.'
Ethan menyandarkan kedua tangannya di meja. 'Kita bisa membicarakan caranya nanti. Yang penting, jangan menghubungi Daniel dan jangan menemui siapa pun yang mengaku korban tanpa Selena.'
'Selena mengatakan hal yang sama. Aku tidak berniat mencari masalah.'
Daren menutup buku resep. 'Berkasnya sudah disimpan rapi?'
'Ya. Ada salinan perjanjian sewa, bukti transfer, dan percakapan dengan orang yang menyewakan apartemen itu. Aku akan memeriksa semuanya malam ini.'
'Kalau perlu, buat daftar dokumen sebelum berangkat,' kata Ethan. 'Jangan bawa dokumen asli kalau Selena hanya meminta salinan.'
Aku mengangguk. Perhatian mereka membuatku merasa tidak sendirian, tetapi aku tidak ingin mereka menganggapku tak mampu mengurus urusanku sendiri.
'Aku bisa menyiapkannya,' kataku. 'Selena yang menangani kasus ini. Aku hanya menyerahkan apa yang sudah kumiliki.'
'Aku tahu,' jawab Ethan. 'Aku tidak sedang menyuruhmu mundur. Aku hanya ingin kau aman.'
Kalimat itu membuatku diam. Daren memberi kami waktu sejenak sebelum mengembalikan pembicaraan ke resep. Kami menyelesaikan catatan uji, menyimpan sampel, dan membersihkan meja. Tidak ada yang memaksa melanjutkan percakapan tentang Daniel, tetapi rasa tegang tetap mengikuti pikiranku.
**
Dalam perjalanan pulang, Ethan bertanya apakah aku ingin ia mengantarku ke apartemen. Aku bilang aku bisa pulang sendiri karena belum terlalu malam. Ia tidak membantah, hanya memastikan aku sudah memesan kendaraan sebelum kembali ke toko.
Sesampainya di rumah, aku mengeluarkan map dokumen dari laci. Semua kertas masih tersusun sesuai tanggal. Aku memeriksa satu per satu, membuat daftar, lalu memasukkan salinan yang diperlukan ke dalam map terpisah. Sebagian besar berkas itu mengingatkanku pada hari pertama pindah: tanda tangan yang kutorehkan terburu-buru, pesan yang kukirim karena tak tahu harus bertanya kepada siapa, dan rasa malu saat menyadari aku telah ditipu. Aku berhenti sejenak di depan bukti transfer. Angka itu masih membuat dadaku sesak, tetapi kali ini ada tujuan yang jelas. Selena ingin membandingkannya dengan laporan korban lain. Mungkin berkas yang selama ini kusimpan hanya karena tak tega membuangnya bisa membantu menyusun gambaran yang lebih utuh.
Aku memotret daftar dokumen untuk memastikan tak ada yang tertinggal, lalu menaruh map di dekat tas. Aku tidak akan membawa semua kertas asli sebelum tahu apa yang dibutuhkan. Jika Selena meminta dokumen tambahan, aku bisa mengambilnya setelah itu. Langkah kecil, tapi setidaknya aku tidak lagi hanya duduk memikirkan kerugianku sendiri.
Ponselku bergetar lagi. Sebuah pesan dari Selena masuk: 'Besok pukul satu. Bawa dokumen pembayaran dan perjanjian. Jika ada pertanyaan, hubungi saya langsung.'
Aku membalas bahwa aku akan datang. Lalu kutatap map di meja. Sejak pindah ke apartemen aku berusaha melupakan kerugian itu sambil membangun hidup baru. Kini ada korban lain, dan Daniel belum tertangkap. Aku tidak tahu apa yang akan ditemukan Selena di berkas-berkas itu, tetapi aku tahu aku harus menghadapinya.
Keesokan harinya, aku akan membawa dokumen tersebut ke kantor polisi. Kali ini aku tidak akan membiarkan rasa takut membuatku menyimpan bukti yang mungkin bisa membantu orang lain.