Hari ketiga uji resep, aku datang membawa buku kecil dengan halaman yang sudah kubagi menjadi beberapa kolom: aroma, tekstur, rasa, dan kesan setelah gigitan pertama. Daren membaca judulnya sambil menunggu Ethan mengunci pintu toko.
'Kau membuat formulir penilaian?' tanyanya.
'Aku takut komentarku kemarin terlalu umum. Jadi aku mencoba mencatat dengan lebih teratur.'
'Ini lebih rapi daripada catatan resep Ethan,' kata Daren.
'Aku dengar,' ujar Ethan dari dekat pintu.
'Memang sengaja,' balas Daren.
Aku tertawa dan membuka halaman pertama. 'Aku tidak akan menilai siapa yang menulis paling rapi. Aku akan menilai kuenya.'
Ethan meletakkan tiga cetakan kecil di meja. 'Kita mencoba ukuran yang berbeda. Adonannya sama dengan kemarin.'
'Aku boleh membantu membentuknya?'
'Boleh. Gunakan cetakan ini. Aku akan menunjukkan dulu.'
Ia memperagakan cara menekan adonan ke dasar cetakan, tidak terlalu tebal dan tidak sampai robek. Aku mencoba menirunya. Cetakan pertama terlihat tidak rata; sisi kirinya lebih tinggi daripada sisi kanan.
'Kau bisa merapikannya dengan ibu jari,' katanya.
'Ini seperti membuat bingkai kecil.'
'Kurang lebih. Pastikan ketebalannya sama supaya matangnya merata.'
Daren menyiapkan isian sambil mengamati kami. 'Kalau Shopia berhasil, kita bisa menambahkan proses ini ke daftar persiapan.'
'Kalau gagal?' tanyaku.
'Kita tetap mencatat apa yang harus diperbaiki. Di dapur, percobaan gagal tidak sia-sia selama kita tahu sebabnya.'
Kalimat itu membuatku teringat pada naskahku. Emily mengkritik adegan kencan yang terasa datar, dan aku sempat menganggapnya bukti bahwa aku tidak mampu menulis romansa. Mungkin satu adegan yang tidak berhasil tidak menentukan seluruh cerita. Aku perlu mencari tahu bagian mana yang belum terasa hidup.
Ethan mendorong satu cetakan kepadaku. 'Kau melamun.'
'Aku sedang berpikir bahwa resep dan naskah mungkin punya kesamaan.'
'Keduanya perlu dicoba lagi?'
'Dan perlu tahu bagian mana yang kurang, bukan sekadar menyebutnya gagal.'
Daren menunjukku dengan sendok. 'Itu justru catatan yang bagus.'
Kami mengisi cetakan dan memasukkannya ke oven. Sambil menunggu, aku membantu Daren membandingkan jumlah isian. Ia bercerita bahwa ia ingin kue tersebut bisa dibawa pulang tanpa kehilangan bentuk, sebab beberapa pelanggan sering membeli makanan untuk perjalanan jauh.
'Itu detail yang mungkin tak terpikir oleh juri,' kataku. 'Tapi pembeli akan mengalaminya. Kue yang enak saat baru keluar oven belum tentu tetap enak setelah dibawa.'
'Benar,' kata Ethan. 'Kita tidak membuatnya hanya untuk difoto.'
'Kalian bisa menyebutnya kue yang tetap menyenangkan sampai rumah,' usulku. 'Bukan nama final, hanya gagasan.'
Daren menulisnya di catatan. 'Kita cari nama yang lebih singkat nanti. Tapi gagasannya bagus.'
Timer berbunyi. Ethan membuka oven, lalu mengeluarkan tiga cetakan. Kami menunggu agak lama karena sisi luar masih panas. Aku melihat perbedaan bentuknya: cetakan kecil lebih mudah dipegang, sedangkan yang besar tampak terlalu rapuh.
'Yang tengah paling seimbang,' kataku setelah mencicipi. 'Ukurannya cukup untuk satu orang, tapi isiannya tidak mendominasi.'
Daren mengambil satu gigitan lagi. 'Teksturnya juga bertahan.'
Ethan memeriksa bagian bawah kue. 'Panggangannya merata. Kita bisa gunakan ukuran ini untuk uji berikutnya.'
Aku menuliskan hasilnya. Ketika meraih piring, lenganku menyenggol buku catatan hingga jatuh terbuka di lantai. Halaman-halamannya berhamburan, termasuk beberapa lembar berisi potongan dialog dari naskahku.
Aku cepat-cepat berjongkok. Ethan juga bergerak hendak membantu, tetapi aku berkata, 'Aku bisa mengambilnya. Hati-hati, ada catatan pribadi.'
Ia berhenti seketika. 'Baik. Aku tidak akan melihatnya.'
Daren menyerahkan satu lembar yang jatuh dekat sepatunya dengan sisi tulisan menghadap ke bawah. Aku menerima dan mengucapkan terima kasih.
'Kau menulis dialog di sela-sela resep?' tanya Daren.
'Kadang-kadang. Ide suka muncul saat aku sedang mengerjakan hal lain. Tapi ini belum siap dibaca siapa pun.'
'Aku mengerti,' katanya. 'Kalau suatu saat kau ingin pendapat, kami bisa membantu.'
Ethan tidak ikut menimpali. Ia hanya kembali ke buku resep dan menulis ukuran cetakan yang paling berhasil. Aku merasa lega karena ia tidak menuntut untuk melihat tulisanku. Sikap itu membuatku lebih mudah berada di dapur bersamanya.
Setelah semua sampel diberi label, Daren mengusulkan agar resep besok memakai sedikit lebih banyak kulit jeruk. Ethan setuju untuk mencoba satu variasi, tetapi tidak ingin mengubah dua hal sekaligus.
'Kalau kita mengganti terlalu banyak, kita tidak akan tahu perubahan mana yang berpengaruh,' jelasnya.
'Kau memang sangat suka aturan,' kataku.
'Aturan membuat hasilnya bisa dibandingkan.'
'Tapi kadang-kadang orang perlu mencoba sesuatu yang tidak ada di daftar.'
'Itu sebabnya kita membuat satu variasi. Satu, bukan lima.'
Aku mengangkat tangan menyerah. 'Baik, Chef Cross. Satu variasi.'
'Jangan panggil aku begitu.'
'Kau selalu bilang begitu, tapi tak pernah menjelaskan panggilan apa yang kauizinkan.'
'Ethan sudah cukup.'
Daren menutup buku resep. 'Aku akan mencatat bahwa Shopia mendapat izin memanggil pemilik toko dengan nama depan. Ini kemajuan penting.'
'Catat juga bahwa Daren suka membesar-besarkan hal kecil,' kata Ethan.
Kami tertawa. Saat toko benar-benar siap ditinggalkan, Ethan memastikan aku membawa bukuku dan tidak ada lembar yang tertinggal. Ia tidak bertanya isi catatan itu.
**
Di apartemen, aku menyusun kembali halaman penilaian dan meletakkan potongan dialog di folder terpisah. Lalu kubuka dokumen adegan yang dikritik Emily. Di layar, dua tokohku berbicara tentang kencan, tetapi tak ada yang berubah setelah percakapan mereka. Aku menghapus satu paragraf dan menulis ulang reaksi si tokoh perempuan, kali ini berdasarkan apa yang kurasakan saat berada di dapur.
Aku tidak menyalin Ethan atau Daren. Aku hanya mengingat bagaimana perhatian bisa muncul dalam tindakan kecil: berhenti sebelum menyentuh, menghormati catatan pribadi, menawarkan bantuan tanpa memaksa. Adegan itu mulai terasa punya denyut.
Aku terus menulis sampai lewat tengah malam. Ketika akhirnya kusimpan berkasnya, ada pesan dari Emily yang belum kubalas sejak sore: 'Kirimkan halaman yang baru kalau sudah siap. Jangan takut membuat tokohnya bereaksi sungguhan.'
Aku menarik napas, lalu melampirkan adegan revisi. Sebelum menekan tombol kirim, aku membaca ulang sekali lagi. Untuk pertama kalinya sejak mendapat kritiknya, aku tidak merasa sedang memaksakan romansa. Aku hanya membiarkan tokohku mengatakan sesuatu yang benar-benar ia rasakan.