Pagi harinya, aku terbangun dengan laptop masih terbuka di samping tempat tidur. Berkas revisi sudah terkirim kepada Emily, tetapi aku belum tahu apakah ia akan menyukainya. Aku membuat kopi, lalu memeriksa ponsel. Balasannya muncul saat aku sedang mencari kaus bersih. Aku duduk di tepi ranjang dan membaca pesan itu lagi, memastikan Emily memang memuji revisi yang kukirim semalam. Pujian itu tidak menghapus semua keraguanku, tetapi mengubahnya menjadi sesuatu yang bisa kuhadapi. Aku membuka dokumen dan membandingkan dua versi adegan. Pada versi lama, tokoh perempuan hanya bertanya apakah lelaki itu peduli. Pada versi baru, ia melihat lelaki itu menyimpan tempat duduk untuknya dan memilih tinggal lebih lama. Perubahannya kecil, tetapi terasa lebih nyata.
Aku menandai kalimat yang masih terdengar terlalu dibuat-buat. Lalu kutulis catatan untuk diri sendiri: biarkan tindakan mendahului penjelasan. Aku tidak harus membuat tokohku mengucapkan semua isi hatinya sekaligus. Kadang pembaca bisa memahami jeda, pilihan, dan hal-hal yang tidak dilakukan.
Aku menutup laptop sebentar dan membawa ponsel ke dapur. Aku belum siap membacakan adegan itu kepada Ethan. Di samping cangkir, kuletakkan catatan dua perubahan yang ingin kupertahankan ketika Emily memberi tanggapan berikutnya: tokoh perempuan mengambil keputusan sendiri, dan akibat keputusannya muncul sebelum penjelasan lelaki itu. Aku membuka pesan Emily sekali lagi.
'Shopia, ini jauh lebih hidup. Tokohmu akhirnya merespons satu sama lain, bukan hanya bertukar kalimat. Pertahankan arah ini.'
Aku membaca pesan itu dua kali. Rasa lega datang begitu cepat sampai aku tertawa sendiri di dapur.
Ethan muncul dari lorong sambil membawa kunci mobil. 'Ada kabar baik?'
'Emily menyukai revisiku. Katanya adegannya lebih hidup.'
'Bagus.'
'Hanya itu? Kau tidak ingin tahu apa yang kuubah?'
'Kalau kau ingin cerita, aku akan mendengar. Tapi itu naskahmu.'
Jawabannya membuatku tersenyum. 'Aku mengubah cara tokohnya bereaksi. Sebelumnya mereka hanya bicara tentang perasaan. Sekarang salah satu dari mereka melakukan sesuatu yang menunjukkan bahwa ia peduli.'
Ethan menatap cangkirku. 'Dan itu berhasil?'
'Kata Emily begitu.'
'Berarti kau menemukan yang kurang.'
'Mungkin. Aku belum selesai.'
Ia meraih jaket. 'Kue juga belum selesai. Kita coba variasi terakhir malam ini setelah tutup.'
'Aku akan datang. Aku ingin melihat apakah perasaanku soal kulit jeruk benar.'
'Kau belum mencicipi variasi kulit jeruk.'
'Aku sedang membuat hipotesis.'
'Jangan menulis kesimpulan sebelum ada bukti.'
'Kau selalu bicara seperti dosen resep.'
'Dan kau selalu menyebut pendapat sebagai hipotesis supaya terdengar ilmiah.'
Kami tertawa. Ethan berangkat ke toko, sementara aku membuka laptop untuk mengerjakan tugas kuliah. Meski ada beberapa hal yang harus kuselesaikan, pikiranku kembali pada uji resep malam nanti. Aku menyukai rutinitas baru itu: bukan karena aku tiba-tiba ahli membuat kue, tetapi karena Ethan dan Daren membiarkanku ikut berkontribusi.
**
Malamnya, dapur Cross & Co. dipenuhi aroma jeruk dan mentega. Aku tiba tepat setelah pintu toko dikunci. Daren sudah menyiapkan potongan kulit jeruk, sementara Ethan mengukur bahan.
'Kita mengubah satu hal saja,' katanya. 'Jumlah kulit jeruk ditambah sedikit.'
'Aku ingat aturannya. Satu variasi.'
Daren menyerahkan celemek bersih. 'Kali ini kau bertugas mencampur isian. Ethan menangani adonan.'
Aku mencuci tangan dan menunggu instruksi. Daren menunjukkan wadah dan sendok yang boleh kugunakan. Aku mencampur krim dengan potongan jeruk, lalu mencicipi setitik menggunakan sendok kecil.
'Rasanya lebih segar,' kataku. 'Tapi jangan tambah lagi. Kalau terlalu kuat, ia akan mengalahkan rasa mentega.'
'Setuju,' jawab Daren. 'Kita pakai jumlah ini.'
Ethan memindahkan adonan ke cetakan. Aku memperhatikan gerakannya dan bertanya, 'Boleh aku mencoba membentuk satu?'
'Boleh. Ambil sedikit adonan dari mangkuk ini. Jangan menyentuh loyang yang baru keluar oven.'
Aku mulai menekan adonan di cetakan. Kali ini hasilnya lebih rata. Ethan memeriksa pinggirannya, lalu mengangguk.
'Lebih baik,' katanya.
'Pujian yang sangat panjang. Aku hampir tersentuh.'
'Jangan berlebihan.'
Daren tertawa. 'Aku akan menjadi saksi bahwa Ethan baru saja memuji seseorang.'
Kami menata isiannya dan memasukkan loyang ke oven. Selama menunggu, Daren bertanya tentang naskahku. Aku bercerita bahwa Emily menyukai revisi, tanpa membacakan bagian yang masih ingin kusimpan sendiri.
'Kalau dia bilang lebih hidup, berarti kau menemukan suara tokohnya,' kata Daren.
'Aku harap begitu. Kadang aku terlalu memikirkan apakah adegan itu romantis sampai lupa bahwa tokohnya harus terasa seperti manusia.'
Ethan menyeka meja. 'Orang tidak selalu mengatakan hal yang tepat saat mereka peduli. Kadang mereka membuat mi atau menunggu sampai seseorang pulang.'
Aku menatapnya. 'Kau sedang bicara tentang tokohku?'
Ia berhenti sebentar. 'Kau yang menulis. Kau yang memutuskan.'
Daren mengangkat alis, tetapi tidak menyela. Aku merasakan pipiku hangat dan pura-pura memeriksa timer.
Kue matang dengan warna lebih keemasan. Kami membiarkannya dingin, lalu memotongnya menjadi bagian kecil. Aroma jeruknya terasa jelas, tetapi tidak mendominasi. Kulitnya tetap renyah dan bagian dalamnya lembut.
'Ini yang paling seimbang sejauh ini,' kataku. 'Rasanya segar, tapi masih terasa seperti kue mentega.'
Daren mencatat. 'Aku setuju. Kita punya calon resep utama.'
Ethan mencoba satu gigitan lagi. 'Kita perlu mengulang takaran besok untuk memastikan hasilnya konsisten.'
'Tentu saja,' kataku. 'Kau tidak akan memilih pemenang hanya karena satu loyang berhasil.'
'Benar.'
'Aku suka kau tetap hati-hati. Tapi jangan sampai kita menguji sampai kompetisinya selesai.'
'Kompetisi masih beberapa minggu lagi,' kata Daren. 'Kita punya waktu untuk menyempurnakan tanpa terburu-buru.'
Mereka membahas kemasan dan cara membawa kue. Aku mencatat beberapa gagasan untuk nama, tetapi kami belum memilih satu pun. Tidak ada keputusan besar malam itu; hanya sebuah resep yang mulai menemukan bentuknya.
Ketika kami selesai membersihkan, Ethan mengantarku sampai pintu. Ia membawa kotak kecil berisi sisa sampel.
'Ini untukmu. Bawa pulang, jangan dimakan semua malam ini.'
'Aku tidak berjanji.'
'Setidaknya simpan sebagian untuk besok.'
'Kau khawatir aku tidak makan teratur lagi?'
'Aku tidak mau kau sakit perut karena makan terlalu banyak kue. Itu akan mengganggu jadwal uji coba.'
'Alasan yang sangat praktis,' kataku, mengulang ucapannya pagi tadi.
Ethan tersenyum kecil. 'Selamat malam, Shopia.'
'Selamat malam.'
Aku pulang membawa kotak kue dan perasaan ringan. Sesampainya di rumah, aku menulis beberapa catatan tentang adegan baru. Kali ini aku tidak mencoba menyelesaikan semuanya sekaligus. Aku hanya membiarkan satu momen kecil—permintaan izin, tawa, perhatian yang disamarkan sebagai aturan—mendorong tokohku ke langkah berikutnya.